Cerpen

Seorang Lelaki yang Bermimpi

From https://tdesigns-tdd.deviantart.com/

“Hai Obi, boleh aku ikut kamu pulang ke rumah?” tanyaku. Obi menoleh dan menghentikan kayuhan sepedanya. Menoleh ke arahku sekilas, memandang boncengan sepedanya yang kosong, lalu beralih lagi ke stang sepeda dan sesekali melihat  sepasang tangannya yang nampak sangat keren di grip kemudi.Yang kupanggil Obi tampak sedang berpikir keras meski tidak dapat kau lihat kerut di dahinya. Setelah menyapu semua hal yang dapat dijangkau matanya dari sepeda tersebut. Ia menoleh dan memandangku dengan perasaan puas. Kemudian mengayuh pedal sepedanya dengan mantap.Meninggalkanku tanpa jawaban apapun.

Obi jauh di depanku memancal sepedanya dengan perasaan puas setelah mengolokku seperti itu. Sedang aku musti legowo berjalan kaki pulang. Begitu kakiku berada di luar gerbang, kulihat dari kejauhan, sesuatu yang tidak pernah kulilhat sebelumnya. Bahkan tidak akan pernah dilihat oleh semua anak-anak di SD ini atau di SD mana pun di dunia. Aku melihat bapakku memanggil-manggil namaku dari sebuah dek kapal perang. Mengajakku pulang.

*

Ranggat Buarin bangun dari tidur dengan ujung perangkat yang sedikit menyeruak keluar dari karet pinggang sempaknya yang longgar. Ia duduk mengepul semua kesadaran yang merangkak pelan-pelan dari otaknya. Tidak ada yang spesial soal ini. Hal yang sama belaka, kami kira biasa dilakukan banyak orang.

Tapi Ranggat Buarin memiliki kebiasaan yang berbeda  untuk itulah kami membawa para pembaca ke sebuah set cerita yang mungkin saja bisa membuat Anda sekalian terhibur. Semoga saja begitu. Sebab Ranggat Buarin biasanya menjadikan saat-saat setelah ini menjadi persoalan yang tidak biasa dan membuat kita ingin tahu sebab-sebabnya.

Kita sama-sama tahu tadi. Ranggat Buarin bangun dari tidur dengan ujung perangkat yang sedikit menyeruak keluar dari karet pinggang sempaknya yang longgar. Ia meraba ke balik bajunya dengan tangan kanan, sisa cairan itu terasa lengket di perut dan telapak tangannya. Ia mengusap sisa lengket di tangannya ke celana, lalu membetulkan perangkatnya agak menyerong ke samping. Meski sempak yang dipakainya longgar di pinggang, tapi terasa sesak bagi perangkatnya. Pasti akan sakit jika ia masih membiarkan perangkat itu terjepit.

Kali ini ia sangat ingin mengingat-ingat dengan rinci tentang apa saja yang dia lakukan dalam mimpinya. Sebelumnya di mimpi-mimpi dengan jenis yang sama Ranggat Buarin hanya akan melepas celana pendek, kaos bertuliskan ‘Bali’ yang biasa dipakainya tidur, dan sempaknya yang agak longgar lalu membuntal semua itu dengan gerakan mengaduk dan menginjak dengan kedua kakinya.

Sisa keringat semalam membuat baju-baju beraroma pemutih pakaian, kemalasan, ditambah asap rokok, tumpahan kuah soto, dan entah apa lagi itu seperti punya perekat sendiri. Setelah ia merasa baju-baju itu seperti bolaatau setidaknya ia harus merasa begitu agar ritual ini lebih punya alasan yang fundamental. Ranggat Buarin mengumpulkan segenap perasaannya lalu menendang  gulungan pakaian yang dijadikan seperti ‘bola’ itu, dari tempatnya tidur ke ember cucian yang berjarak empat langkah lebar orang dewasa.

Apakah ‘bola’ berbau pemutih pakaian ini masuk dalam ember? Tentu saja. Ia sudah melatihnya hampir setiap hari sejak empat tahun terakhir ini. Tidak cukup sampai di situ. Setelah tahu ‘bola’ itu masuk, ia akan melompat kecil ke udara dan mendarat dengan dua kaki agak membentang, dan tangan mengepal yang tegak ke bawah. Gerakan selebrasi CR7!

Bagi Ranggat Buarin, sang tokoh utama cerita kali ini, semua yang sampai ke tujuan akhir, sesepele apapun itu, patut dirayakan dengan selebrasi CR7.

*

Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Kali ini ia sangat ingin mengingat-ingat dengan rinci tentang apa saja yang dia lakukan dalam mimpinya. Sebelumnya di mimpi-mimpi dengan jenis yang sama Ranggat Buarin hanya akan melepas celana pendek, kaos bertuliskan ‘Bali’ yang biasa dipakainya tidur, dan sempaknya yang agak longgar lalu membuntal semua itu dengan gerakan mengaduk dan menginjak dengan kedua kakinya.

Tapi kali ini Ranggat Buarin tidak sedang berpikir akan melakukan semua olah raga kecil itu secepat biasanya, mungkin ia akan menundanya beberapa menit ke depan. Pertama, Ranggat Buarin merasa harus duduk bersila, maka Ranggat Buarin bersila. Selanjutnya akan lebih mudah, ia meletakkan kedua tangannya ke lutut dan mencengkramnya, lalu menegakkan punggungnya setegak yang ia bisa. Tubuh yang sigap adalah kuncinya.

Kini ia harus mengatur hal lain yang lebih penting. Ranggat Buarin kembali menutup matanya lalu menghadapkan wajah ke langit-langit kamar. Ranggat Buarin haqqul yaqin dengan posisi hidung yang lebih dulu menyentuh udara sebelum anggota tubuh lainnya akan memudahkannya menyerobot udara yang paling murni.

Udara yang paling murni, para penonton  adalah udara yang belum menyentuh apapun. Udara seperti itu tentu saja tidak kau dapatkan jika posisi tubuhmu telentang atau telungkup. ada  yang lebih penting dari itu, posisi hidungmu jangan sampai didahului oleh anggota tubuh lainnya. Tidak terkecuali dahi dan rambutmu. Jika para penonton kesulitan membayangkan apa yang Ranggat Buarin lakukan, penonton  boleh mengingat-ingat pose gerakan yoga yang ada di televisi-televisi. Kira-kira begitulah.

Setelah Ranggat Buarin melewati beberapa kesulitan memposisikan hidungnya agar menjdi anggota tubuh yang paling atas, ia menghirup napas kuat-kuat dari hidungnya, lalu menunduk, menahan udara itu, merasai dengan seksama bagaimana udara itu menjalar seperti chakra dalam tubuh seorang ninja.

Oh iya, sebelum kita berlanjut, sebagai pemandu cerita aku harus minta maaf lebih karena telah melewatkan beberapa detail cerita, dan mungkin persoalan melewatkan beberapa hal ini akan terulang lagi. Seperti bagian bagaimana Ranggat Buarin berusaha keras menjadikan hidungnya tegak menyerobot udara murni. Gerakan yang benar-benar sulit dilakukan ketika kau baru bangun tidur dan kami sendiri sebagai pemandu cerita terpingkal-pingkal melihat bagaimana Ranggat Buarin berjuang melakukan itu semua sendirian.

Persoalan mengingat adalah persoalan yang pelik-pelik tai kucing. Ingatan, seperti yang penonton tahu, seringkali datang tanpa diundang, bahkan jika itu adalah jenis ingatan yang paling tidak diinginkan. Seperti seorang striker tim nasional dengan kualitas tendangan setara kepakan ekor lele. Tapi tai kucing itu, maaf, ingatan itu… begitu kau berharap sangat pada suatu paket ingatan yang lengkap, sebab kau benar-benar sedang memerlukannya, seperti di mana terakhir kali kau meletakkan kunci kamar kosmu atau kapan terakhir kali kamu mencium seseorang, justru yang terjadi adalah kau malah mendapati dirimu seperti tiga atau empat puluh tahun lebih tua dari umurmu yang seharusnya. Usia yang baik untuk merencanakan pesan mutiara apa yang akan kau bubuhkan setelah nama dan tanggal wafatmu; dibanding memikirkan mimpi apakah yang kaudapati setelah mendapati celanamu sedikit basah, pangkal pahamu terasa lengket dan menguarkan bau pekat pemutih pakaian.

 

Kembali ke soal Ranggat Buarin lagi.

Setelah lima atau enam kali ia melakukan semua hal tentang bernapas dengan udara murni itu, juga dengan kesusahpayahan (yang membuat kami, para pemandu cerita ini tertawa) meletuplah kata-kata familiar yang kita bicarakan tadi: tai kucing.

*

Ranggat Buarin memang nama yang tak biasa, kau boleh tebak dari mana asalnya nama itu. Tapi kami tidak suka membuat kesulitan pada para pembaca yang budiman. Biar kami ceritakan saja.

Suatu hari Suroko Sujatmiko yang berusia dua puluh lima tahun bermimpi melihat seekor burung kacer hitam yang kencang suaranya, burung itu meloloskan udara melalui tenggorokan, gerakan lidah yang terlatih, dari sepasang paruhnya dengan fasih: gat… rang… gat… rang… dan bua..buaaa… rin… riin riin….

Kami tidak bisa menggambarkan persisnya bunyi siulan seekor burung yang membunyikannya. Kami sendiri sebenarnya kesulitan membayangkannya. Namun yang jelas, enam tahun kemudian Suroko Sujatmiko hengkang dari tempat di mana ia mendapatkan mimpi itu, meninggalkan dua hal: seorang perempuan kebingungan berusia lima tahun lebih muda darinya, dan seorang bocah usia empat tahun, di sebuah rumah kos dengan tunggakan sewa tiga bulan.

Kami bisa saja menceritakan lebih banyak soal Suroko Sujatmiko ini. Misalnya ke mana ia pergi dengan satu tas kresek baju dan uang tunai dua juta rupiah yang dia cokot dari meja ruang tamu rumah bosnya.

Tapi kami khawatir akan merusak cerita. Namun penting kiranya jika cerita ini dihubungkan dengan sebab-sebab Ranggat Buarin  memiliki keinginan serius untuk mengingat-ingat apa yang baru saja ia mimpikan dan yang lebih penting membuatnya yakin bahwa mimpi tersebut dapat menjadi sesuatu. Minimal cerita yang bisa dibaca oleh Anda sekalian.

*

Ia pun melakukan hal yang kami sebut di atas. Jika Anda lupa, biar kami ulangi lagi.

Ranggat Buarin melepas celana pendek, kali ini bukan kaos bertuliskan ‘Bali’ yang biasa dipakainya tidur, dan sempaknya lalu membuntal semua itu dengan gerakan mengaduk dan menginjak dengan kedua kakinya. Sisa keringat semalam membuat baju-baju beraroma pemutih pakaian, kemalasan, ditambah asap rokok, tumpahan minuman energi, dan entah apa lagi itu seperti punya perekat sendiri. Setelah ia merasa baju-baju itu seperti bola atau setidaknya ia harus merasa begitu agar ritual ini lebih punya alasan yang fundamental. Ranggat Buarin mengumpulkan segenap perasaannya lalu menendang  gulungan pakaian yang dijadikan seperti ‘bola’ itu, dari tempatnya tidur ke ember cucian yang berjarak empat langkah lebar orang dewasa.

Apakah ‘bola’ berbau pemutih pakaian ini masuk dalam ember? Tentu saja. Seperti yang kami bilang sebelumnya, ia sudah melatihnya hampir setiap hari sejak empat tahun terakhir ini. Tidak cukup sampai di situ. Setelah tahu ‘bola’ itu masuk, ia akan melompat kecil ke udara dan mendarat dengan dua kaki agak membentang, dan tangan mengepal yang tegak ke bawah. Bagi Ranggat Buarin, sang tokoh utama cerita kali ini, semua yang sampai ke tujuan akhir, sesepele apapun itu, patut dirayakan dengan selebrasi CR7.

Kemudian berangkat mandi dan yang tersisa dalam benaknya hanyalah apa yang kemudian dapat kita baca, namun sepertinya itu akan disinggung di akhir saja. Namun yang jelas di sela-sela ia menyabuni badannya ia berbisik-bisik pada dirinya sendiri atau lebih tepatnya bergumam, seolah-olah ia baru saja mendapati tai kucing itu, eh maaf, ingatan itu kembali dalam benaknya. Tidak begitu jelas apa yang dia bisikkan di awal namun kami dapat menyusun beberapa patah kalimat. Dan kami menandai beberapa bagian yang patah “[…] tapi aku sangat ingin meninjunya [tidak begitu jelas lagi, seperti di awal dengan tambahan suara srog… srog… srog... sepertinya ia sedang menggosok-gosong lengannya yang bersabun dengan kasar] […] tak pernah […] di depan gerbang sekolahku [lagi-lagi tidak jelas seperti yang terjadi di awal tadi] dengan kapal perang […]” setelah gerumunan tidak jelas, gumaman tersebut terputus oleh guyuran air, juga berhenti.

Ranggat Buarin mengambil handuk, mengenakan sempak lain yang baru, dan menyalakan pemanas air elektrik. Lalu membuka jendela kamar indekosnya dan dia tahu bahwa apa yang membuat kami, para pemandu cerita tertawa adalah hal yang bahkan bagi Ranggat Buarin sangat tolol. Ia mendengus pendek. Jika aku ingin udara segar, kenapa tidak kubuka saja jendela ini sejak tadi? Kira-kira begitulah bentuk pertanyaan yang bisa kami dan Anda-anda lihat dari wajahnya. Meski ia tidak sampai menepuk jidat segala, seperti yang biasa dilakukan aktor-aktor amatir yang berpikir seolah-olah acting menyadari ketololan sendiri bakal gagal jika tidak menepuk jidat. Aih tolol betul.

Ia duduk di kursi dan menyalakan laptopnya. Mengarahkan kursor ke peramban internet, lalu mesin pencari dan mengetik “Tafsir Mimpi” dan berkali-kali tidak mempu membungkam letupan-letupan dari mulutnya: tai kucing.

Ular sebagai tanda jodoh, tai kucing. Berkelahi dengan hantu sebagai pertanda rezeki, tai kucing. Kambing-kambing sebagai tanda akan mendapat banyak perhatian, tai kucing. Bertemu orang mati sebagai pertanda akan berumur panjang, tai kucing. Tidak satupun yang berbicara soal cairan yang ia dapati lengket di antara perangkat sampai ke perutnya kecuali hal yang pernah ia dengar dari guru mengajinya dulu sekali. Harus mandi. Aku baru saja melakukannya, tai kucing.

Putus asa tidak menemukan hal yang ia inginkan, Ranggat Buarin memutuskan melakukan hal lain. Ia tak ingin menghabiskan waktu mencari artikel-artikel yang membantunya memami mimpinya, atau membuatnya bosan dan entah bagaimana nyasar ke situs-situs yang itu lagi itu lagi.

Yang paling penting tahu harus melakukan sesuatu dengan mimpi tadi. Jadi ia membuka winamp, memutar lagu-lagu india. Membuka aplikasi Ms. Words  dan mulai menulis sesuatu sampai beberapa menit setelah ia mendengar bunyi yang biasa dikirim pemanas air elektrik, lalu melakukan hal yang biasa orang lain lakukan.

Tidak begitu menarik apa yang dilakukan oleh seseorang yang menyeduh kopi instan, tapi mari kita beralih pada apa yang baru saja Ranggat Buarin lakukan dengan halaman word-nya. Hal yang nampaknya ditulis dengan bekal tai kucing… eh maaf… ingatan saat di kamar mandi tadi. Sebab paragraf awalnya saja seperti ini:

“Hai Obi, boleh aku ikut kamu pulang ke rumah?” tanyaku. Obi menoleh dan menghentikan kayuhan sepedanya. Menoleh ke arahku sekilas,memandang boncengan sepedanya yang kosong, lalu beralih lagi ke stang sepeda dan  sesekali melihat sepasang tangannya yang nampak sangat keren di grip kemudi.Yang kupanggil Obi tampak sedang berpikir keras meski tidak dapat kau lihat kerut di dahinya. Setelah menyapu semua hal yang dapat dijangkau matanya dari sepeda tersebut. Ia menoleh dan memandangku dengan perasaan puas. Kemudian mengayuh pedal sepedanya dengan mantap.Meninggalkanku tanpa jawaban apapun.

Jadi, bagaimana para pembaca yang budiman? Haruskah kami memandu Anda-anda sekali lagi?

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *