Puisi-Puisi Yanuar Musthofa; Suatu Waktu di Stasiun Tugu

source: google

Suatu Waktu di Stasiun Tugu

Ada aku, kau dan hujan.
Perpisahan adalah cara waktu
untuk kita bertukar air mata.
Di sana: Pelukanmu adalah
karcis perpisahan
yang robek di jantungku.

Jogja, 2017

Dialek Sang Perindu

Tiba-tiba tubuhmu yang jauh
mekar di tangkai puisiku.
rindu adalah hijau udara
yang terbaring lembut
di atas rumput;
bunga-bunga berdebar dadanya,
memekikkan suaramu.

Mengapa harus tercipta jarak?
bila ternyata dalam sepi pun
kuteriakkan namamu.
Dalam ramai lirih kusebut namamu.
;Maka sang pecinta,
hanya akan memeluk sukmamu
melalui rindu
yang telah kubonsai apik
berpot biru.

Paciran, 2017

Di Kota Tua

Di kota tua,
Waktu terserak
Kucoba memungutinya
Dengan sekeranjang kenangan
Yang telah mengeping syahdu.

Ternyata keramaian,
Tak semenakutkan ketika kenangan kembali nyata, memuisi dan melagu.
Entah mencoba merayu atau malah mencibir.

Di kota tua,
Seorang wanita kutemui
Bukan dengan juga tanpa debar
Seorang wanita yang mencoba menari berjinjit, tepat di ujung kepedihan.

Ia mampu menari,
Melenggangkan kepedihan dan kegetiran yang ia bawa
Ternyata, di tangannya
Kegetiran menjelma kunang-kunang indah
Menjadikannya kuat, menapaskan irama pilu nan erotis

Di kota tua,
Alunan musik chopin menggema
Membuat semua terasing
Tepat di bumi yang mereka pijak
Bahkan waktu tak tahu, ia tengah menghitung siapa.

Jakarta, 2017

Kepada Kau yang Jauh 

Kepada air mata yang bersenandung
—mengelus-elus pipiku.
Kepada rindu yang menusuki mataku
dan tentu saja kau yang nun jaun di sana
yang telah menjadi segala sesuatu
yang menambah lebih lama perihku.

Aku tidak setabah penyair,
yang jantungnya sanggup
merawat duri-durinya waktu.
Sudah cukup kutanggung rasa sakit;
melukis siluet tubuhnya menari,
meski bukan untukku.

Apa maumu?
O, hati yang senantiasa terbolak-balik,
aku ingin berkompromi.
Lihatlah tanganku gemetar,
membawa debarmu di debarku!
Rasa yang kian kuat mendamba,
menjadikanku tiada mampu
berpaling dari kau:
“kau yang telah sedekat napas ini
juga kau yang tak kunjung
mengubah arah kiblat rasa ini.”

Aku yang terombang-ambing,
malah kian kau buat pusing.
Sudah cukup, dia yang mengkhianati pergi sedang aku?
Menanti dalam diam, tak bisa memaklumi apa yang seharusnya terjadi.

Apa maumu?
O, segala peluk dan cium,
aku ingin berkompromi.
Kalian yang telah lama mengajariku
tentang hidup dan hakikat hidup,
tetaplah hangat dan menghangatkan.
Aku yang kini menggigil,
terpaksa hanya berteman usil.
Hidup juga panggung kelakar
yang menggemaskan, bukan?
Usil mengerjai, menertawai
serta menghibur diri.

Sebab, ia yang kunanti,
meninggalkanku tanpa bunyi;
bagai mengasah sepisau sepi
dengan lidahku sendiri.

Apa maumu?
Dan kepada diriku, si anak tualang.
Kuatlah kau dalam pengembaraan
yang masih panjang.
Teruslah siksa jika nanti ‘kan datangkan bahagia.
Teruslah dihantam samudera dera,
jika itu membuatmu mengerti cinta;
tegar, berani dan ikhlas.

Waktu adalah guru yang baik.
Bila tiba saatnya, segala berhenti,
Langit jadi bumi,
tanah jadi matahari,
Sejatinya hanya akan kembali
ke muasal sunyi.

Paciran, 2017

Seketika

Seketika, bibir tipismu menjelma sutera
Membalutku dengan kecupan
Hangat, indah

Lalu aku, nelayan yang terdampar
Hanya mampu memunguti sampan
Yang robek tergerus sayatan badai

Kau kopi dalam nadiku
Menuntutku terjaga
Sebab tak mampu aku kehilangan manismu

Semua terbingkai rapi, dalam kenangan yang selalu berhasil kukenang.

Lukaku, lukamu
Kita sama-sama terluka
Sebab, diri tak mampu menahan cinta
Menggelora, memuisikan kita

Dan kau, kupu-kupu
Dari sayapmu tercipta badai

Bekasi, 2017

Profil Penulis

Yanuar Musthofa
Yanuar Musthofa
Yanuar Alfuadi penikmat rokok yang lahir di Lamongan, penikmat kopi yang lama singgah di Semarang. Pemuja kata-kata yang menjelma di antara  Purwakarta juga curiga. Pekerja keras, pantang menyerah, dan selalu berjuang di antara rindu juga sendu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.