Tipe-Tipe Mahasiswa Jurusan Futsal

 

Ketika futsal menjadi jalan eksistensi mahasiswa, maka juara satu menjadi jati diri yang sampai mampus mesti diperjuangkan. Tubuh futsal itu jadi kendali eksistensi seseorang, lalu bagaimana bentuknya jalan pikirannya?

Tidak ada pemandangan semengerikan ini sejauh pengamatan saya: ketika futsal di dunia perkuliahan menjadi alasan utama meningkatkan harga diri mahasiswa. Maka bertanding mesti sampai mati dilakoni agar gelar juara bisa dicapai. Harga dirinya bisa dicapai.

Apa dampaknya jika ia menjadi juara? Maka harkat martabatnya meningkat, martabat angkatannya naik harga, dan akhirnya dia di mata ciwi-ciwi, meningkat. Oh, ciwi-ciwi selalu jadi puncak peradaban lelaki! Hal ini membuktikan bahwa standar lelaki keren bagi ciwi-ciwi masa kini bergeser. Masihkah lelaki yang keren adalah mahasiswa yang pemikir? Seperti Soe Hok Gie, misalnya. Sepertinya tidak lagi. Bagi ciwi-ciwi, lelaki yang berfutsal dengan baik, barulah memesona.

Saya akan menyinggung beberapa tipe mahasiswa jurusan futsal ini berdasarkan pandangan pradigmatiknya terhadap futsal dan dunia.

1. Style di atas Segalanya
Pemain seperti ini amat mempertimbangkan harga sepatu dan jenis jersey terbaru. Tingkat harga penampilannya menentukan tingkat kepercayaan dirinya dalam berlaga di lapangan. Semacam senjata utama untuk menarik perhatian penonton (terutama yang ciwi-ciwi). Sialnya, percaya pula bahwa semua itu berpengaruh pada performa futsalnya.

2. Pemburu Piala
Mereka percaya, mendapatkan piala adalah hal utama dalam bermain futsal. Futsal bukan lagi permainan yang dapat menyehatkan tubuh. Tetapi futsal adalah pertaruhan harga diri kemenangannya, meski harus mempertaruhkan kesehatannya. Hingga ketika ia kalah, karena permainan timnya buruk, ia akan mulai memusatkan perhatiannya pada piala dan kemenangan itu. Akhirnya segala cara dihalalkan, yang penting menang.

3. Berkelahi Supaya Menang
Cara untuk menang yang paling efektif bagi mereka adalah berlaku kasar dan perkelahian. Kekalahan karena permainan buruk, mesti diatasi dengan memunculkan persoalan, mencari-cari alasan, bahkan pada jenis pemain yang parah di fase ini, mereka langsung main kasar dan berkelahi tanpa alasan. Tak apa kalah skor, asalkan mereka masih bisa menunjukan diri di hadapan lawannya, dia punya tenaga yang besar untuk membuat wajah lawannya babak belur. Dan timnya amat solid dalam hal mengeroyok orang.

4. Berkicau-kicau
Mereka selalu mengaduh dan menyalahkan segala hal, padahal permainan mereka memang tidak begitu bagus. Wasit jadi sasaran utama kicauannya. Dari sini, mereka jadi seolah legal untuk marah, kasar pada lawan main, dan menghentikan pertandingan dengan perkelahian.

5. Bawa Pacar
Pemain yang melakukan hal-hal ini, biasanya ditenggarai karena malu di hadapan pacar yang dibawanya untuk menyaksikan performa dan kemenangannya. Kenapa ia membawa pacar? Oh sebagaimana syarat sah nikah, menang futsal juga perlu saksi.

6. Cari Pacar
Nah, ada pula para pemain yang melakukan kelakuan unik pada no 1-4 di atas, dikarenakan ia mesti punya pacar. Ah, futsal memang dijadikannya cara untuk berolah raga, agar raganya siap mencetak gol di gawang yang lebih intim di dalam pikirannya. Betapa lelaki ini tipe lelaki carper. Tak heran dia banyak gaya saat bermain.

He, adakah yang salah dengan semua tipe di atas? Tidak salah. Itu lumrahnya hari ini jika bermain futsal ala masyarakat Indonesia.

Lantas apa masalahnya? Masalahnya jika mahasiswa yang mestinya berupaya menggali eksistensi di bidang studinya malah melarikan diri dan mencari eksistensi lewat futsal saja. Kenapa tidak sekalian jadi pemain futsal serius saja? Atau mereka memang akan jadi pemain futsal serius? Iya mau serius? Kok saya tidak melihat tipe-tipe mahasiswa futsal lovers di atas nampak serius meniti kariernya di futsal ya?

Profil Penulis

Zulfa Nasrulloh
Zulfa Nasrulloh
Esais asal Bandung. Bergerak bersama Ladang Jagung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.