Rengasdengklok Undercover: Melawan Bibliosida dari Pinggiran Karawang

*Catatan ini merupakan undangan acara launching buku “Rengasdengklok Undercover” pada 16 Agustus nanti, sekaligus pembagian link ebooknya. Silakan klik di sini untuk mengunduh pdf “Rengasdengklok Undercover”

Fernando Baez dalam bukunya “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” telah menjadikan kata bibliosida menjadi istilah yang lebih dramatis dan penting dari sekadar “penghancuran buku” saja. Mengingat secara kasat mata tidak ada kerugian yang berarti dengan bibliosida yang kita saksikan belakangan ini. Hanya buku yang terbakar. Tidak ada korban jiwa di sana, bukan? Cuma buku. Cuma kertas yang menjadi abu.  Namun Baez dan buku ini menjadikan bibliosida sebagai kata tempat kita memandang buku lebih dari sekadar kelihatannya.

Bagiku “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” merupakan karya sejarah yang memukau, bahkan untuk orang yang baru saja membaca buku semacam ini. Ia mengambil tema  yang jarang kita temukan, tentang bagaimana pemusnahan buku terjadi di berbagai belahan bumi, dalam rentang waktu yang bermacam-macam, dan dalam cara yang juga bermacam-macam pula. Karena kekhususan tema itulah barangkali buku ini berbeda dari buku sejarah jamaknya yang sibuk menyusupkan bias-bias politik dan ideologi, dengan mengategorikan siapa yang pahlawan dan siapa yang penjahat. Hal yang memberitahu kita dari mana lahirnya adagium “sejarah ditulis oleh para pemenang”.

Bagian yang paling menarik selain dari uraiannya soal bibliosida atau penghancuran buku adalah alasan kenapa topik ini penting. Baez menuliskannya dalam halaman pengantarnya:

“Buku adalah pelembagaan ingatan… karenanya harus dipandang sebagai kepingan kunci dari warisan budaya suatu masyarakat… semua buku, perpustakaan, arsip, museum, adalah warisan budaya dan kuil-kuil ingatan. Itulah sebabnya penghancuran buku bukanlah sekadar penghancuran objek fisik saja, melainkan penghancuran tautan ingatan, sebuah identitas manusia secara individual maupun kolektif.”

“Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” adalah buku yang menarik, tapi “Undercover Rengasdengklok” adalah sesuatu yang penting dan sentimentil. Secara pribadi, ia lebih dari sekadar buku. Bukan saja ditulis untuk menjadi kuil ingatan orang-orang Rengasdengklok-Karawang, tapi juga ditulis oleh orang-orang yang kukenal. Buku ini disusun oleh Willy Firdaus, Dharma Putra Gotama, dan Yuda Febrian Silitonga (selanjutnya kita sebut saja Yuda Febrian dkk.) yang tergabung dalam Forum Pemuda Peduli Sejarah Karawang  (FPPSK). Buku ini menunjukkan permasalahan berikut harapan yang ada di dekat kita.

Secara garis besar para penyusun memulai pekerjaannya dengan  mengamati dan bertindak langsung menuju titik permasalahan utama rusaknya Kantor Kewedanaan—bangunan kantor administrasi kepemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan yang berlaku pada masa Hindia Belanda. Mengingat sejarahnya tempat ini merupakan situs sejarah yang seharusnya diperhatikan, namun kenyataan berkata lain. Lo­kasi pengibaran bendera merah putih pertama kali tersebut terlihat rusak dan terbengka­lai. Camat bersama stafnya, yang sebelumnya mendiami tempat tersebut pindah ke gedung baru tidak jauh dari Tugu Kemerdekaan di Rengasdengklok.

Sebagaimana yang mereka catat, kantor Kewedanaan ini dalam keadaan yang mengenaskan. Lantai kayunya keropos, meriam (benda bersejarah) tergeletak begitu saja di lantai keramik di pendopo, temboknya retak-retak dan rentan roboh, pintu-pintunya rusak dan banyak coretan di dindingnya.

Dari sini mereka- mereka menghubungkannya dengan persoalan lain yang mereka sebut sebagai krisis identitas. Mulai dari tergerusnya lahan pertanian, beriringan dengan derasnya keran investasi yang dibuka oleh pemerintahan setempat. Hal tersebut membuka masalah lain seperti pembangunan-pembangunan yang menggusur situs sejarah berharga seperti yang terjadi pada “Gedung Jangkung” atau Markas PETA. Kemudian mesin uap yang menjadi penanda lahirnya revolusi industri di Hindia Belanda yang dijual ke tukang besi oleh penduduk setempat.

Juga tak lupa Yuda dkk. menyebutkan masalah lingkungan seperti aliran sungai Citarum di tengah gempuran limbah pabrik yang berbahaya. Hal yang kemudian berimbas pada tatanan sosial masyarakat setempat dan konflik-konflik yang terjadi di sana.

Di tengah semua itu, Pemkab Karawang hingga saat ini belum menentukan status kantor Kewedanaan Rengasdengklok sebagai bangunan cagar budaya dengan alasan belum ada anggaran sehingga, tidak heran jika situs sejarah tersebut lebih mirip bangunan Belanda yang hampir roboh dengan coretan di sana-sini daripada situs sejarah yang mustinya dipelihara dan diawasi. Kita bisa melihat pengabaian yang struktural. Maka tidak heran hal ini juga terjadi dalam skala kultural seperti masyarakat yang menjual benda sejarah sebagai rongsokan.

Hal yang agak mirip juga terjadi pada lanskap bibliosida yang lebih luas, di tempat dan kurun waktu yang tidak jauh. Dalam tuturan Fernando Baez, ia menceritakan begini:

“… ketika saya tiba di Bagdad, Mei 2003, saya mendapati bentuk baru penghancuran budaya secara tidak langsung. Sesudah Bagdad dikuasai pasukan Ammerika Serikat, berlangsunglah pengahancuran melalui penelantaran… Mereka memang tidak membakar pusat-pusat intelektual Irak, namun juga tidak melindunginya. Ketidakacuhan inilah yang menjadi cek kosong (restu) pada kelompok-kelompok kriminal. Pada 12 April 2003 dunia tahu penjarahan Museum Arkeologi Bagdad, lalu menyusul penjarahan-penjarahan lain dan perilaku-perilaku vandalisme yang tak kalah brutalnya.”

Memang yang terjadi di Rengasdengklok berbeda dengan Bagdad. Jelas. Tapi kesamaannya, sekali lagi, ada pada ketidakacuhan. Terutama dari otoritas yang berwenang.  Terlepas dari apakah situs-situs seperti kantor Kewedanaan ini menguntungkan secara politis dan bisnis pemkab atau tidak, ketiadakacuhan seperti ini tidak bisa dianggap remeh, dan bagi Baez, inilah bibliosida (penghancuran kuil ingatan atawa bukti sejarah) dalam bentuk baru. Bedanya kita tidak bisa bilang dilakukan secara tak langsung untuk kasus yang satu ini.

Seperti dalam pengantarnya, “Rengasdengklok Undercover” bukanlah pekerjaan ringan bagi anak-anak muda yang bukan berasal dari disiplin ilmu sejarah—btw, dari sini kita bisa bertanya, kita punya sejarawan enggak sih? Terutama yang peduli dengan isu-isu sejarah lokal begini.

Anak-anak muda yang mengaku non-sejarawan ini  melakukan semua hal yang mereka bisa. Dari riset, sosialisasi pada komunitas lain, dialog dengan masyarakat sekitar, dan akhirnya membukukan hasil kerja mereka. Semua ini bisa jadi merupakan upaya menyusun raport merah bagi pemerintah kabupaten Karawang, terutama dalam hal pengarsipan dan pemeliharaan potensi-potensi sejarah yang ada dalam area kerjanya.

Tapi yang lebih penting dari ini semua adalah, Yuda dan kawan-kawannya di FKPKS  telah membukakan mata kita. Bahwa semua hal brengsek yang terjadi secara struktural masih punya kemungkinan untuk diperbaiki. Seperti disinggung di awal, buku ini penting sebab bukan saja menunjukkan permasalahan struktural dalam upaya-upaya konservasi situs sejarah (yang mungkin saja bukan cuma terjadi di Karawang), tapi juga memperlihatkan spirit gerakan kultural yang dapat kita contoh di mana pun kita berada.

Pekerjaan Yuda dan teman-temannya mungkin tidak sementereng kelihatannya. Saya berani mengira—semoga perkiraan ini salah—hanya akan ada beberapa saja yang sunggguh-sungguh mengapresiasi pekerjaan ini. Jika perkiraan ini benar, itu berarti satu hal saja: buku ini tidak ditujukan pada siapapun selain diri kita, yang punya banyak coreng-moreng di wajah sendiri.

Oh ya, apa saya tadi sudah menyebut macam-macam bibliosida? Selain pembakaran, penyensoran, pelarangan, bencana alam, penghancuran, atau ketidakacuhan; tidak membaca buku adalah bibliosida juga.

Sebagai pengingat, mari kita simak apa yang Fernando Baez bilang “… bahwa pada saat ini, ketika Anda sedang membaca kalimat-kalimat ini, paling tidak ada satu buku yang lenyap untuk selamanya.” dalam kasus ini, mungkin lebih dari sekadar sebuah buku.

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.