Yang Liyan, yang Artifisial

source google

Persoalan yang umumnya diangkat dalam sebuah fiksi ilmiah adalah benturan, atau setidaknya tegangan, antara yang artifisial dan yang natural. Yang artifisial bisa diwakili oleh robot, teknologi, kecepatan, atau hal-hal futuristik lainnya. Yang natural, bisa diwakili oleh perasaan, manusia, hal-hal yang berkenaan dengan alam, atau alam itu sendiri. Keduanya diposisikan seakan-akan berlawanan, berseberangan; seperti dua poros yang saling berusaha mengalahkan untuk menjadi yang dominan. Pertanyaannya: apakah memang benar seperti itu?

 

Dalam upaya menjawabnya kita bisa menonton anime—film animasi Jepang—berjudul Time of Eve karya Yasuhiro Yoshiura. Di masa depan, di sebuah negeri seperti Jepang, manusia dan robot android hidup dalam satu ruang yang sama, di mana wujud sejumlah robot android ini sudah sangat menyerupai manusia sehingga sulit sekali mendeteksi di negeri itu mana yang benar-benar manusia dan mana yang robot android. Tentu saja, untuk memudahkan pendeteksian tersebut, ditetapkan sejumlah aturan; dua di antaranya adalah kewajiban bagi para robot android untuk (1) mengaktifkan lingkaran bercahaya di atas kepala mereka dan (2) bersikap serta bertingkah kaku layaknya robot ketika mereka sedang berada dalam jarak pandang manusia, saat mereka berada di tengah-tengah manusia. Di film itu, digambarkan, para robot android berada dalam kendali manusia; bahwa secanggih apa pun mereka tetap saja secara hierarki mereka berada di bawah manusia—mereka ada untuk mempermudah manusia hidup. Sebagian robot android “dipekerjakan” sebagai asisten rumah tangga, sebagian sebagai pengawal, sebagian sebagai teman main, bahkan ada juga yang “dipekerjakan” sebagai teman tidur atau kekasih. Yang terakhir ini cukup problematis. Pasalnya, ketika sesosok robot android diposisikan si penggunanya sebagai teman tidur atau kekasih, di titik itu batas-batas antara robot dan manusia menjadi sangat tipis.

 

Di televisi sering tayang iklan yang menunjukkan betapa berkembangnya robot dalam kehidupan manusia adalah sebuah ancaman bagi manusia, bahwa lambat-laun semua yang ada di sekitar manusia bisa menjadi artifisial dan karena itulah manusia akan kehilangan jati dirinya, begitu juga hidup itu sendiri. Sebagian orang, yang tergabung dalam semacam organisasi, secara keras dan konsisten menekan pemerintah untuk membatasi ruang-gerak para robot android di kehidupan manusia. Menarik untuk dipikirkan, dari mana sikap keras ini, juga iklan provokatif tadi, bermula.

 

Time of eve adalah sebuah kafe, lebih tepatnya situasi, di mana para robot android bisa berbaur dengan manusia tanpa perlu menunjukkan identitasnya sebagai robot android—dua hal yang saya sebutkan tadi. Karena mereka sudah sangat canggih dan teramat menyerupai manusia, maka ketika seseorang memasuki kafe tersebut, yang akan menyergap matanya pada pandangan pertama adalah manusia-manusia—masing-masing dengan aktivitasnya sendiri-sendiri. Di kafe ini terpampang aturan tegas mengenai larangan untuk melakukan hal-hal diskriminatif—terutama terhadap robot. Setiap individu yang tengah berada di kafe tersebut, baik itu manusia ataupun robot android, diharuskan saling menghormati satu sama lain, termasuk upaya tiap-tiap pengunjung untuk merahasiakan identitas—apakah ia benar-benar manusia atau ternyata robot android. Khusus yang satu ini, ada aturan teknis yang diberlakukan pengelola kafe, yakni tak bisa dibukanya pintu untuk beberapa lama setelah satu pelanggan keluar.

 

Ketika tengah menikmati time of eve, para robot android bebas melakukan apa pun seolah-olah mereka adalah manusia. Mereka bisa bercanda-tawa, minum kopi, membaca buku, atau bahkan berpacaran. Tentu saja, dikarenakan batas-batas antara manusia dan robot android dihapuskan, mereka pun bisa melakukan hal-hal tersebut bersama manusia. Mereka juga bisa bermain musik atau menyanyi kalau mereka mau. Di salah satu scene, tampak sesosok robot android perempuan tengah memainkan piano, membawakan sebuah lagu, dengan sangat baik.

 

Robot android perempuan yang saya sebut barusan memperoleh kemampuan bemain pianonya dari salah satu penggunanya—majikannya, namun tidak secara langsung. Ia “bekerja” sebagai asisten rumah tangga sebuah keluarga di mana salah satu anggota keluarga, seorang lelaki usia SMA, memiliki bakat sebagai pemain piano dan pernah hampir memenangi sebuah kejuaraan sewaktu kecil. Di rumah keluarga tersebut, tentunya ada sebuah piano, meski si lelaki SMA itu sudah hampir tak lagi memainkannya; pasalnya ia kecewa sebab di kejuaraan yang dulu diikutinya itu ia dikalahkan oleh sesosok robot. (Ya, sesosok robot!) Sewaktu-waktu, pada malam-malam ketika para penghuni rumah sudah tertidur, robot android perempuan itu mencoba-coba bermain piano, membawakan sebuah lagu yang dulu kerap dibawakan si lelaki SMA itu.

 

Ketika scene di mana si robot android tengah memainkan piano tadi muncul, ia membawakan lagu tersebut; dan si lelaki SMA itu, ketika ia kebetulan baru memasuki kafe tersebut, langsung mengenalinya. Ia terkejut, seperti sulit menerima bahwa sesosok robot yang selama ini tampak artifisial di hadapannya, ternyata diam-diam menikmati time of eve dan “menjadi” manusia dan bahkan membawakan lagu itu, membawakannya dengan sangat baik seakan-akan itu sesuatu yang natural bagi sesosok robot android sepertinya.

 

Meski si lelaki SMA itu bukan seseorang yang membenci robot, di dalam benaknya rupanya masih ada semacam pemahaman bahwa sesosok robot tidak boleh melampaui manusia; bahwa perasaan, sensitivitas akan rasa, juga kemampuan bermusik, tidak semestinya ada pada diri sesosok robot. Di sini, kita bisa melihat penolakan tersebut sebagai benturan belaka antara yang artifisial dan yang natural. Namun mencermatinya lebih dalam, kita mestilah memahami bahwa konflik yang sesungguhnya bukanlah benturan antara kedua hal itu, tetapi kecemasan dan perasaan terluka akan terusiknya superioritas. Si lelaki SMA, ketika mendapati robot androidnya membawakan lagu itu dengan sangat baik, terlepas dari ia menyadarinya atau tidak, langsung teringat pada sesosok robot yang mengalahkannya di kejuaraan yang dulu pernah ia ikuti. Perasaan kalah, perasaan terluka, terusiknya superioritas, menjadi hal-hal yang mendorongnya untuk menolak diri sesungguhnya robot androidnya itu—diri yang sangat manusiawi, barangkali. Konflik antara si lelaki SMA dan robot androidnya adalah representasi dari konflik yang lebih luas di dunia nyata: antara yang banyak dan yang sedikit, antara yang dominan dan yang resesif, antara mayoritas dan minoritas, antara yang maju dan yang tertinggal, antara yang umum dan yang liyan.

___

 

Demikianlah kita sampai pada pemahaman bahwa konflik yang sebenarnya adalah konflik antara yang umum dan yang liyan. Selain sosok-sosok artifisial, robot-robot android itu juga sosok-sosok liyan; mereka individu-individu “baru” di sebuah masyarakat yang telah memiliki “ciri” dan “norma” yang kuat; karena itu mereka seperti tak punya pilihan selain mengikuti aturan-aturan yang ditetapkan oleh para manusia—inilah kiranya wujud eksistensi mereka. Setiap upaya untuk memperbaiki eksistensi yang liyan ini, secara sempit dan picik, pada akhirnya dilihat sebagai upaya-upaya untuk memutarbalikkan keadaan, atau setidaknya mengikis superioritas pihak dominan—yang umum itu. Ini sungguh bukan sesuatu yang baru dan bukan pula sesuatu yang asing. Kita, justru, kerap mendapatinya di keseharian kita.

 

Satu hal yang harus kita sadari: kecemasan akan terkikisnya superioritas ini tentulah tidak muncul begitu saja; ia mungkin sesuatu yang berakar pada sejarah kelam, pada suatu peristiwa teramat tak menyenangkan yang pernah terjadi di masa silam, dan karena itu ia adalah wujud dari rasa takut yang pernah konkret. Kecemasan orang-orang Israel atas lenyapnya negara mereka, misalnya, berakar pada Holocaust. Kecemasan orang-orang Palestina atas terusirnya mereka dari tanah kelahiran mereka, misalnya, berakar pada pencaplokan-pencaplokan dan agresi-agresi yang dilakukan Israel dalam beberapa dekade terakhir. Namun bisa jadi, ada juga jenis kecemasan lain, yakni kecemasan yang terlahir bukan dari rasa takut yang pernah konkret, melainkan sesuatu yang lebih subtil, sesuatu yang bergerak di alam bawah-sadar dan karenanya kerap tak disadari, yakni rasa bersalah atas sebuah kekejaman yang dulu sekali pernah dilakukan. Berkembangnya islamofobia di Eropa, misalnya, adalah salah satunya.

 

Dalam Fields of Blood, dengan sangat brilian, Karen Armstrong menjelaskan bahwa kecemasan orang-orang (Kristen) Eropa akan bangkitnya “kekuatan” Islam di Eropa sesungguhnya adalah cerminan dari rasa bersalah mereka yang begitu kuat atas pembantaian tak termaafkan yang dilakukan oleh Tentara Salib sewaktu menaklukkan Yerussalem untuk pertama kalinya pada 15 Juli 1099. Tentara Salib, dalam hal ini, adalah representasi dari Eropa yang maju; dan Yerussalem adalah representasi dari Dunia Arab yang telah kehilangan kejayaannya. Benar memang bahwa orang-orang yang hidup di Eropa saat ini, barangkali sebagian besar, tidak terlibat dalam pembantaian tersebut, namun sayangnya secara kolektif rasa bersalah akan tragedi kemanusiaan tersebut diturunkan dari generasi ke generasi, terlepas dari mereka menyadarinya atau tidak. Demikianlah kecemasan akan bangkitnya “kekuatan” Islam—yang kadung mengingatkan mereka pada Dunia Arab pada masa Perang Salib—senantiasa membayangi orang-orang Eropa, hingga saat ini. Rasa bersalah yang kuat ini pastilah membawa mereka pada semacam situasi karmik yang tidak menyenangkan, bahwa jika dulu mereka yang melakukan pembantaian maka kelak, ketika waktunya tiba, merekalah yang dibantai.

 

Kecemasan-kecemasan seperti itulah kiranya yang kita temukan dalam benturan dan tegangan yang terjadi antara yang artifisial dan yang natural dalam sebuah fiksi ilmiah. Di Time of Eve, misalnya, yang kita tangkap adalah kecemasan manusia akan sebuah situasi di mana para robot (android) menggantikan posisi mereka sebagai yang dominan, sebagai yang umum, dan konsekuensi yang menanti mereka kemudian adalah mereka menjadi yang resesif, yang liyan—sesuatu yang di mata mereka pastilah sulit untuk diterima. Dan jangan lupakan perbuatan-perbuatan buruk yang, dalam proses terwujudnya situasi itu, dilakukan oleh sejumlah manusia terhadap robot (android). Sedikit-banyak, rasa takut bahwa mereka balik dikenai perbuatan-perbuatan buruk oleh para robot (android) pastilah ada; dan rasa takut ini bermula dari lahirnya rasa bersalah. Lantas bagaimana? Haruskah kita, dengan demikian, menjadi sedikit permisif terhadap sikap keras dan penolakan terhadap yang artifisial atau yang liyan itu?

___

 

Dalam Guns, Germs & Steel, dengan sangat sabar dan terperinci, Jared Diamond memaparkan bahwa tergantikannya yang umum oleh yang liyan ternyatalah sudah terjadi sejak masa yang sangat silam, jauh sebelum kehidupan menjadi seperti sekarang ini. Pada kolonisasi pertama, yang dilakukan oleh masyarakat pra-ilmiah yang bahkan belum membentuk apa yang saat ini kita sebut peradaban, manusia-manusia, dari satu kawasan di Bumi, menyebar ke berbagai kawasan lain, menetap di sana, dan mereka berperan besar dalam punahnya sejumlah mamalia besar di kawasan yang baru mereka huni itu—entah itu karena perburuan tak terkendali, pembasmian, atau perusakan habitat hewan-hewan tersebut. Bukankah ini sebentuk tergantikannya yang umum oleh yang liyan yang kita bicarakan di tulisan ini? Di kawasan baru itu, pada awalnya, mamalia-mamalia besar itulah yang umum, dan manusia-manusia itulah yang liyan; dan situasi ini berbalik setelah waktu berlalu sekian lama.

 

Hal serupa terjadi di kolonisasi kesekian ketika peradaban sudah ada, seperti tergantikannya orang-orang Indian di Amerika, atau orang-orang Aborigin di Australia, oleh para pendatang. Kini, absurd sekali jika kita mengatakan orang-orang Indian dan orang-orang Aborigin itulah yang umum di tanah mereka masing-masing; justru, mereka hampir-hampir punah, terhapuskan dari dunia, tergantikan oleh para pendatang itu—yang dalam banyak hal sangat berbeda dari mereka. Berbeda dengan kasus kolonisasi pertama tadi, di kasus ini penggantian yang umum oleh yang liyan dilakukan dengan lebih terstruktur, yang berarti secara sadar, disengaja; dan itu terjadi antar-sesama-manusia. Bahwa kemudian yang liyan ini menjadi yang umum dan yang umum menjadi yang liyan, itulah yang harus kita terima sekarang. Di Indonesia sendiri, dalam konteks yang relatif berbeda, hal tersebut terjadi. Misalnya, tergantikannya agama-agama lokal oleh agama-agama luar seperti Islam dan Kristen sebagai agama-agama yang paling banyak dianut. Saat ini, konyol sekali kalau kita beranggapan bahwa di negeri ini orang-orang Muslim dan orang-orang Kristen adalah yang liyan; padahal dulu, pada awal kemunculannya, memanglah demikian.

 

Apa yang dipaparkan Jared Diamond tersebut mestilah membawa kita pada sebuah pemahaman: tergantikannya yang umum oleh yang liyan adalah sesuatu yang natural, semacam proses alam yang berulang dan kita, manusia, seperti tak punya kuasa apa pun atasnya. Paradoks sekali, mengingat kata liyan ini tadi kita gunakan untuk merepresentasikan yang artifisial. Namun bukankah itu berarti yang artifisial ini, pada akhirnya nanti, akan menjadi yang natural?

 

Tampaknya memang begitu. Jika kita berkaca pada sejarah seni rupa Eropa, misalnya, kita pun akan sampai pada pemahaman tersebut. Dulu, orang-orang di Eropa melukis dengan cara meniru realitas, menghadirkan subject-matter yang (nyaris) sama belaka dengan apa yang kita temukan di realitas. Kemudian muncullah Claude Monet, yang menyamarkan realitas-dalam-kanvas sehingga yang menonjol adalah momen, adalah peristiwa dalam sepetak waktu yang sempit. Kemudian muncul juga Paul Cézanne yang semakin menjauhkan realitas-dalam-kanvas dengan realitas sesungguhnya dengan cara melakukan simplifikasi atas bentuk-bentuk yang ada, menyurutkannya ke bentuk-bentuk geometri untuk kelak disempurnakan oleh Georges Braque dan Pablo Picasso. Kemudian muncul juga Wassily Kandinsky yang melakukan loncatan dengan memberi perlakuan yang berbeda atas warna; ia juga semakin menyurutkan bentuk-bentuk ke wujudnya yang sangat sederhana, yang kemudian menjadi titik tolak dari lahirnya Ekspresionisme Abstrak. Satu hal yang mestilah bisa kita tangkap: apa yang semula liyan itu pada akhirnya akan menjadi yang umum; apa yang semula menggantikan itu pada akhirnya akan menjadi yang tergantikan. Demikianlah, proses ini, sejatinya adalah sesuatu yang natural.

 

Selain itu, kalau kita mau jujur, kita pun akan mengatakan bahwa yang liyan ini tidak melulu sesuatu yang kita anggap buruk atau mengancam, juga bahwa yang umum dan yang liyan, yang natural dan yang artifisial, sesungguhnya bisa hidup bersama-sama, berdampingan, saling melengkapi, terlepas dari siapa yang dominan. Televisi, laptop, kendaraan bermotor, jalan, kompor gas, buku, lotion, gelas, smartphone, baju, kasur, rumah, sepatu, elevator, charger, semuanya pada mulanya adalah yang artifisial; mereka ada karena kita membuatnya untuk memudahkan kita hidup. Dan sekarang, mereka telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari; bahkan kita menjadi kesulitan menjalani hidup tanpa mereka. Itu artinya, yang semula artifisial itu telah dengan sendirinya menjadi yang natural, dan yang menetapkannya adalah kita sendiri. Di saat yang sama, kita pun masih senantiasa berhadap-hadapan dengan hal-hal yang sedari dulu memang natural, seperti udara, kulit, mata, hujan, kaki, angin, lidah, daun, tanah, air.

 

Apabila di kehidupan kita saat ini yang artifisial dan yang natural bisa berjalan berdampingan dan berdampak positif bagi kehidupan kita, maka di masa depan pun mestilah itu bisa terjadi. Dan kita sudah selayaknya memahami bahwa yang artifisial ini, pada akhirnya nanti, akan kita posisikan sebagai yang natural, cepat atau lambat. Yang liyan, yang artifisial, pada dasarnya adalah bagian belaka dari kehidupan yang telah, tengah, dan akan kita jalani, dari peradaban dan sejarah yang tengah terus kita bentuk. Maka menerimanya bukanlah sebuah kesalahan; bukan pula sebuah kebodohan. Kalaupun kita tetap ingin menyikapinya dengan kritis, sikap ini mestilah diarahkan ke mencegah jatuhnya (banyak) korban jiwa dalam proses tergantikannya yang umum oleh yang liyan itu. Dan memang inilah agaknya tantangan kita yang sesungguhnya. Mungkin, kita memang tak punya kuasa apa-apa atas kehidupan ini; bahwa pergantian-pergantian itu akan senantiasa terjadi, dari waktu ke waktu, kendatipun kita tak menginginkannya. Namun setidaknya, berbekal ilmu, informasi, pengalaman dan kedewasaan, kita mestilah bisa mencegah supaya pergantian-pergantian itu tak berlangsung dalam cara-cara yang destruktif.

___

 

Novel, film, manga, lukisan, anime, musik, tari, patung, performance art, puisi, installation art, cerita pendek, semuanya artifisial, namun semuanya telah menjadi bagian dari kehidupan kita dan mungkin akan terus menjadi bagian dari kehidupan kita. Mengapa demikian? Karena kita membutuhkannya. Nirwan Dewanto dalam salah satu esainya di Satu Setengah Mata Mata mengatakan bahwa yang dilakukan seni adalah menggarap ruang-ruang kosong yang tak (bisa) disentuh oleh ilmu pengetahuan, dan saya percaya, sampai kapan pun, ruang-ruang kosong yang tak (bisa) disentuh oleh ilmu pengetahuan akan selalu ada, akan senantiasa ada, dan digarapnya ruang-ruang kosong tersebut oleh seni akan membantu kita memaknai ulang diri kita dan kehidupan yang kita jalani, selain tentunya menghibur kita—sebab seni, tidak seperti filsafat, memiliki healing effect. Maka di titik ini, dengan sendirinya, kita pun memahami satu hal lainnya: yang liyan, yang artifisial, mereka ada untuk membantu kita memaknai ulang diri kita, juga hidup yang kita jalani. Mereka bisa memberi kita kebaikan-kebaikan, dengan kata lain.(*)

 

—Bogor, 5 Maret 2018

 

Profil Penulis

Ardy Kresna Crenata
Ardy Kresna Crenata
Tinggal dan bekerja di Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.