SELAMAT ULANG TAHUN [PUISI-PUISI FAIZOL YUHRI]

 

gambar diambil di sini

Selamat Ulang Tahun

 

di hari ulang tahunmu, aku bawa pagi yang tak utuh dari jendela kamar. anak-anak sedang menangkapi harapan dari mulut politisi ketika aku tiba menuju rumahmu. kata ayahmu, atap rumah telah berlubang karena doa-doa yang lama kamu ucap lamat-lamat sebelum tidur memanjat langit. kata ibumu, tanah di rumah sangat subur karena kamu pandai mengubur harapan. harapan adalah pupuk yang bisa menumbuhkan apa saja. bukankah keinginanku dan keenggananmu, tumbuh dari sana?

 

di depan pintumu, bagaimana memilih kalimat sapa?

“selamat pagi, apa kabar?”

“permisi, apakah kamu bahagia?”

“hai, kamu tampak sedih, butuh bahu?”

aku pilih kalimat kedua. kamu akan jawab bahagia. tidak lagi bersamaku berarti cuti dari pertengkaran-pertengkaran dan segala curiga.

 

pikiran-pikiran dalam tubuh cuaca gagal diramal sarjana BMKG. cuaca seperti perasaan perempuan: samudera dengan kedalaman tak terjangkau oleh perkiraan. ia tak bisa kausangka, sekaligus kausangkal. dari rahimnya lahir kemungkinan-kemungkinan. prediksi adalah perangkat paling mungkin memahami mereka.

 

tanggal merah berbaris di kalender. ngomong-ngomong, aku tidak libur memikirkan kamu. tidak ada cuti. tidak ada perayaan. tidak ada hari besar. merawat kamu di kepala adalah perayaan sekaligus hari besar, setiap hari.

 

di ruang tamu rumahmu, ada yang mengiris dada. semut-semut berbaris dari bukit menuju jantung. bagaimana ini, aku terluka. pada sofa biru itu kita pernah sedekat laut dan pantai. dulu, lewat bibir dan lidah, aku telusuri sudut-sudut di tubuhmu yang di waktu purba pernah jadi tulang rusukku. aku tidak takut tersesat. seluruh dirimu datang dari diriku.

 

ruang tamu rumahmu adalah museum dengan dua pengunjung. tidak perlu tiket. kita saksikan masa lampau berbuat tidak baik terhadap masa kini. kita saksikan kenangan memutar dirinya sendiri melalui benda-benda yang pernah kita sentuh. kita saksikan diri kita berjalan dalam tidur ke arah berlawanan.

 

 

Masa Depan Penyair

kemudian tuhan mencipta adam hawa. anak-anak pergi sekolah. para orangtua melamunkan surga. orang dewasa pergi kerja, mereka lupa cara bersenang-senang. rencana pernikahan dan investasi masa depan, benar-benar urusan serius.

 

apa yang kita beri untuk bumi dari jemari penuh darah ini?

 

kamu menyaksikan masa lalu seperti rentetan peluru di kamp-kamp pengungsi. mengakrabi maut berarti memilih tanggal kematian sendiri. di sana, kematian tidak pernah mendadak. tidak selalu kabar buruk. di sana, kematian adalah buah pisang atau dering telepon yang bisa dipesan setiap orang.

 

kamu ingin memiliki masa depan. tapi tidak ada masa depan bagi penyair. demi hal-hal tidak pasti itu, kamu duduk di bibir jurang. menggiring domba-domba jatuh. menghitung satu dan seterusnya agar nyenyak tidur.

 

tolong jangan ada rindu. dada tak berusuk lengkap ini pengelana tanpa kata sampai. kalimat tujuan lama lenyap dari kamus sejak alamat rumahmu pindah ke arah entah.

 

di mana pusara tempat kita mengubur cinta?

 

 

 

 

 

Katakan pada Pacarmu, Aku Rindu Kamu

 

tapi nabi-nabi tak pernah mewahyukan cara mengatasi rindu.

 

aku mencatat kehilangan seperti bank mencetak nota hutang. di suatu negeri, barangkali cinta bisa dikredit. di sini, cinta–kamu tahu–telah membiru racun tanpa penawar. memudar biru legam di pipi. ungu memar manalagi yang matamu nanti agar tumpah basah. segera menangislah. rumput-rumput telah lama gersang. ada padang pasir tumbuh di dadaku. tandus.

 

siapa merawat bunga-bunga yang ditabur di sepanjang makam?

 

pacarmu (atau pencuri, sebab sesuatu yang kamu miliki besar kemungkinan diambil dari orang lain) bercita-cita jadi angin. ia meniup kepergian dan alamat rumah. akan dibawa pak pos ke mana pesan-pesan rindu ini?

 

aku mencari di google map, hadirmu yang lenyap.

 

aku pernah bercita-cita jadi petani, juga astronot. agar bisa menanam bunga mawar di matamu yang temaram seperti bulan. tapi petani mana pandai mengubur kepergianmu yang mengabur?

 

kalau aku rindu kamu, adakah akan membuat pacarmu sakit?

 

 

 

 

 

Dalam Peluk Luka

 

ada luka

dalam pelukan

menghunus pedang masing-masing

 

 

 

 

 

Ciuman Pertama

 

kue black forest mengalir di bibirmu

manis

lembut

 

pada dahimu

surga terlipat dan runtuh

keningmu adalah lapangan tembak yang sunyi

bagi bibir-bibir lain

 

matamu

bintang-bintang berjatuhan

 

bibirmu tidak lengkap

tanpa dikatup bibirku

 

ciuman pertama itu

adalah tayangan film

yang ingin mereka-ulang dirinya

ratusan kali

Profil Penulis

Faizol Yuhri
Faizol Yuhri
Tinggal di Karawang. Sarjana komputer yang suka teater, literasi, dan puisi.
Kelak di hari akhir, sambil menunggu hitung-hitungan amal, orang-orang baik akan makan Indomie goreng dengan tangan kanan.