Penumpang pada Sebuah Puisi [Puisi-Puisi Vadly Mahmud]

deviantart.com

PENUMPANG PADA SEBUAH PUISI

 

Tiap detik adalah bunyi klakson angkutan kota yang buru buru. Menjauh dan hilang dari telinga kita.

Dalam gang yang penuh percakapan, kata kata mengganti arah tujuan. Ke dini hari kemarin, saat kau begitu rajin menulis nulis sepi.

Kau tak pernah tahu Getar rindu yang senggang selalu singgah pada sebuah perjalanan yang meletakan kita di kota yang sama.

Atau hanya seperti tempias gerimis di jendela angkutan-angkutan antar pulau
Memang
Saban musim musim tiket pulang pergi murah, caraku menulis memang semual ini

 

 

ENIGMA

1
Ia membuat kamar untuk kata kata yang kehilangan ibu dan entah milik siapa
2.
Di situ juga, sesuatu yang berbaju biru dan berbau waktu menamai dirinya kenangan
3.
Meski ia tahu selain iman, kata kata dalam sebuah surat adalah sesuatu yang sulit di tebak.
4.
Ada petasan tahun baru yang sukar kita tahu kapan meledak dan kabar dari media sosial yang membuat kode morse bahwa ada yang tanggal kemarin sore.
5.
Lalu sesuatu tentang foto ini menjelma seorang tukang pos yg berdiri, berjalan pelan kesana kemari sambil mengingat surat terakhir yg ia tulis dan tak pernah sampai ke alamatnya.
6.
Ada fonem fonem sedih berbaris rapi mengenakan tuksedo dan membuat nyanyian dari prasangka tua
7.
“Diri kita adalah sekolah paling baik” Kata seorang ayah yang mengajari anaknya berkelahi dengan masa lalu.
7.
Tak ada angka delapan.

 

 

 

UBAN;

Waktu itu langit sedang dikerok mentari
Adzan belum genap;

Rindumu beruban
menanti dilamar oleh umur
Dan percakapan bodoh di antara kita dan kopi yang siap membunuh sepi

Rindumu beruban di sore itu
Kucabuti satu persatu
Ubanmu menghujan, kata katamu sayu
“Uban cuma persoalan warna sayang”

Bila langit Sedang batuk
Dan kantuk Belum selesai
Barangkali rindu sedang dahak-dahaknya

Bila hujan sedang demam
Dan tidur belum rampung
Barangkali ada yang sedang lebam ditampar waktu

Bila suhu tubuhmu sedang kurang bijak
Dan mimpi belum mampir
takdir belum sampai
Sepi digigt sapi
Pagi tak ada kopi
Puisi tak pernah tepi
;

Rindumu komplikasi

 

LANGIT

I
Kataku;
Langit berwarna abu abu. Diam dan selalu dalam. Bintang adalah anak kecil yang gaduh dan selalu tak tahan saat senja atau hujan dimanja kata-kata yang mereka namai puisi.

Katamu;
Langit bersifat ibu yang selalu ragu dan tak pernah membiarkan manusia pergi sendirian. Meski aku dan kau yakin setengah mati.

II

Langit yang selalu punya bintang atau bintang yang selalu punya langit?
entahlah,
Langit memang selalu rumit dan sulit ditebak.

Kecuali waktu itu;
Langit yang aku sepakati berwarna abu-abu dan kau sepakati bersifat ibu itu membawa Langit langitmu dan langit langitku saling menelaah mana ludah dan mana lidah. Sampai kita lupa mana arah kiblat.

 

Tempat tempat yang pernah
Kita kunjungi tiba-tiba membuat simpul ingatan
;

“Perpustakaan di dadamu waktu itu seperti telah kubaca tuntas lalu aku pergi dengan catatan kaki yang tertanggal dan kau pergi dengan bekas yang selalu tinggal

Pasar di kepalaku barangkali masih ada-masih sedikit sama seperti waktu kau berkelabat-sunyinya sempoyongan,
sampai beberapa kau
Menjajakan luka yang tak laku
meski tak diberi harga

Serta beberapa tempat lain yang tak pernah kupikirikan tetapi masih sering membawa kabar yang tak bisa kutawar-Pesta di dirimu, dan kata kata di tubuh Mulutmu yang luka di selangkangan Puisiku-”

Atau kau hanya sedang merasa sunyi

 

 

HUJAN

Hujan tak pernah mandi

Ia takut main air, sebab itu tiap turun baunya selalu kangen.

Hujan tak pernah membuat dingin

Ia Cuma menerbitkan gigil di halte halte tempat doa menangis menunggu amin yang tak kunjung tiba. Sebab amin masuk angin karna hujan, hujan masuk amin, dan mungkin kau masuk puisi karena hujan dan amin yang tak mau masuk.

Hujan tak punya ibu

Selalu keibuibuan kalau mendung ia menimang, menenangkan dan meninabobokan kenangan.

Sekarang kenangan telah tumbuh jadi seorang ibu di kepalamu.

Hujan tak pernah sekolah dan belajar bahasa Indonesia tapi ia paham betul mengajari jemarimu memeluk kata kata.

Profil Penulis

Vadly Mahmud
Vadly Mahmud
lahir di kotamobagu 14 agustus 1996. Mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia Universitas Negeri Gorontalo. Selain menulis puisi, juga tergabung dalam komunitas stand up komedi Gorontalo. Peserta kelas menulis puisi yang diadakan oleh kantor Bahasa Provinsi Gorontalo juga salah satu anggota Komunitas Penyeduh Kata. beberapa tulisannya dimuat dalam antologi "Kilau Merah Mata" yang di terbitkan oleh kantor Bahasa Provinsi Gorontalo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.