SUATU PAGI, AKU BELAJAR MELUPAKANMU [PUISI-PUISI ADE GUNAWAN]

gambar di ambil di sini

 

Suatu Pagi, Aku Belajar Melupakanmu

Di meja makan, kata-kata  lebih panjang
dari tempat tidur dengan malam yang kaku.

Melewati malam,  tak cukup hanya kopi
pahit.

yang bisa membuatku sakit
kulihat sebagai sesuatu yang mudah sekali terjaga
dan diingat.

Seperti detak jarum jam,
sepi nyaring dibunyikan tengah malam
Wajahmu alun di langit-langit kamar yang temaram.

Aku mulai menyukai rasa sakit dari mencintaimu.
Aku tahu, merindukanmu
berarti memeluk diri sendiri lebih sering
dari yang sepi lakukan.

Sebab, sepi mencintaiku lebih dari yang aku tahu.
Bahkan sebelum aku tahu kau tak mencintaiku.

alangkah nikmat pagi ini,
hangat matahari di pipi,
langit terentang,
aku bergegas berangkat kerja

membawa banyak kata baik.

 

Setidaknya

Setidaknya, dalam keadaan paling sibukmu,
kau tahu siapa yang perlu kau sebut;
rindu. Tentu
Bukan aku

Sebab, ketidaktahuanku terlampau banyak
untuk tahu kau itu lupa atau melupakan
Mengingat, aku, jarak dan waktu
belum tentu menyebutmu
kekasih

dari sunyi,
nyanyi-nyanyi,
nyeri-nyeri.

Aku hanya menjadi jalan
Bagi kenangan untuk tinggal atau ditanggalkan.

 

Untukmu yang Terbaring Sendirian

Hari ini, ingatanku lebih panjang
dari malam minggu yang biasa kukenang.
aku ingin pergi,
dan nanti aku pasti pulang
terbaring pasrah menunggu

Kau kekasihku, Puan, telah jauh
seperti waktu yang mustahil ditempuh
—jalan  berkelok di belakang punggung.

Pada burung,  kutitip pagi dan kicau
Nyanyian  yang ingin kau dengar
walau kau telah menutup pendengaran dari apa yang dikatupkan.

tak lepas, aku selalu menadahkan tangan
memekarkan bunga di kepala
terduduk memeluk rindu yang kaku
teringat nama di atas segunduk tanah.

 

Pulang

Apa yang mesti kubawa
Payung, jas hujan atau sapu tangan
Jalan sunyi ini menahanku
Seperti doa yang sedang ditangguhkan
Aku membiarkan tubuhku tertidur di bantal-bantal kerikil tajam;
Memakamkan kenangan tak perlu

Jalan-jalan yang ingin kau lupakan
Nama-nama yang hanya bisa melukai
seperti pisau dapur
atau anak panah yang dilesatkan

di lehermu seutas tali jadi kembang
tangan-tangan melepaskan tegang
Mencari perasaan untuk dikorbankan
Pesan yang memastikan ; aku mencintaimu

 

Kutahu Kau Masih Di Sana

Kutahu kau masih di sana
bersembunyi dalam sela-sela huruf
memahat waktu pada bangku
bertelau-telau cahaya matahari

kutahu kau masih disana
berdiri dalam sudut sajak
menyelam diksi-diksi
yang kau sendiri bertanya

kenapa tak tumpah seperti apa yang ada dalam gelas

 

Pagi

Pagi tiada akan tahu
seberapa segar warna daun
tanpa wujud terang matahari
mewarnai embun dan rerumputan.

Pagi tiada akan tahu
seberapa terang mimpi
tanpa langkah kaki dan tadah tangan.
nyala terang matahari di matamu.

pagi takkan tahu, betapa malam
hari-hari yang mesti kulalui.
memperjuangkan yang luput
atau yang maut.

 

 

Profil Penulis

Ade Gunawan
Ade Gunawan
Pustakawan Pustakaki. Sangat menggemari baca buku puisi.