Via Vallen dan Netizen Kita yang Misoginis

Ilustrasi Via Vallen yang Kami Idolakan (gambar diambil dari sini)

Akhir-akhir ini, netizen kita di instagram ramai dengan kasus sexual harrasment yang menimpa penyanyi dangdut koplo idola bangsa. Siapa lagi kalau bukan Via Vallen.

Kemarin lusa Via memosting screenshoot DM yang tidak menyenangkan hati di InstaStory-nya. Isi DM itu, terlepas dari bercanda atau cuma iseng-iseng berharap ada hadiahnya, si pengirim memintanya untuk bernyanyi di atas tempat tidur dengan baju seksi.

Bahkan ketika terjadi balas-balasan pesan Via Vallen karena si pemain sepak bola profesional tersebut tidak terima “permintaan”-nya disebarluaskan, padahal Via masih berbaik hati menutupi identitas pria ini.

Berita-berita yang menyebar di Instagram melesat sangat cepat, Via Vallen update InstaStory, 10 detik kemudian sudah menyebar ke penjuru bumi.

Titik permasalahannya adalah, isi dari DM tersebut bukanlah tawaran konser, MLM pemutih badan atau tawaran endorse yang harganya bikin kaya. Melainkan ajakan tak senonoh yang diduga dilakukan oleh pemain sepakbola centang biru yang sok kegantengan.

Tapi apa yang sedikit mengagetkan adalah, ada saja reaksi-reaksi yang membuat sebal.

“Alah, cuma gitu doang ngambek, sok jual mahal.”

“Ya ampun cantik-cantik tapi kasar, padahal siapa tahu cuma iseng.”

“Gue aja yang berkali-kali diajak tidur cuek aja, nggak pernah seheboh ini. Lebay”

Kalimat-kalimat di atas adalah salah sekian dari beragam jenis reaksi netizen yang menurutku menarik untuk dijadikan bahan penilaian kita tentang bagaimana warganet kita memandang persoalan-persoalan perempuan.

Komentar-komentar yang berhamburan di kolom komentar ternyata—selain paid promote, tapi kalimat-kalimat yang menyepelekan “kasus” tersebut dan cenderung memojokkan korban.

Sexual harrasment atau yang biasa kita kenal dengan pelecehan seksual, agaknya tidak pernah menjadi perhatian khusus. Maksudnya, orang-orang selalu memberi celah untuk memberi pemakluman terhadap pelakunya, juga membiarkan orang melakukannya. Padahal, semakin kita diam maka pelaku akan lebih berpeluang besar dalam menjalankan misinya pada calon korban lain, dan mungkin jauh lebih parah lagi.

Data komnas perempuan, selama 2017 ada 348 ribu kasus kekerasan terhadap perempuan yg dIdominasi oleh KDRT dan pelecehan di dunia cyber.

Sexual harrasment atau pelecehan seksual terbagi menjadi beberapa bagian, umumnya terbagi menjadi dua:  pelecehan non-verbal dan  pelecehan verbal.

Pelecehan non-verbal adalah pelecehan yang berbentuk tindakan. Seperti: memukul, menyentuh, anggota tubuh yang pribadi tanpa persetujuan subjek terkait. Sedangkan pelecehan verbal, bisa berbentuk teks atau dilontarkan langsung secara lisan. Seperti apa yang dialami oleh Via Vallen belakangan ini.

Anehnya, reaksi netizen Indonesia (meski tidak semua) selalu mengarah pada hal-hal yang tidak penting.  Terutama jika kita merujuk komentar-komentar di atas ada kecenderungan untuk memojokkan Via. Dalam hal ini memojokkan korban dan menyepelekan persoalan yang sesungguhnya—ruang aman bagi perempuan dan haknya membela diri.

Justru persoalan ini tidak boleh disepelekan karena akan mempersempit ruang aman dan nyaman perempuan. Kesadaran-kesadaran yang harus dibangun untuk mencegah terjadinya pelecehan perlu ditanamkan pada siapapun, tanpa memandang gender. Agar tidak ada lagi pemakluman dan menganggap pelecehan pun adalah masalah yang perlu diwaspadai, bahkan dari benih-benihnya.

Via Vallen dan reaksi-reaksi yang memojokkannya adalah satu contoh saja. Hal ini pasti juga dialami oleh perempuan-perempuan yang bukan artis, tapi tidak berani bersuara karena adanya mentalitas warganet yang misoginis seperti ini.

Pelecehan seksual adalah urusan publik meskipun dilakukan di ruang lingkup pribadi. Jalan ninja terbaik adalah dengan bersuara! Melawan para lelaki kerdus dengan berani. Saya percaya, Tuhan pasti menitipkan unsur-unsur galak pada perempuan di muka bumi ini.

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Unsur biotik yang menyenangkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.