Stereotip Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam yang Merepotkan

Perkenalkan, saya adalah mahasiswi salah satu perguruan tinggi sekolah tinggi agama Islam di kabupaten Purwakarta. Di kota ini, teman-teman semua mesti tahu kalau sekolah tinggi agama lebih menguasai jagat perkuliahan, dibanding kampus jenis lainnya.  Hal ini barangakali karena dilatarbelakangi banyaknya pesantren yang ada di Purwakarta.

Kemungkinan lainnya adalah, karena pemerintah daerah nampaknya tidak tertarik membangun universitas lokal—yang jelas-jelas lebih penting dibanding menyalakan air mancur setiap malam Minggu. Mungkin karena gak akan viral, jadinya ditunda deh.

Toh, setiap orang punya skala prioritasnya masing-masing, ya kan?

Suatu hari saya ditanya “Kuliah dimana, mbak?” saya jawab “STAI You-Know-What”. Keningnya berkerut: “STAI itu apa, mbak?”

Saya bertaruh kalau dia cuma pura-pura tidak tahu. “Sekolah Tinggi Agama Islam.” Jawabku kalem.

“Tingginya berapa meter, mbak?” tanyanya berkelakar. Tak lupa ia tertawa dengan temannya yang lain. Jujur, saya memang senang ketawa-ketiwi, tapi alam batiniyah saya menahan diri. Gengsi.

Akhirnya saya memutuskan untuk tersenyum. Solidaritas, sist.

Pertanyaan dan guyonan orang tadi terus membuat saya kepikiran. Jadi susah tidur, susah makan, susah dapat pasangan, eh.

Maksudku, kenapa STAI selalu dipandang sebagai perguruan tinggi rendahan oleh banyak orang? Contohnya orang-orang UIN nih… mereka suka banget mlesetin akronim kampusnya itu jadi Universitas Insyaallah Negeri. Saking gak pedenya. Atau Irfan Hakim, seleb yang suka mendadak saleh saat ramadhan itu juga, sempat malu mengakui kalau dirinya lulusan UIN Sunan Gunung Djati.

Apa sistem pendidikan di negeri ini sengaja/ tidak telah menciptakan kelas-kelas sosial? Atau karena adanya mindset yang sudah mengakar di benak masyarakat kalau semakin besar bangunannya, maka semakin berkualitas pula isinya?

Jawabannya ada dua: Iya! Dan… iyaaaaaa! Eh iya

Memang ada beberapa hal yang membedakan STAI dan sejenisnya dengan perguruan tinggi lainnya. Salah satunya adalah konsentrasi dominan terhadap pembelajaran agama, berada di bawah naungan kemenag, dan identik dengan lulusannya yang agamis. Ya kalau ada satu atau dua orang ketahuan mesum sih ya itu mah oknum lah…

Tapi, kan tetap saja. Mahasiswa di mana-mana ya sama, tapi ya kenyataannya itu tadi. Belum lagi dengan cap/stereotip yang menempel di jidat setiap mahasiswa STAI, yang tak kalah merepotkannya?

Sebut saja stereotip mahasiswa perguruan tinggi Islam.

Satu, kami sering di-cap sebagai calon ustadz/ustadzah. Ini menyebalkan, benar-benar jauh dari ekspektasi masa depan saya. Walaupun kampus STAI terdapat jurusan Perbankan Syariah misalnya, tetapi pada akhirnya masyarakat akan memberi gelar calon penceramah atau kalau tidak ya jadi guru agama. Padahal, banyak sekali lulusan STAI yang kompeten di bidangnya, bukan sebagai penceramah saja.

Dua, Anggapan STAI sebagai sarang aliran radikalisme. Beberapa waktu lalu jagat media Indonesia dihebohkan dengan menyebarnya jaringan aliran radikalisme di kampus-kampus tanah air, yang menduduki urutan nomor satu adalah perkuliahan yang berbasis agama Islam. STAI salah satunya.

Di Purwakarta, dibanding gelar cap sarang radikalisme, saya lebih suka memberi gelar “gudang hijrah lovers”.

Silakan teman-teman cek playlist lagu mahasiswi STAI satu persatu, kalau tidak Kang Abay, ya Edcoustic. Jarang sekali saya mendengar mereka memutar lagu barat yang antimainstream atau lagu kontroversial seperti lagu Yong lex. Bahkan dalam urusan selera musik pun, mereka masih mengharapkan pahala. Benar-benar, benar-benar.

Ketiga, Mahasiswa STAI pasti hafal doa dan Juz amma. Astaga, ini beban betul. Saya sendiri masih kabur kalau disuruh memimpin doa, atau membacakan surah An-naba secara acak.

Pikiran-pikiran seperti ini justru malah mengganggu ketenangan hidup. Bayangkan, setiap ada acara, mahasiswa STAI ini pasti ditunjuk memimpin doa hanya karena kuliah di STAI. Padahal, siapa tahu yang hafal hanya doa makan dan tidur saja.

Alasan- alasan ini hanya sebagian kecil stereotip yang diberikan kepada kami. Untuk urusan ini kami masih menerima. Tapi tolonglah jangan nanya kapan munculnya Dajjal juga.

Begitulah. Intinya, harus ada subsidi… mungkin kami bisa terima beban stereotip ini sampai kapanpun. Tapi tolonglah itu tempat wisata kan sudah banyak udah viral tuh. Tinggal perguruan tingginya aja nih…

Kami juga pengen belajar sama Bang Reza Rahardian seperti mahasiswa-mahasiswa di UI. Ya, bodo amatlah mata kuliahnya mau apa saja. Yang penting Reza Rahardiaaaan dosen tamunya.

Kalau masih belum mampu membuat universitas, ya minimal beasiswa-beasiswa kek.

Profil Penulis

Yayu NH
Yayu NHHehe~
Penulis adalah perempuan biasa yang menemukan Komunitas Swara Saudari sebagai wujud kepedulian terhadap isu-isu perempuan. Senang menjadi fasilitator Kelas diskusi dan sesekali menulis berbagai isu gender di beberapa media online. Selalu ingin disapa duluan, silakan coba di akun twitter @owyaaay sampai jumpa di sana, ya.