Sepersekian Jaz di Kota yang Murung [Puisi-Puisi Adhimas Prasetyo]

Sepersekian Jaz di Kota yang Murung

variasi My Favorite Things

 

tidak ada bunga-bunga bagi jatuhnya hujan,

tinggal gang sempit yang berlumut dan basah.

 

tidak ada kucing mungil bertaring tumpul,

hanya kaing anjing di tengah malam.

 

orang-orang membenci kotanya, membenci

tetangga-tetangga melebihi hari senin.

 

televisi menyajikan iklan pisau dapur, memaksa

ibu membelinya untuk sayur, daging, dan nadinya.

 

pelajar lebih khawatir terhadap angka, dan

menghitung lebih penting ketimbang membaca.

 

di tempat seperti ini, siapa tekun memerhatikan

alun jaz yang mengalir di kelok selokan?

 

setiap hari di kota ini, orang-orang menanam

dan menahan peluru pada mata sendiri.

 

and then they don’t feel so bad.

 

2017

 

Ia Tak Menginginkan Jaz Malam Itu

teringat Miles

 

masih kebisingan sama

saat gelap telah rubuh

pada ribaan kota.

 

kita bayangkan sebuah kelab,

dari suatu sudut

suara trompet itu

merayap ke seluruh ruang.

 

bisiknya,

tidak ada pangeran yang akan datang.

 

di kelab itu

ia telah lama menyerah,

sebab mencari dan menunggu

hanya keletihan yang sama.

 

tak bisakah alasan-alasan

untuk tetap berharap

tak meninggalkannya lagi?

 

malam itu

ia tak ingin menikmati jaz,

namun jaz telah erat

melilitnya.

 

2017

 


 

Terompet Chet di Malam Hari

 

di luar jendela gelap menetes

pada rimbun perdu pekarangan.

lima-enam kelekatu berteduh

di bawah redup neon.

 

dari gramofon

jemari nada jatuh menitik

bilah-bilah tuts.

 

sedang bas itu mengingatkanku

akan jantung seorang gadis

yang teratur saat ia tertidur

atau derap gesa hak sepatunya.

 

dan aku pernah kenal rengekan itu,

sebuah terompet cengeng.

selalu mengeluhkan cintanya

atau sekadar menceritakan

adegan opera sabun.

 

mungkin sepertimu, Chet.

kisah cinta bukan juga

untukku.

 

2016

 

 

Menunggu Pernikahan

kepada Hilda

 

tiba-tiba

aku ingin melolong malam ini,

lolong yang parau dan panjang.

 

aku ingin mengatakan padamu

bahwa selalu ada ketidakpastian

pada kegelapan esok pagi.

 

kekasih, adakah yang lebih

tak berdaya daripada harapan?

 

dan liur menetes-netes

dari gigil moncongku.

sementara waktu hanya barisan

kafilah yang melulu

berlalu.

 

2017

 


 

Kasur

buat John Lennon

 

tanpa tahu alamat,

sebuah peluru nyasar ke dalam kepalaku,

hingga bersarang dan beranakpinak.

peluru itu merindukan revolusi,

revolusi yang plin-plan dan cerewet.

 

di atas kasur aku menuliskan

beberapa catatan cacat,

seperti juga puisi ini.

padahal perjuangan masih sama

seperti tahun-tahun sebelumnya

yang abadi di buku-buku sejarah.

 

dari atas kasur revolusi dirayakan

dengan menanam nadi sendiri pada puisi.

 

2016

Profil Penulis

Adhimas Prasetyo
Adhimas Prasetyo
Saya Adhimas dalam tulisan ini http://nyimpang.com/khayalan-baik-untuk-hari-puisi-nasional/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.