Siasat Delapan Menit

source google

Stanislav Petrov ingat betul bahwa dini hari pada 20 Juni 1984 merupakan puncak musim dingin yang tak terlupakan baginya. Dini hari itu komputer di kantornya menyalakan sirine. Artinya satu rudal berhulu ledak nuklir dengan daya jelajah antar benua baru saja pamit meninggalkan pusat peluncurannya di daerah pedesaan Dakota Utara, Amerika Serikat. Tujuan rudal tersebut tentu saja adalah negara yang telah membuatnya duduk depan komputer ini. Stanislav Petrov laki-laki yang belum lama ini berulangtahun yang ke-47 merasakan letupan-letupan kecil di kantung kemihnya.

Selang satu menit kemudian sirine di komputer itu menyala dan berbunyi lagi. Dalam waktu dua atau tiga menit kemudian rudal kedua dari jenis yang sama menyusul. Lalu yang ketiga, yang keempat, dan yang kelima menyusul beruntun. Total ada lima roket berhulu ledak nuklir sedang menempuh jalan jauh ke tempatnya duduk saat ini. Tempat duduknya memang tidak basah oleh pipisnya sendiri saat ini. Tapi dia harus melakukan sesuatu sebagaimana ia diperintahkan. Sekarang.

Jika matahari meledak saat ini, tak seorangpun akan mengetahuinya sampai delapan menit kemudian. Sebab delapan menit adalah waktu yang diperlukan cahaya matahari untuk mencapai bumi. Delapan menit inilah waktu-waktu terakhir saat langit masih tampak cerah dan cuaca terasa hangat. Delapan menit di mana tak seorangpun benar-benar tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Tahu-tahu bum! Semua yang pernah melintas dalam pikiranmu tidak punya arti apa-apa. Tapi bagaimana jika dalam delapan menit itu seseorang atau sebuah perangkat komputer bermurah hati memberitahumu bahwa sesuatu baru saja terjadi, dan kau punya delapan menit lagi. Dalam kasus matahari meledak, tentu saja tidak. Tapi ini lain. Yang harus Stanislav Petrov lakukan adalah meraih telepon dan menelepon komandan Tertinggi Yuri Ormalov, bisiknya pada diri sendiri.

Ia sedang mengulangi satu-satunya tugas utama saat menghadapi situasi seperti ini. Saat ia hendak mengangkat bokongnya pergi, ia merasa kedua lututnya kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya. Dan punggungnya terasa menyatu dengan sandaranya. Telepon yang hanya terletak empat langkah orang dewasa ini, tiba-tiba terasa sangat jauh sekali. Mungkin seperjalanan kaki semalam suntuk. Jarak jalan kaki yang sama dari rumah orang tuanya di St. Petersburg ke rumah sang kakek di pinggiran kota, Stanislav Khruscev yang suka mendongeng.

Aku pasti cuma panik. Tidak ada hal lain. Dan jantungku baik-baik saja. Demi meyakini bahwa dirinya baik-baik saja Stanislav Petrov meloloskan sebatang rokok murahan dari bungkusnya. Batang terakhir bisiknya. Ia tersenyum kecut sembari menjepitkan sebatang rokok terakhir itu di antara jari tengah dan jari manisnya.

Ia meletakkan sebatang rokok pada pangkal jemarinya, rapat dengan telapak tangan kanannya. Kau bisa melihat semua gerakan ini berjalan lebih lambat dari bagaimana ia biasa terlihat ketika sedang ingin merokok. Dari caranya menjepit ia menyadari satu hal: delapan menit ini akan menjadi delapan menit paling lama, dan ini adalah rokok terakhirnya. Ia mempercayakan sebatang itu pada kekuatan jepitan alami antara jari tengah dan jari manisnya.

Stanislav Petrov pernah menyimak sekilas-sekilas artikel yang menyinggung global warming, efek rumah kaca, dan sejabanya. Pokoknya semua tetek bengek ajal semesta beserta daftar hal-hal apa saja yang semestinya dilakukan dan jangan dilakukan. Ia mungkin merinding demi mengetahui itu semua, mengira-ngira seberapa besarkah andilnya dalam perkiraan kiamat ini. Tapi diam-diam Stanislav Petrov menyimpan keraguan (atau keyakinan?) bahwa membuang sampah pada tempatnya, memakai barang-barang daur ulang, atau ikut berdemo bersama aktivis lingkungan adalah cara yang tidak cukup berguna untuk menunda kiamat.

Ia memulai bakaran pertama dan menghisapnya dalam-dalam. Stanislav Petrov berpikir sebelum bertindak adalah inti kebijaksanaan. Sebelum benar-benar memutuskan akan melakukan apa, semua kekalutan ini harus terurai lebih dulu.

Sebenarnyalah Stanislav Petrovcukup terlatih untuk kondisi-kondisi gawat seperti ini. Tapi tidak benar-benar seperti saat ini. Posisinya saat ini adalah pengalaman pertamanya. Sedikit saja ia membuat keputusan yang salah, akan terjadi perang nuklir besar-besaran. Dua negara adidaya ini akan menyeret semua negara yang ada dalam peperangan mereka. Seperti yang sudah-sudah.

Satnislav Petrov merasa tak sanggup membayangkan semua hal buruk yang terjadi. Kali ini pasti akan menjadi lebih buruk lagi. Jauh lebih buruk dari semua perang yang ada dalam sejarah manusia. Bom nuklir yang terakhir di Jepang memang bisa meredakan beberapa peperangan. Untungnya Jepang tak punya kekuatan untuk membalas. Bisa dibayangkan jika Jepang bisa membalas.

Stanislav Petrov mengingat salah satu pengantar dongeng kakeknya Stanislav Khruscev. Dari mulutnya yang beraroma rokok murah ia bercerita tentang suara-suara leluhur yang menyusup di antara angin pada cuaca musim dingin. Suara-suara bisikan yang tumbuh perlahan saat matahari tenggelam sampai ke dini hari seperti ini.

Di masa anak-anak ia percaya bahwa sang kakek benar-benar menceritakan dongeng-dongengnnya berdasar suara-suara leluhur tersebut. Begitu dawasa ia tahu sang kakek hanya ingin menakut-nakutinya; agar ia lekas tertidur dan memandang kakeknya ‘spesial’. Hal yang kerap dilakukan para orang tua. Atau yang dilakukan orang-orang suci di mana-mana.

Sekarang ia merasa seperti saat anak-anak itu. Suara-suara itu pelan-pelan mulai terasa benar adanya. Ia mulai menertawakan diri sendiri. Mempercayai hal-hal mistis di usia seperti ini?

Kini ia ingin percaya memang ada orang-orang tertentu yang dapat mendengar suara-suara bisikan leluhur yang terperangkap dalam tubuh bumi. Ia merasakannya sayup-sayup. Suara-suara itu menguap perlahan. Merangkak naik dari bawah tanah yang jauh dan panas, lalu naik mengendarai desau angin musim dingin. Suara-suara itu berseliweran di udara merangsek ke semua ruang dan liang yang mungkin ditempuhnya.

Suara-suara itu kini mengendarai angin musim dingin. Mengembara seperti kapal-kapal dagang eropa ke pulau-pulau ramah. Menusuk semua telinga orang yang peka sepertinya saat ini; seperti sepucuk bayonet mengoyak tubuh perwira muda dalam seragam baru di hari pertama peperangannya. Suara-suara yang menggetarkan ranting-ranting pepohonan, dan menekuk kaki binatang-bintang yang ada di permukaannya.

Suara-suara itu tercampur-baur seperti jeritan-jeritan dari ribuan tenggorokan. Seperti kau berada di sebuah ruangan berisi dua ribu orang. Kemudian mereka diberi kesempatan untuk meneriakkan semua hal yang mereka sesali sepanjang hidupnya dalam waktu delapan menit. Begitu suara-suara itu lolos dari tempatnya, tidak satu suarapun yang dapat kau simak. Siapa mengatakan apa. Atau apa-apa yang sedang dikatakan entah oleh siapa. Dalam kata lain kau tidak akan mendengar apa-apa.

Suara-suara leluhur ini tentu tidak diketahui banyak orang. Sebab jika semua orang dapat mendengarnya mereka mustahil bisa tidur. Tapi Stanislov Petrov Junior, kalau kau benar-benar berniat ingin mendengar salah satu suaranya, cobalah untuk menyimaknya. Ingat, menyimaknya.

Kau harus mengelompokkan suara yang sedang bercerita dan memilah satu demi satu. Fokus pada satu cerita yang menurutmu paling menarik perhatianmu. Manusia-manusia bukanlah angka, mereka adalah surat-surat; dan surat-surat itu bercerita. Simaklah satu cerita. Waktumu delapan menit.

Seperti kau memiliki satu kesempatan untuk meminjam satu buku dari sebuah perpustakaan terlengkap di dunia. Di mana semua karya tulis sepanjang sejarah umat manusia ada di dalamnya. Dari yang lahir melalui benak terbaik sampai yang paling sampahan ada di dalamnya. Sementara waktumu untuk memilih satu buku dari perpustakaan itu hanya delapan menit!

Tanda “persiapan meluncur” berganti menjadi “serangan rudal”. Udara menghabiskan setengah rokoknya. Ia menjentikkan abu yang tersisa ke sembarang tempat, dan menghisapnya dalam-dalam sekali lagi. Sisa dua hisapan panjang, rokok terakhirnya akan habis. Ia memandang arlojinya sudah lewat enam menit sejak sirene pertama berbunyi. Ia harus memastikan sesuatu selain dengan dirinya sendiri. Ia segera mengumpulkan kekuatan, berdiri dan berjalan ke arah telepon aku harus menelepon post lain lebih dulu.

“Ya. Halo. Letnan Petrov. Apa maksudmu? Semua seperti biasa, pak tua. Kenapa? Kau kehabisan rokok?” suara di seberang terdengar riang. Artinya situasi di sana tidak sama, Stanislov Petrov menjawab sekenanya. Yang lebih penting dugaan Stanislov Petrov mulai terasa berkaki sistem satelit baru ini memang bermasalah.

“Bagaimana di sana, Letnan?”

“Baik-baik saja. Ngomong-ngomong ini rokok terakhirku. Rasanya bosan sekali. Baiklah. Maaf mengganggu waktumu, Letnan.” Yang diseberang tertawa kecil. Stanislov Petrov tidak melanjutkan obrolan basa-basi ini, juga tidak akan memberitahu situasi di sini. Ia segera memutus sambungan, itu adalah keputusan kedua yang menurutnya tepat. Ia khawatir tak dapat menyembunyikan ledakan-ledakan kecil di kantung kemihnya sejak enam menit yang lalu.

Tak ada peraturan pasti berapa lama waktu yang boleh diambil untuk berpikir dan mempertimbangkan segala hal sebelum memutuskan untuk melapor pada Jenderal Tertinggi Kruschev. Tapi Stanislov Petrov tahu bahwa setip detik penundaan ini akan menjadikan posisinya semakin rentan. Kursi yang didudukinya terasa lebih panas lagi.

Kini sudah sampai di menit ketujuh. Stanislov Petrov mulai menimbang kemungkinan awal serangan ini. Ia punya kemungkinan 50:50 untuk menilai apakah ini sebuah serangan sungguhan atau hanya kesalahan sistem seperti yang diduganya.

Di puncak perang dingin seperti ini kiranya tak berlebihan jika mengira bahwa kiamat itu tak datang dari bencana-bencana ekologi, melainkan perang nuklir habis-habisan. Semua orang dapat berhitung bagaimana negara-negara yang sudah serius menggarap nuklir lebih dari tiga sampai empat dekade, tiba-tiba memutuskan menghabiskan semua persediaan nuklirnya dalam satu hari. Satu hari!

Stanislov Petrov memiliki satu keyakinan, dan satu dugaan yang sama beratnya. Dugaan pertama meyakini bahwa saat ini lima buah rudal berhulu nuklir sedang dalam perjalanan ke arah tempatnya duduk; itu membuat dadanya sesak. Buntut dugaan itu, Uni Soviet akan membalas dengan mengerahkan nuklirnya juga. Maka semua hal buruk soal Perang Dunia III yang dibayangkannya tadi akan terjadi. Namun jika ternyata ia salah, ia tetap menjadi penyebab bagaimana perang nuklir ini terjadi.

Kedua Stanislav Petrov menduga bahwa ini hanya kesalahan sistem saja; dugaan itu membuatnya sama tersiksa. Sebab jika ia luput maka ia akan menjadi penyebab utama Uni Soviet luluh lantak tanpa upaya balasan apa-apa. Syukur jika bom itu membawa kabur nyawanya. Jika tidak ia tak akan lolos dari pengadilan militer. Di sisi lain, meskipun negaranya akan mengalami kerusakan yang serius, negara-negara yang terikat dalam Pakta Warsawa toh akan mengobarkan perang juga. Artinya, sama saja.

Semua pilihan-pilihan meyakini dan menduga itu tampak buruk baginya kecuali yang terakhir, dengan syarat delapan menit setelah sirine menyala musti ada yang benar-benar terjadi. Setidaknya satu dari lima rudal itu meledak, atau tidak terjadi apa-apa sama sekali. Kini Stanislav Petrov punya dua menit untuk membuktikan itu. Dan yang lebih penting Stanislav Petrov punya satu menit untuk menghubungi Jenderal Panglima Kruschev. Keputusan ketiga, ia tidak boleh melalui pengadilan militer di masa-masa menjelang pensiunnya.

Dan yang terjadi, terjadilah.

 

Catatan:

Pada 20 September 1983 Stanislav Petrov membuat keputusan penting yang mencegah Perang Dunia III antara Uni Soviet dan Amerika Serikat. Keputusan itu melibatkan delapan menit paling neraka yang pernah ada dalam hidupnya. Tepatnya di maskas komando satelit Petrov-8 dekat Ibu Kota Moskow, Letnan kolonel Stanislav Petrov bertanggungjawab memimpin pemantauan potensi serangan dari luar Uni Soviet. Saat komputernya memberikan tanda tentang aktivitas ancaman serangan udara (yang menunjukkan lima buah rudal AS yang aktif) alih-alih melaporkan hal tersebut sebagai ancaman. Ia malah melaporkan adanya kerusakan sistem jaringan. Ternyata ia benar, itu hanya kesalahan sistem.

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.