SEPASANG BAYANG [PUISI-PUISI ADE RIANI]

 

SEPASANG BAYANG

 

Bagaimana jarak kian bentang?

telah kuukir jejak kita

di bawah lentera

Gelisik angin mencekam

demikian rindu padamu

Tak dapat kubendung

 

Di mana bayang pernah menjadi kita

di bawah lentera yang sama

hanya ada sebuah bayang

kesepian

 

bayang di temaram lentera

tak lagi sepasang

tak lagi menjelma kita

ditinggal sebuah bayang

tiada di bawah lentera

 

setia bayang menungu

bagian yang hilang

 

 

2017

 

 

Kepada Kekasih

 

I

Seperti getar senar hujan

desah angin di daundaun

rindu yang kuyup

aku semakin rintik, menggapai-gapai bayangmu

sedemikian tinggi ku panjat, doadoa adalah gerimis tengah malam

akankah ia sampai?

 

II

jalan-jalan sepi, ditinggal jejak

terkapar di tanah

tahun-tahun menyimpan musim

memberatkan rindu, menjadi hujan

Kapan ia tiba di tanah halaman?

 

III

Cernalah bulir-bulirnya yang basah

oleh riwayat. Pada tapak tangan seorang kekasih selalu ada setetes madu

seperti kasih sayang seorang ibu

yang menunggu anaknya di balik pintu

Katakan! Kisah apa lagi yang menandingi kesucian telaga kautsar?

Bila memang ada, katakan saat ini juga!

 

IV

Tapi, hanya keheningan yang menyambut bisu

di deras angin, merajut gelap

menyulam malam menjadi pualam legam

sudah saatnya, bakarlah sumbu apimu!

agar nyala jadi pelita

buat kantuk yang datang menggetuk pintu rumahmu

 

 

April 2017

 

 

 

ANJANI

 

Sebuah nama menjelma getar menelusup sukma

Selaksa rindu yang  tak lekas redam, tak lekas padam

Di kedalaman jiwa. Ada yang paling kau pendam

Pada matamu yang tak juga sampai

KepadaNya, rasa itu memanggil-manggil sebagai rangkaian zikir

Menyayat hening

Tangismu tiada berair mata

“mengapa perasaan ini tak juga bernama?”

Bisik batinmu

dalam perangkap kegelisahan

KepadaNya, dengan terbata kau pinta

: “tetapkan aku dalam belenggu rinduMu”

 

 

 

 

 

2017

 

 

Rindu Puisi

 

Adakah kegelisahan yang tak menjelma larik dalam puisi?

cemburu, rindu, dan fantasi yang tak lekas basi

berkumpul membuat sesak ruang kenangan

 

Genangan kenangan tentangmu

Menghuni batin sepiku

Juga kegaiban wajahmu

yang memerangkap

yang paling getar menjelma hasrat

 

Sebuah badai anestesi membius waktu

Tak ingin beranjak barang sejenak

Euforia pekat akan bayangmu meledak

Hatiku luluh lantak

 

 

2017

 

 

SEKIAN

 

Saat itu aku putuskan untuk berhenti

Seumpama ranting-ranting yang meranggas kekeringan

Seakan detak hanya tersisa untuk sekali saja

Maaf itu turun dengan lebat

Selebat hujan pertama setelah sembilan kemarau

Kematian nyanyian katak seakan tanda

musim hendak berganti

Kembali

Meninggalkan retakan menganga

Pecah. Angin tak lekas memberi kabar

Entah bagaimana

Setetes rindu datang mengeroyoki sepi

Menghujam duka

Menghujani kesunyian dengan kepiluan

yang entah untuk ke berapa kali menuju ke sekian

Terasa lebih panjang

Dan setelah berapa lama yang ke sekian lagi

Kulabuhkan seluruhnya yang tersisa kepada keabadian

musim semi

 

2015

 

 

Profil Penulis

Ade Riani Fujiah
Lahir di Purwakarta pada November1994.
Bergiat di Sanggar Sastra Purwakarta,Pustakaki, dan kelompok baca rintis.