Siapapun Kamu, Apapun Komunitasmu, Menulislah!

Minggu lalu adalah hari-hari paling sibuk yang pernah kulewati. Dalam waktu tersebut ada banyak acara dan momen penting yang layak dicatat dan direnungkan. Hari Kamis Gol A Gong main ke kantor Nyimpang. Hari Jumatnya bedah buku “Aku Radio bagi Mamaku” di Das Kopi Karawang. Sabtu screening film pendek oleh anak-anak Kopel. Hari Minggu sorenya “Ngaguar” di Hexa Space Cafe di Purwakarta, dan di saat yang sama “Youth Local Movement Vol. 1” juga digelar di Authentic Coffe Cikampek.

Dari rentetan acara dan momen ini paling tidak saya melihat bagaimana komunitas-komunitas dan potensi-potensi muda antar-kota menjalin hubungan dan mengikatnya dengan kerja-kerja kolaboratif nan-kreatif. Bedah buku di sebuah kafe, anak muda dan wakil pemerintah daerah duduk bersama di sebuah kafe, dan kegiatan ekonomi kreatif plus kerja-kerja kesenian dihelat di sebuah kafe. Ketiga hal ini adalah hal-hal yang tidak kulihat pada tahun-tahun sebelumnya di kota-kota kecil semacam Purwakarta, Cikampek maupun Karawang.

Jujur saja belakangn saya mulai melihat titik-titik yang sebelumnya terpisah mulai terhubung. Antara ruang-ruang kolektif atawa tongkrongan; seperti Hexa Space di Purwakarta, Authentic Coffe di Cikampek, dan Das Kopi di Karawang. Juga komunitas-komunitasnya. Dari Kopel (Purwakarta), Perpustakaan Jalanan Purwakarta, Sketsa Sore (Purwakarta), Majelis Insan Cita (Purwakarta), Rumah Warna (Cikampek), Teras Buku (Cikampek), Semesta Literasi (Karawang), Perpustakan Pungggung (Karawang). Semuanya seperti titik-titik yang mulai terhubung.

Pertemuan terjadi pula antara Ayi Nurhasanah, Widdy Apriandi, Yayu Nurhasanah, Hadi Ibnu Sabil yang dari Purwakarta; dengan Egi dan Mayang dari Cikampek, Gilang dan Stefani dari Depok, Dharma dan Rizki Andika dari Karawang.

Jika hubungan ini terus langgeng—dengan adanya pertukaran gagasan, perluasan isu-isu sosial baru, dan arah gerakan—secara individual maupun komunal, bukan mustahil titik-titik ini bakal jadi kekuatan massa dengan daya tawar politik yang tidak main-main.

 

Membangun Imajinasi Politik Bersama

Eit, jangan nyereung dulu dengan kata “politik” di sini teman-teman.

Maksud saya dengan daya tawar politik dan imajinasi politik di sini, bukanlah membuat partai atau mencalonkan seseorang di kursi dewan. Persoalan Raga, Ayi, dan Yuda nyaleg sih itu urusan lain.

Intinya “politik” yang kubicarakan bukanlah ranah politik struktural seperti partai politik dan lainnya. Politik yang kubicarakan adalah ranah politik kultural yang bertumpu pada kreativitas, kepentingan sosial, dan kerja kolaboratif.

Sementara daya tawar politik yang kumaksud adalah dengan menjadikan semua kerja politik kultural kita tadi itu lebih efektif dan berdampak. Sekecil apapun. Minimal, kalau dalam kasus Purwakarta, bisa menjadikan gedung Yudhistira sebagai ruang publik kesenian sesungguhnya. Bisa dipakai oleh warga membuat pertunjukan tetater, gratis. Juga mungkin menggelar acara kesenian lintas daerah tanpa campur tangan pemda—yang dalam pengalamanku, suka banget ngasih sambutan berjam-jam seolah-olah semua orang pengen tahu apa pendapatnya soal kesenian.

Pendek kata, perlu kiranya kita merancang imajinasi politik untuk membangun kekuatan massa dengan daya tawar politik yang berdampak terhadap kebijakan publik sekaligus proses edukasi bagi masyarakat luas.

Sebagai gambaran konkret kita bisa sebut… bahwa imajinasi politik ini adalah soal menjadikan semua fasilitas publik kota dari hulu ke hilirnya bermanfaat bagi masyarakat. Semua tempat di kota-kota kita bisa dijadikan sebagai tempat pameran lukisan anak-anak Ruang Hitam dan Rumah Warna, screening film untuk anak-anak Polaroid, pagelaran teater untuk Sanggar Sastra Purwakarta, dan Teater Gabung, kelas-kelas pelatihan untuk Kopel Purwakarta, dan seminar untuk Swara Saudari dan Semesta Literasi.

Gedung-gedung, taman-taman, dan aula-aula itu toh dibangun dengan uang pajak kita kan?

 

Imajinasi Politik: Diskusi, Elaborasi, dan Kolaborasi.

Sebagai awal mari kita sepakati duhulu bahwa imajinasi politik adalah visi bersama dalam melihat komunitas dan gerakan kita di antara kemungkinan-kemungkinan yang ada di tengah masyarakat.

Untuk mencapai daya tawar politik tadi, pertama perlu kita bicarakan cara mudah dalam mengelaborasi imajinasi politik bersama. Sehingga dapat ditemukan apa permasalahan masing-masing daerah, berikut titik temu antar komunitas yang ada di kota-kota kita. Mengingat setiap komunitas punya concern issues atau visi dan misi yang berbeda.

Jelas, diskusi adalah pintu yang bagus. Tapi itu saja tidak cukup. Toh, kita sama-sama tahu bahwa pembicaraan dalam diskusi kerap menguap begitu diskusinya sendiri bubar. Musti ada kesadaran untuk mendokumentasikannya dalam  tulisan, sehingga langkah selanjutnya, yakni kolaborasi, dapat terjadi.

Konkretnya begini. Setiap komunitas musti mendorong satu sampai tiga orang untuk menulis. Paling tidak orang-orang ini bisa mengajukan ‘suara’nya sebagai pribadi maupun wakil komunitasnya dalam mengetengahkan isu-isu yang perlu dibicarakan dan menjadi garapan bersama. Sehingga kita bisa temukan di mana posisi setiap komunitas dalam isu-isu yang diangkat.

Contohnya, anak-anak Swara Saudari punya concern issues terhadap isu-isu perempuan, kekerasan seksual, dan pendidikan gender. Yayu Nur Hasanah sebagai bagian darinya selalu menyuntikkan concern issues Swara Saudari tersebut dalam tulisan-tulisannya, sehingga semua pembaca tahu Swara Saudari berjuang di concern issues yang seperti apa—bukan cuma slogan besar seperti ‘meruntuhkan patriarkki’.

Atau contoh lainnya Mayang dengan program Aku Kembali Sekolah (AKS) yang digagas Semesta Literasi, Perpustakaan Jalanan Karawang, dan Teras Buku dengan concern issues pendidikan dan literasi dalam tulisan-tulisannya; Fahd Fajrie (Jojon) dengan Aksi Kamisan Karawang yang punya concern issues dalam penuntasan kasus HAM dan impunitas. Juga Dharma Putra Gotama dari Forum Pemuda Peduli Sejarah Karawang (FPPSK) yang menulis dampak dari industrialisasi lahan-lahan subur masyarakat Karawang.

Dengan Yayu, Mayang, Dharma, dan Jojon yang menulis sekaligus mewakili komunitasnya untuk menampilkan concern issuesnya masing-masing, para pembaca (entah dari komunitas atau tidak) pun tahu di bagian mana mereka bisa berpartisipasi. Syukur-syukur bisa turut menjadi volunteer untuk komunitas mereka, atau hadir dalam  acara mereka, atau minimal sekadar membagikan posternya secara online.

Dengan begini persoalan patriarki roboh seperti bagunan lapuk, kapitalisme mencair seperti es di cuaca panas, pengusutan kasus HAM selancar seluncuran, industrialis picik pada insyaf dari kedegilannya seperti seorang remaja hijrah, atau angka literasi kita melesat bak jet, bisa dicicil sedikit-sedikit. Sebelum kita bosan dan kehabisaan pembicaraan sebab tidak kenal betul apa yang sedang “dilawan”. Sehingga kita punya kesempatan untuk merayakan setiap keberhasilan kecil dan progress sederhana.

Pada Kongres Pemuda yang kedua di tahun 1928 (sebelum Indonesia ada) 750 pemuda dari berbagai daerah berkumpul sepakat bahwa musuh mereka bersama adalah penjajahan, dan sebagai respon mereka merilis sumpah pemuda: berbangsa, bertanah air, dan berbahasa Indonesia. Justru tujuh belas tahun sebelum Indonesia akhirnya memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka. Betapa imajinatifnya, bukan.

Kini kita terus berkumpul, masih tidak tahu apa musuh kita bersama selain cuma bisa bilang “anjrit, riweuh sekali netijen kita hari ini!” sambil melupakan bahwa kita juga termasuk netizen.

Intinya, menulislah duhulu. Mari kita urai keruwetan yang ada untuk mengenal masalah kita yang sebenarnya, kemudian saling mengenal, dan melihat kerja-kerja kolaboratif seperti apa lagi yang bisa kita lakukan bersama ke depannya.

NB: Nyimpangdotcom siap menampilkan tulisan kamu, loh. Klik link ini www.nyimpang.com/kirim-tulisan 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.