Seperti Candu atau Wabah, Penyakit itu Akhirnya Disebut Kebodohan [Cerpen]

Kura-kura adalah kura-kura adalah kura-kura adalah reptil berkaki empat. Supaya kamu tahu saja, kura-kura digolongkan dalam keluarga reptil. Itu artinya, ia berkerabat dengan naga dan komodo.

Orang-orang senang sekali berkembang biak. Mereka lebih senang ngewe daripada memikirkan sumber daya alam atau apalah yang makin menipis. Ada 7,3 miliar manusia sekarang ini. Kalau oksigen sama dengan nutrisi otak, itu berarti kita mesti berbagi 20,95 persen udara di muka bumi dengan 7.299.999.999 orang lain.

Kamu sekarang ngerti kan, mengapa ada orang bodoh di muka bumi?

Omong-omong soal kebodohan, manusia perlu melengkapi punggungnya dengan cangkang. Seperti kura-kura. Agar apa? Buat jaga-jaga saja. Kebodohan konon menular seperti malaria. Kamu perlu pertahanan absolut kalau suatu saat nanti ada yang tiba-tiba memukulimu karena omonganmu yang tidak dimengerti mayoritas manusia. Paling tidak, kamu bisa leha-leha di dalam cangkang sambil mengisap ganja atau lem aibon atau apalah, yang penting tidak mudah marah.

Kamu tahu sendirilah, kebodohan adalah amarah adalah kebodohan adalah amarah. Kamu bisa bodoh karena marah, atau bisa marah karena bodoh. Atau keduanya sekaligus.

Sahabat, jangan pernah bicarakan masa depan pada orang-orang bodoh. Mereka hidup dari masa lalu. Mana peduli mereka pada bulan yang bundar seperti adonan onde-onde. Mereka adalah manusia gua-nya Plato. Orang-orang purba primitif yang tidak percaya pada dunia luar. Hanya duduk diam di dalam ruangan pengap lembap nan sempit. Mendengar ocehan para pendongeng di antara terang nyala api.

Para pencandu taklid buta ini mestinya diikat kaki dan tangannya sehingga mereka bisa berak tapi tak bisa cebok, disumpal mulutnya menggunakan daun seledri, dibuang ke kolam penuh lele. Rasa-rasanya, daripada berguna buat peradaban, mereka lebih berguna buat makanan lele. Di situlah sebenar-benarnya tempat mereka.

Misalnya mereka benar, bahwa ilmu pengetahuan adalah permen karet lengket hasil kunyahan Dajjal, bahwa pacaran itu hanya perbuatan setan, bahwa kebaikan manusia diukur dari kepatuhan terhadap nilai moral. Misalnya mereka benar, aku sih tak apa. Aku malah ingin cari sejenis sihir atau apalah. Tak apa bersekutu dengan Lucifer.

Aku ingin cari sihir yang bisa mengubah manusia menjadi udang. Aku mau jadi udang saja deh. Biar sekali-kali bisa memahami isi kepala mereka. Katanya, isi kepala udang adalah berak belaka. Sejatinya, otak mereka adalah tahi. Biar begitu, udang masih tetap enak bila digoreng setengah kering.

Buat apa sih sebar-sebar berita hoaks, buat apa?

Buat apa memaksa kepercayaan yang tidak esensial kepada orang lain? Kalau kamu mau masuk surga, masuk saja sendiri. Ini kok masuk surga ajak-ajak orang lain. Alasan apa? Menebarkan kebaikan agar ada banyak orang masuk surga? Akan jauh lebih baik kalau kamu menebar pengetahuan. Atau minimal, jangan libatkan kami pada kebodohanmu. Telan saja kebodohanmu. Kalau mau cari teman, ajak saja keledai. Atau kura-kura. Dua hewan itu punya muka nyantai yang seolah-olah bicara pada kita: woles aja bro, sebat dulu lah biar hehe.

Aku sebenarnya ingin marah-marah lebih lanjut. Tapi urung. Pak Slamet, tetanggaku yang tukang mie ayam itu, terjatuh dari sepeda. Mati penasaran. Tiap malam, ia marah-marah. Kalau penghasilannya sedang kecil, ia marah-marah ke pemerintah. Oh, betapa pemerintah kejam. Membiarkan warganya kelaparan. Negara tidak hadir saat anak-anaknya butuh uang bayaran. Kalau penghasilannya sedang besar, ia marah-marah ke pelanggan. Katanya, beli mie ayam memang harus pakai uang pas, biar tak sulit kembalian. Tapi kan tidak juga menggunakan uang receh.

Aku ini jualan mie ayam, bukan money changer. Ini recehan mau diapakan coba. Dibawa ke bank, malu. Dibuat belanja ke pasar, ditertawakan. Dikubur, tak akan jadi pohon duit. Brengsek betul.

Kebiasaan sering marah ini berlanjut sampai pagi. Makin parah kalau sudah berhadapan dengan tenggat. Tenggat waktu bayar kontrakan, tenggat waktu melunasi bayaran anak, tenggat waktu bayar berbagai pajak, tenggat waktu bayar utang, tenggat waktu nyicil motor.

Suatu siang… lupakan soal Slamet. Tidak penting toh. Orang-orang di luar sana akan menyimpulkan ini dari sisi amanat cerita. Tanpa menikmati cerita. Apa-apaan~

Profil Penulis

Faizol Yuhri
Faizol Yuhri
Tinggal di Karawang. Sarjana komputer yang suka teater, literasi, dan puisi.
Kelak di hari akhir, sambil menunggu hitung-hitungan amal, orang-orang baik akan makan Indomie goreng dengan tangan kanan.