TOA dan Pahala

Beberapa minggu yang lalu saya mengunjungi sebuah pondok pesantren untuk ikut bermalam. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan santri saat itu tidak berbeda dari pesantren pada umumnya.

Namun, ada satu hal yang membuat saya bertanya-tanya; hubungan toa alias microphone dengan pahala.

Hampir setiap sore, mesjid pesantren X ini selalu mengumandangkan pupujian atau syair-syair bahasa arab (yang artinya saja mereka tidak tahu, terkadang ada lagu arab bertema cinta kepada sosok istri yang mereka anggap itu sholawat) dengan menggunakan toa masjid, vokalisnya terdiri dari santri-santri itu sendiri, kadang ada anak kecil yang kedengaran rebutan mic. Memang, kebiasaan seperti ini dianggap hal yang lumrah karena, selain menambah hangat suasana, kegiatan ini diperlukan agar nilai-nilai kereligiusan pondok pesantren bisa terlihat oleh masyarakat.

Namun, kebetulan vokalis bersuara lumayan yang biasa memegang microphone digantikan oleh santri lain yang aduhai suaranya. Saya sampai terganggu, ditambah pupujian yang dilantunkan ngawur dan sambil ketawa-ketiwi.

Saya tanya kepada anak lain, suara siapa yang sedang menggema di toa luar ini? Mereka menjawab ini suara fulan yang memang biasa dapat giliran. Tapi kali ini kesannya seperti “mempermainkan”, nada tinggi dikasih cengkok, belum lagi ada acara “titip salam” untuk santri puteri, sudah macam radio saja.

Karena tak tahan, keesokan harinya saya bertemu dengan ketua santri dan menyarankan agar aktivitas menggema di sore hari itu bisa lebih didisiplinkan lagi dan tidak sembarangan orang bisa ambil giliran, apalagi jika menyampaikan pesan dalam syairnya sembarangan pula. Tapi saya malah dinasihati balik. Katanya semua yang disampaikan dalam bentuk syair lebih baik diambil esensinya, bukan kualitas suara karena ini semua semata-mata hanya untuk mencari pahala dan ridho Allah.

Setelah mendengar penjelasan dik santri ini, saya sedikit termenung dan teringat kasus pasal karet penistaan agama, Ibu Meiliana yang mengeluhkan suara toa masjid yang terlalu keras dan agak mengganggu.

Keluhannya tersebut ia sampaikan pada salah satu pemilik warung, pemilik warung menyampaikan lagi pada orang lain sampai seterusnya dan terdengar oleh masyarakat setempat. Masyarakat reaktif, dan entah bagaimana mereka marah. selanjutnya yang terjadi, terjadilah. Sebuah vihara dan rumah ibu Meilina dibakar. Tidak cukup sampai di situ Ibu Meiliana dimejahijaukan.

Di berbagai sosmed, reaksi dari para netizen sangat beragam, pembelaan yang dilakukan untuk pembebasan Ibu Meiliana mulai bertambah, bahkan menteri Agama Lukman Sjaiffudin bersedia untuk mendampingi proses hukum Ibu Meiliana.

Jika kita cermati lagi. Padahal Azan, ngaji, dan lainnya merupakan syiar, bukan teriakan. Mestinya ia dilakukan secara baik-baik. Dan toa hanyalah alat. Ketika toa ini malah mengalihkan maksud sesungguhnya dari syiar, maka kita perlu bermusyawarah kembali. Bakal jadi masalah jika syiar dan toa kerap diidentikkan satu sama lain. Dalam kasus Meiliana tampaknya kita telah mengabaikan inti dari syiar. Semuanya harus di-toa-kan. Sehingga ada saja yang merasa terganggu, dan lebih dari itu, bukannya dibicarakan baik-baik dan dimusyawarhkan tapi malah dibalas dengan amarah.

Pun sama kaitannya dengan kejadian yang saya alami, seindah apa pun pupujian dan sholawat yang dilantunkan, jika kesannya malah “memaksa” atau lebih parahnya lagi mempermainkan, maka nilai menebar kebaikannya akan kandas, lur.

Ini bukan perkara pahala atau dosa, tapi kita juga mesti paham betul kalau kesadaran diri untuk tidak menganggu ketenangan orang juga perlu diperhatikan. Bukannya malah mengedepankan ego apalagi dengan mengatasnamakan agama.

Kasus-kasus seperti Ibu Meiliana ini terkadang membutakan mata kita tentang alasan-alasan mengapa kita tak perlu memakai embel-embel dosa dan pahala menyampaikan pendapat.

Semoga tidak ada lagi kasus-kasus serupa Ibu Meiliana yang membuat hukum tampak ngawur, dan berdampak buruk pada ketenteraman kaum minoritas yang bermukim di wilayah orang-orang muslim.

Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya, jika tidak, negeri ini akan terus menjadi negara dengan tulang yang keropos: narasi toleransi yang aneh–yang selalu menguntungkan mayoritas.

Mungkin ada maksudnya kenapa dahulu Bilal bin Rabah, muazin di masa Rasulullah Saw tidak pakai alat tambahan (device) apapun. Ya minimal corong pengeras suara. Padahal kita tahu di zaman itu corong pengeras suara manual bisa dibikin, kan?

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Unsur biotik yang menyenangkan