Violet Evergarden: Pencarian Makna Kata Manusia

Ini mungkin agak mendadak, tapi coba pikirkan baik-baik pertanyaan sederhana ini. Pertanyaan ini sederhana: “Apa yang membuat ‘manusia’ disebut sebagai manusia?”

Dalam berbagai disiplin ilmu, manusia memang kerap diidentifikasikan sebagai binatang yang memiliki kecerdasan. Namun dalam praktiknya, tentu saja manusia lebih dari itu. Bila manusia merupakan binatang yang memiliki kecerdasan, dalam artian mampu bekerja secara efektif dan memiliki progres positif, lantas apa yang membedakan mereka dengan robot maupun android?

Violet mengajukan kegelisahan tersebut. Terlahir tanpa orang tua, gadis yang awalnya tidak memiliki nama ini ditemukan terlantar oleh Dietfierd Bougainvilia, seorang kapten angkatan laut kerajaan Leidenschaftlich. Ia kemudian membawanya ke barak militer. Saat meletusnya perang antara negara Gardariki dan kerajaan Leidenschaftlich, Dietfierd pun mempergunakan gadis itu sebagai alat perang dan ia akhirnya tumbuh menjadi seorang prajurit yang kuat dan sangat diperhitungkan. Namun sekali ia dianggap alat, ia tetaplah alat menurut pandangan Dietfierd.

Suatu hari, akibat membunuh anak buah Dietfierd saat hendak diperkosa, gadis kecil berambut pirang itu pun dibuang. Lebih tepatnya diberikan kepada Gilbert Bougainvilia, adik Dietfierd, sebagai hadiah.

Akan tetapi tidak seperti kakaknya, Gilbert memperlakukan gadis tersebut dengan sangat manusiawi. Mengajarinya baca-tulis, memenuhi kebutuhannya sebagai ‘seorang’ wanita, hingga memberikan nama Violet Evergarden. Sejak itu pula, Violet selalu mendampingi pria itu hingga orang-orang menyebutnya sebagai anjing Gilbert.

Saat perang terakhir, Gilbert dan Violet berada dalam posisi terpojok. Violet kehilangan kedua lengannya, sementara Gilbert tidak bisa lagi berjalan. Violet mencoba menyelamatkan Gilbert dengan menarik baju Gilbert dengan giginya –sebuah pemandangan yang sangat memilukan. Namun, sebelum Violet tidak sadarkan diri karena kelelahan, Gilbert memberikan perintah untuk gadis tersebut. Perintah yang membuat jalan hidup Violet berbalik 180 derajat.

“Violet, kau harus terus hidup dan bebas……. Dari lubuk hati terdalamku, aku mencintaimu.”

Mata Violet seketika membulat. Namun sayangnya ia tidak mengerti makna cinta. Ia memang mendengar kata yang keluar dari mulut Gilbert dengan sangat jelas, tapi ia tidak memiliki pemahaman sedikitpun mengenai kata itu. Karena tanpa dia sadari sejak dulu, ia telah menanggalkan hasrat, perasaan, cinta dan emosinya agar ia berguna bagi tentara.

Padahal hal-hal itulah yang membuat manusia dapat disebut sebagai manusia seutuhnya. Tanpa hasrat, manusia tidak ubahnya sebuah boneka yang tidak bergerak kecuali atas kehendak yang menggerakkan. Tanpa emosi dan perasaan, manusia juga hanya akan seperti robot mekanik yang bekerja sesuai sistem, tanpa ada kepedulian terhadap hal lain selain urusannya sendiri. Dan tanpa cinta, manusia akan kehilangan motivasi untuk bertahan hidup di dunia yang penuh dengan kekejaman ini.

Barangkali, Kana Akatsuki, pengarang novel dengan judul yang sama dengan nama tokoh protagonis anime ini sudah muak dengan kehidupan manusia modern. Gaya hidup yang kini serba materialistis, telah membuat mayoritas dari mereka kehilangan emosi, perasaan, cinta, bahkan kepekaan manusiawi mereka. Ia kemudian mencurahkan kemuakan tersebut dalam sebuah novel, yang dengannya ia meraih hadiah utama dalam anugerah novel animasi 2014.

Dengan krakter Violet, Kana seolah ingin menyampaikan, betapa berat dan menyakitkannya hidup tanpa hasrat, perasaan, dan pemahaman akan cinta. Hal tersebut tergambar lewat perjuangan Violet setelah masa perang yang sebenarnya justru menjadi inti cerita. Demi mengerti makna kata cinta, Violet yang masih menganggap Gilbert hidup di suatu tempat, memutuskan untuk menjadi seorang Auto Memory Doll yang bekerja untuk melayani orang dalam menuliskan surat sebagaimana yang mereka kehendaki.

Bagi Violet, pekerjaan tersebut ternyata tidaklah mudah. Seorang Auto Memory Doll tidak hanya dituntut untuk menulis dengan cepat di atas mesin ketik. Mereka juga dituntut untuk memiliki kecakapan bahasa dan kekayaan kosa kata yang luas demi hasil yang memuaskan. Syarat-syarat tersebut sebenarnya sudah dipenuhi dengan sempurna oleh Violet yang memungkinkan dirinya menjadi seorang Auto Memory Doll terbaik. Kecuali satu hal; ia tidak bisa memahami perasaan yang dimiliki oleh kliennya. Karena itu, tidak sedikit klien Violet yang kemudian marah akibat terlalu vulgar dan blak-blakannya surat yang ia tulis.

Dan manusia, selalu membutuhkan proses untuk menjadi lebih baik. Kana Akatsuki menanamkan pemahaman itu lewat karakter Violet yang sedikit demi sedikit mulai menghidupkan kembali kepekaan rasaannya. Lantas, karena pekerjaannya sebagai Auto Memory Doll, Violet pun pergi ke banyak tempat untuk memenuhi panggilan para klien dan berjumpa dengan banyak orang. Setiap perjumpannya pun tidak pernah hambar dari nilai-nilai cinta dan kemanusiaan, Violet juga selalu mendapatkan banyak ilmu baru yang tidak pernah ia dapat selama di militer. Secara halus, boleh dikatakan Kana Akatsuki menggiring Violet selangkah demi selangkah lebih dekat pada tujuannya; memahami makna kata cinta.

Dengan ilustrasi halus yang digambar oleh Akako Takase dalam novel aslinya, Kyoto Animation pun mengadaptasi Violet Evergarden menjadi sebuah seri anime sebanyak tiga belas episode yang tayang di Jepang sejak Januari hingga April 2018. Publik pun menerima dengan baik, bahkan My Anime List memberikan rating setinggi 8,5 untuk film animasi ini. Grafiknya cantik, detail latar belakang abad pertengahannya realistis, kesemua itu teramu demi memanjakan para penikmat film bergenre Slice of Life seperti ini.

Alurnya sendiri cukup rapi dan menarik. Setiap episodenya, akan ada secuil cuplikan masa lalu Violet dengan Gilbert yang kemudian akan sempurna pada salah satu episodenya. Alur yang lamban dengan iringan musik yang melankonis bukanlah sebuah cacat, akan tetapi adalah sebuah jaminan bagi Anda untuk tidak melupakan tisu saat hendak menyaksikan. Karena saya yakin, di antara ketiga belas episodenya, akan ada barang satu episode yang menyayat hati dan membuat mata Anda sembap. Atau paling tidak, Anda akan segera memikirkan kembali pemahaman kita pada makna kata cinta? Dalam kata lain ‘apa yang menjadikan manusia bisa disebut manusia’.

Profil Penulis

Munandar Harits W
Munandar Harits W
Pria kelahiran Boyolali 15 Juli 1996