Puisi-Puisi Yudanto Kurnia; Catatan Kehilangan

deviantart.com

Catatan Kehilangan

Ia telah berkenalan dengan kehilangan, sejak kecil,
dan masa kecil telah kehilangan tubuhnya sejak ia dewasa.

Ia merasa bingung apa yang hilang,
Ia cari di pelajaran, di ijazah, di telepon genggam.
Tetapi kehilangan tidak diajarkan, tidak masuk dalam ujian dan tidak ada bentuknya di  telepon genggam.

Ia merasa binggung, ia pergi ke stasiun,
Ia beli tiket mengunjungi kawan lamanya.
Waktu, yang setia menunggunya di  depan rumah ibunya.
Di perjalanan   lagu berputar
yang patah tumbuh yang hilang berganti
~Banda Neira.

 

Jogja Dalam Sajak Saya

Adalah  bau  tanah basah karena hujan tumpah di  halaman  rumahmu.
Adalah kepulangan detik ke jam dinding di teras rumah.
Adalah tawa anak  yang sederhana,
hanya sebuah kenang yang tertinggal dalam keningmu

Pulang kadang begitu sederhana, saya sedang kehujanan di atas motor,  dan gigil memeluk kampung halaman di rongga dadaku.
Melewati jalan panjang yang legam di depan rumah, hari sudah malam ketika saya sampai di halaman.
Malam setia menunggu di depan pintu, menampung doa kita.
Angkringan di depan baru saja tutup. Bapak berjalan pulang membawa sebungkus sate usus.

 

Selimut  Ibu

Sebelum tidur,
Saya menemukan selimut ibu.
sedang  nyenyak  dalam lemari kayu.
Selimut  masih nyenyak ketika saya memanggilnya
“Bangun selimut, saya sedang mau menggelarmu di pelukanku.”

Sewaktu ulang tahun saya dulu, ibu  suka membeli kado selimut.
Karena saya sering menggigil ketika bermimpi.
Di kertas kado ia selipkan surat,
Semoga mimpimu hangat
Semoga tidurmu nikmat

Tapi saya pilih selimut ibu,
yang ibu rajut  sendiri dari benang-benang  waktu,
Selimut ibu seperti petugas jaga ronda yang setia,
menjaga mimpi saya supaya aman dari orang gila.

Sekarang  selimut ibu sudah  tua, ia bangun dan mengeluh jenuh,
Sekali-kali perlu  juga saya ajak  tamasya keliling  mimpi  bersama tubuh saya.

Memasuki mimpi dengan  selimut ibu, saya terkejut.
Ada kenangan  kecil saya tertinggal  di dalam  selimut ibu.
Seorang anak kecil, yang bermimpi menjadi panglima perang.
lalu  tanpa sungkan membentak-bentak tidur saya.

Anak kecil itu sekarang telah menjadi satpam
yang rajin jaga malam.
Dalam tidur saya yang seadanya, kadang.
Ia mengawal  bayangan ibu berjalan-jalan di mimpi saya.
Bapak juga ikut, membawa dengkur memeluk mimpi saya

 

Catatan Penjual Koran.

Koran sudah laku terjual, tetapi  nasib makin binal memperkosa saya di jalan pulang.
Kata-kata membangun perkampungan sendiri, kampung kecil dimana saya istirahat dan membaca tubuhmu dalam-dalam.
Beberapa halaman dalam tubuhmu sudah saya baca, ada iklan kecil yang kau buat  :
Dijual, Tanah Kuburan dan Batu nisan, kondisi mulus, pemakaian standar surat lengkap tangan pertama,cocok untuk orang yang ingin pencitraan, si mayat butuh uang untuk dikuburkan, berminat hubungi 081567xx
Saya sebenarnya ingin membeli, untuk bersembunyi dari nasib yang sedang birahi dan berteduh dari jalan yang terik, tapi saya teringat kuburan lama saya  di bawah lampu  merah.

 

Berita Dari Koran

Guru yang meninggal  kemarin malam itu, akan  dimakamkan dengan khidmat di akhir sajak ini.
Pelayat yang  datang memenuhi spasi halaman koran. Beberapa huruf, beberapa tanda baca dan beberapa angka ikut datang mengantar  jenazah guru yang tewas di tangan muridnya itu.

Beberapa angka yang mengantar, mencoba berdamai  dengan air mata, setelah beberapa huruf mencoba menyusun kata-kata untuk dijadikan memoar di batu nisan. Entah siapa yang dapat membacanya karena tanda baca sedang khusyu mendoakan guru yang mengajarinya naik motor untuk mengawal  jenazah  guru ke pemakaman.

Sampai di pemakaman beberapa tangga nada terlambat datang, karena tersesat di jalan mencari angka dan tempo yang pas untuk berjalan. Beberapa orang mendoakan yang lain menulis di telepon genggam memaki waktu yang kian liar  mendidik anak.

Pagi ini saya sedang membaca berita, ketika  ada baris terakhir yang baru saya baca.

Bersama jenazah guru, ikut dimakamkan moral , dan pendidikan
: ikut tewas ditikam zaman.

Profil Penulis

Yudanto Kurnia
Yudanto Kurnia
Seorang Mahasiwa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Bukan penulis, hanya senang menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.