What We Talk About When We Talk About Writing

Haruki Murakami, salah seorang novelis penting asal Jepang menulis sebuah memoar Llri, begitu ia sendiri menyebutnya dan menjudulinya What I Talk About When I Talk About Running judul yang ia gubah dari judul kumpulan cerpen karya Raymond Carver, penulis favoritnya What We Talk About When We Talk About Love atas seizin jandanya Tess Gallagher.

Dalam memoar ini ia bicara banyak hal selain kegemaran dan obsesinya pada olahraga lari. Ia membicarakan juga proses kreatif, tips kesehatan, dan menjaga gairah kreatifnya tetap menyala dalam karirnya sebagai novelis. Oleh sebab gairah kreatif itu lebih mungkin hidup lama dalam tubuh sehatnya, maka ia memutuskan mengubah banyak hal demi memanjangkan usia keduanya: tubuh yang sehat dan gairah kreatifnya dengan pola hidup yang baru. Jadi ia berhenti merokok, melakukan diet, dan terus menjaga berat badannya dalam batas ideal, sehingga setiap hari ia bisa menghadap ke meja kerjanya dalam keadaan bugar dan siap.

Untuk terus mengolah tubuhnya tetap bugar ia telah menyeleksi banyak jenis olahraga yang menurutnya cocok untuk dirinya, ia  memlihi lari sebaab ia merasa itu cocok dengan karakternya yang suka sendirian dan tidak punya hasrat berkompetisi. Dalam sehari ia menempuh lebih kurabg 8-13 km sebelum ia memulai kegiatannya untuk menulis, memulai atau melanjutkan apapun yang menjadi garapannya.

Setelah membaca memoar Murakami ini, saya jadi merasa perlu memasukkan olahraga berlari untuk menyeimbangi semua kebiasan hari-hari saya yang tidak sehat: merokok, begadang, dan jam makan yang kacau.

Saya mencoba olahraga lari dua kali, tapi tidak sanggup menempuh satu kilometer tanpa perasaan gugup. Kelihatan melakukan sesuatu sendirian di keramaian ternyata membuat saya kurang nyaman. Jadi saya pikir mending melakukan hal lain yang memang jadi kesukaan sejak kecil, bermain bola. Di sana ada lari, ada latihan skill individu, koordinasi dengan rekan satu tim dan memikirkan strategi untuk ya minimal tidak kebobolan banyak. Tapi ternyata hal ini tidak bisa dilakukan setiap hari. Pertama, urusan tempat. Kedua, tidak ada teman. Sebagai gantinya saya tetap ikut futsal satu minggu sekali dengan Syamsul dan teman-temannya, jika di Bandung. Atau dengan Misbah dan teman-teman kampusnya saat di Purwakarta

Bicara soal futsal, saya tidak bisa menahan diri dari membicarakan Syamsul. Ia teman saya yang juga punya gaya hidup mirip saya: sedikit menulis, jarang membaca, banyak merokok, kerap begadang, dan sering tidak punya uang untuk beli makan. Tetapi di lapangan futsal, melihat Syamsul bekerja adalah kesenangan tersendiri. Sepakan kaki kanannya keras dan akurasinya lumayan. Dengan kecepatan berlari dan kontrol bola yang baik, ia pandai membangun serangan dari sayap kanan atau kiri, untuk kemudian mengumpan silang. Sekilas gaya bermainnya mirip Andreas Iniesta. Gerakannya irit tapi efektif, seperti gaya menulis Hemingway, driblenya indah seperti detil menulis Excupery dalam pesawat Pos Selatan, dan finishingnya menakjubkan seperti film-film yang disutradarai David Fincher.

Tungkai kakinya yang kecil dan penuh serta perawakannya yang relatif kurus dan kecil benar-benar lincah. Dia seperti tidak pernah berambisi melewati semua pemain lawan, ia cukup lolos dari satu atau dua pemain sehingga mengacak-acak tatanan pemain di daerah belakang sekaligus memberikan dua atau tiga detik untuk teman setimnya mencari posisi yang pas kemudian mengumpan atau melepas tembakan.

Jika bola sedang tidak ada di kakinya ia akan memposisikan dirinya di ruang-ruang kosong yang sulit diduga. Kadang di sisi jauh gawang kadang di tengah atau di belakang jauh, namun lepas dari kerumunan lawan. Sehingga jika bola sampai lagi ke kakinya ia akan mengubah pola serangan secara drastis dan membuat quick counter yang cepat dari sisi itu.

Sayangnya Syamsul adalah pemain yang terlampau tenang jika ruang-ruang umpan benar-benar buntu. Ia seperti membiarkan bola lepas dari kakinya begitu saja alih-alih membuat manuver individu sampai melepas tembakan. Tapi mungkin karena ia berpikir melepas bola akan melonggarkan tumpukan pemain lawan di daerahnya, sehingga jika musuh melakukan kesalahan dalam serangan tersebut, ia dan timnya akan menciptakan ruang baru untuk melancarkan serangan cepat dari daerah mana pun yang ia kira efektif. Tapi tetap saja itu lebih beresiko daripada melepas tembakan ke mana pun asal ke mulut gawang.

Sebentar, ini apaan deh? Bukannya kita lagi ngomongin buku Murakami?

Murakami tidak saja menulis memoar larinya sebagai cara menjaga kebugaran tubuh dan gaya hidup sehat, ia juga menitipkan pesan penting bagaimana dirinya bisa bertahan sebagai penulis,sekian tahun setelah ia tidur-tiduran dan melamunkan dirinya mennjadi seorang penulis di sebuah lapangan baseball. Minatnya pada lari maraton kukira mencerminkan banyak hal dalam proses kepenulisannya. Daya tahan dan kesabarannya.

Ditulis dengan gaya memoar yang mengalir, secara pribadi buku ini seperti menegaskan pesan penting dan jelas sekali. Tidak hanya untuk penulis, tapi untuk semua orang yang berkarir di bidang-bidang yang memerlukan kreativitas. Tidak hanya soal menjaga kesehatan tubuh, tapi juga kesehatan pikiran. Seperti penegasan dari tubuh yang sehat adalah wadah bagi pikiran  yang sehat. Sebab dari kedua hal itulah (kemungkinan besar) karya-karya terbaik lahir.

Buku ini secara pribadi membuatku merasa terhubung dengan Murakami. Meski kami berbeda dalam memilih jenis olahraga, tapi satu hal yang sama dalam pandangan kami (dan itu baru bagiku). Bahwa olahraga adalah bagian dari tulis menulis, dan tulis menulis adalah bagian dari hidup itu sendiri. Meski aku masih belajar menulis, aku sepakat pada apa yang Murakami tulis sebagai berikut:

“Kamu mungkin memang tidak menggerakkan badan saat menulis, tapi dalam dirimu ada proses kerja yang dinamis dan sangat melelahkan… seorang penulis akan memakai suatu alat, narasi. Dan berpikir dengan seluruh tubuhnya… bahkan seringkali sampai titik penghabisan.”

Jadi, untuk kawan-kawan yang menulis. Pesan Murakami dalam buku ini sebenarnya sederhana. Hanya karena kamu tipikal manusia artsy, bukan berarti kamu tidak bisa tetap healthy.

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.