Untuk yang Mengira Catcalling itu Biasa Saja

Setiap perempuan kukira pasti pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti catcalling (entah yang Cuma siul-siul atau manggil-manggil tidak jelas) di tempat-tempat umum. Entah ketika pulang sekolah, bermain, bekerja atau sekadar berkunjung dari rumah saudara. Entah pakaiannya sopan,agak sopan, atau dikira tidak sopan sekalipun. Begitupun denganku.

Siang cerah mulai berganti sore gerimis ketika jam pulang kerjaku telah tiba. Suasana di jalan masih ramai. Banyak siswa sudah pulang terlebih dahulu sedangkan sisanya menunggu penjemput depan gerbang sekolah atau keperluan lainnya.

Jadi hari itu aku menunggu angkot yang entah bagaimana selalu memakan waktu. Dari yang makan waktu di hitungan menit, bahkan aku pernah menunggu hingga berjam-jam saat mereka sedang berdemo dan mendadak ‘mogok narik’.

Di tempatku menunggu saat itu terdapat segerombolan anak-anak muda sedang berkumpul, sekadar duduk mengobrol dan bercanda. Aku tidak tahu sejak kapan mereka bermarkas di situ, sebab sebelumnya aku yakin tidak pernah melihat mereka di situ. Aku pikir itu tidak masalah hingga mereka terasa mengusik. Pertama, mereka mengucap salam. Kujawab seramah yang kubisa. Namun, hal selanjutnyalah yang kukira tepat disebut usikan. Mereka berkata dengan santainya padaku, “Teh cantik sini teh nunggu angkotnya duduk gandengan sama kita. Teh sini atuh teh. Pegel loh berdiri mah. Teh sini biar gak cape kita gendong, Teh cantik, budek iya teh?”.

Aku yakin banyak perempuan pasti pernah mengalami hal ini. Mungkin bisa saja itu bagian dari caranya mengajak bercanda, tetapi itu kan tidak lucu.

Bukan bermaksud sombong. Tetapi aku menyesali telah sempat menjawab sapaan mereka. Sapaan seperti itu sungguh sangat sering kuterima dan kuyakini banyak yang pernah merasakannya. Kadang terdengar seperti pujian, tetapi jelas itu bukan pujian.

Aku tidak menanggapi saat mereka jelas dengan kencang tertawa bersama teman-temannya dan aku hanya bisa mengelus dada. Hal selanjutnya yang kutahu, ketika datang sebuah angkot yang bukan tujuanku, tiba-tiba mereka berteriak… “Bukan Mang, si teteh mah mau sama kita aja di sini…” lalu kembali tertawa-tawa. Sedangkan aku hanya mampu tersenyum dan menggeleng ringan pada supir angkot yang menatapku dengan tidak ramah.

Di dalam hati aku cuma bisa bilang… Please, kelakar macam apa itu. Pertama kalian menyapa dengan jenis religi lalu beramah tamah seolah memuji dengan logat merendahkan, sekarang ditambah dengan menyela bak padus dan sok tahu. Lelucon kalian membuatku semakin yakin bahwa kalian bukan lelaki yang  pandai menjaga ucapan dan mungkin juga pandangannya.

Aku menguatkan kakiku untuk tetap berdiri walau hatiku mulai resah atas mereka yang ada di belakangku. Beruntung, angkot yang aku tunggu datang dan tanpa intruksi lagi salah satu dari mereka berteriak “Nitip si Teteh iya Mang”. Demi apapun itu sungguh sangat tidak sopan. Sesaat setelah memasuki angkot aku mengamati mereka dengan tatap sebal. Mereka tampak seperti anak yang masih SMA yang berarti mereka jelas terpelajar dan seharusnya mereka sadar bahwa yang mereka lakukan itu adalah catcalling.

Apa itu Catcalling? Bukan, bukan panggilan untuk kucing. Dirujuk dari kamus Oxford, catcall adalah tindakan siulan keras atau sebuah komentar dalam konteks seksual oleh laki-laki pada seorang perempuan yang melintas. Di negara dengan budaya patriarki yang kuat seperti di Indonesia, catcalling merupakan tindakan yang sering dianggap wajar dengan berbagai alasan. Alasan yang paling umum adalah sebuah bentuk lawakan yang tidak serius. Catcalling bukan hal serius? Yang benar saja, sedang yang menjadi objek catcalling merasa tidak nyaman, risih bahkan terancam. Serius, ini bukan hal yang serius? Aku pikir bukan lagi saatnya  menganggap catcalling itu biasa atau untuk bercanda karena catcalling merupakan bentuk pelecehan yang dikutip pada laman  dan aku pun setuju dengan  tulisan pada laman tersebut.

Berikut adalah alasan catcalling sebagai pelecehan seksual: pertama, membuat wanita merasa tidak aman. Coba bayangkan pasangan wanita atau anak perempuan kamu digoda ketika berbelanja atau berjalan di trotoar. Tanyakan pada mereka, apakah mereka merasa terancam? Tentu saja ya. Bahkan pria sekalipun merasa tidak aman ketika diperhatikan oleh orang asing, seolah-olah mereka (orang asing) akan melakukan tindakan yang tidak dinginkan. Kedua,  bukan merupakan pujian yang tepat. Jangan menyangka bahwa wanita yang menjadi korban pelecehan lewat perkataan para laki-laki asing yang tidak dikenalnya merasa senang ketika dipanggil “Hey cantik mau ke mana?” sini teteh cantik, dll.”

Setiap orang yang tahu cara bersikap hormat tidak akan melakukan tindakan seperti itu untuk memuji wanita dan wanita pun tidak merasa dipuji dengan tindakan tersebut. Ketiga, hal tersebut tidak memiliki tujuan yang jelas. Jika maksud para laki-laki yang melakukan catcalling adalah untuk menjadi ramah, caranya tidak tepat. Lantas, apa tujuan sebenarnya dari catcalling? Apakah untuk mengekspresikan birahi yang tidak terkontrol? Nyoba-nyoba berhadiah,  kali aja bisa diajak tidur? Atau ingin menunjukan dominasi terhadap kaum wanita? Kemudian Anda merasa gagah dan keren mungkin. Tidak,  itu norak.

Jelas tindakan ini tidak memiliki tujuan yang jelas, tetapi akibatnya jelas melecehkan para wanita.

Jadi masih tetap mau mengatakan dan menganggap bahwa catcalling bukan hal yang serius, hanya bercanda atau lawakan dan tidak usah dicari solusi seriusnya? Aku rasa yang menganggap catcalling hanya bercanda tidak punya itikad baik yang serius dalam urusan menghargai wanita.

Sebagai seorang guru aku pikir bahasan soal menghargai wanita itu adalah point yang sama pentingnya seperti menghargai orang tua, guru, dan sesama. Walaupun aku juga tahu pelajaran menghargai dan memperlakukan seorang wanita bukan menjadi prioritas di sekolah. Tetapi pasti satu di antara banyak guru itu akan ada yang menyinggung hal itu. Lalu apakah kalian lupa atau absen pada saat itu?

Aku mungkin belum menjadi guru yang baik untuk murid-muridku, namun sebagai guru yang mengajar anak SMA aku memahami taraf kenakalan remaja, tetapi kalau boleh jujur, muridku 100% lebih baik daripada mereka yang kutemui kali ini. Entah jika sedang di jalanan apakah mereka juga seperti itu, semoga tidak. Lalu sebaiknya kuteruskan kembali perjalanan pulangku.

Di dalam angkot aku sedikit merasa lega. Terbebas dari keusilan mereka yang kuduga usianya jauh di bawahku seperti angin segar saat ini. Andai kalian tahu aku ini seorang guru, masihkah kalian akan bersikap seperti itu? Aku sungguh tidak habis pikir dengan perbuatan mereka. Apa yang mereka cari dari melakukan hal seperti itu? Perhatiankah? Atau mungkin mereka benar-benar tidak tahu bahwa mereka telah melakukan pelecehan? Entahlah.

Profil Penulis

Ayi Nur Hasanah
Ayi Nur Hasanah
Ketua tercantik di @pustakaki dan aktif di beberapa komunitas literasi di Purwakarta