Puisi-Puisi Ilham Maulana [Celoteh Gadis Desa]

Celoteh Gadis Desa

 

Bagaimanalah tuan, nasib gadis kecil

pemimpi ketika dunianya mulai

ditempa  kehidupan mahamodern

 

Dunia dengan awan warna-warni mulai

beralih

Kejamnya zaman jadi sulit dihentikan

ketika profesi baru bermunculan dan

siaran televisi mulai berani memukul

rata bakat anak didiknya

 

Aku ingin jadi model iklan, alangkah

harum tubuh mereka dan bening

seperti manekin dalam toko baju.

 

Aku ingin jadi artis yang wajahnya

dibasuh pijar lampu pemotretan atau

penyanyi, kontestan dangdut ,

akademisi. Apapun yang bisa tampil di

layar kaca dan dikenal banyak orang

 

Sedangkan gadis kecil itu berjumlah

banyak dengan benda benda angkasa

memenuhi kepala mereka

 

saat budaya  tersisih oleh keagungan

era digital barat, wadah apalagi yang

tepat untuk menuangkan imajinasi

mereka selain kebudayaan ?

Karawang, Maret 2018

 

 

Bunga Kecil

 

ibu memang memiliki banyak wajah

namun hanya dua yang paling dominan

kelabu alangkah kering dari tangis

menyembunyikan gerimis dalam senyum melandai

mimpi mimpi akan menyentuh pagi

dan merah kusam dari guratan lara

saat kau merangkai cerita pendek masa kuliah

tubuh ibu serupa komedi putar

wahana yang sering engkau temukan

dalam riuh pasar malam

kemudian ayah menjelma obat penawar sakit

kapsul herbal yang mengatasi pening paling kejam di kepala

bisa jadi baling baling bambu dalam film kartun

mengherankan tepat saat kau bosan

mengajak kau mengapung di atas kota

sebelum hanyut dalam kasur awan

 

5 April 2018

 

Ketujuh Sayap

 

Aku menunggu kau semalaman, berdandan di depan cermin sebelum tamasya dengan pria lain. Beberapa dering notifikasi dariku luput, tak kau hiraukan karena asyik berbincang. Pada bulan September rasa ini menerobos ke masa sekolah untuk merengkuh pojok mimpi milik engkau dalam tidur. Sementara kisah cinta pahit.

Dan manis tiba, ketika dukungan teman terbaik mendarat di telinga. Hadir kau serupa gerimis yang menyembuhkan luka, gemericik yang kau cipta turut menemani dalam ketanpaan, meski keberadaan menyembunyikan jerit, setiap puja tak berbalas dan langkah kaki kau terlalu lebar untuk kusejajari.

Aku mengarang syair penuh keluh, menyampaikan gelisah kepada aliran sungai, bebatuan jalan dan tanda gincu di gelas bekas kau minum setelah batal bicara.

Kepala menengadah sebelum hancur berkeping keping ketika ingin berpaling. Nada sumbangku menari bersama kegetiran. Sekelebat harap cepat hilang. Kutemui pagar tinggi di hadapan hati engkau. Ingin menggugah janji bertemu. Namun aku jatuh telungkup, rubuh dan retak tak sempat memanjat sebab di balik sana, seseorang dari mimpi kau bersiap menyayat kepalaku dengan pisau.

Aku meretas jarak terlalu panjang, jalur untuk mencapai kau dipenuhi semak berduri dan aku senantiasa berlari mencecap darah. Bertanya kepada gelap perihal rumah yang benar, mata angin malah mentertawakan.

Bulir embun di permukaan daun menjelma bayang mata. Tak dapat kutanggalkan meski sejenak. Kau menanami ruang jantungku dengan pohon jambu tempat burung kenari bersiul dan hinggap. Kau pandai mengusir jenuh yang menjadikanku pengap.

 

Karawang, 20 Februari 2018

 

 

Begadang

 

Aku mengulur waktu tidur merasa malam masih jauh

Ada banyak muatan di kepala yang akan dituangkan

Pada selembar kertas dan sepi biasa kulewati sambil menyeduh

menuangkan air mendidih ke dalam cangkir putih

 

menyesap kopi yang mulai hangat

aku membayangkan hari-hari telah usai

penuh harap

hubungan berjalan di tempat

saat benih pertemuan kusebar di sekelilingmu

menyelimuti rasa sakit

dan gelisah kian berkecambah seiring detik jam

menuju pagi penuh basah dan bau tubuh dari masa lalu

 

aku mulai menambah ingatan kedalam gelas

saat cemburu lekas datang

mencampur sedikit gula karena takut kopi hanya manis di awal

sedangkan sayang telah lama tandas

dan isi hati hanyalah ampas

yang menemani gelapku antusias

 

7 april 2018

 

 

 

 

 

Ketujuh Sayap

 

Aku menunggu kau semalaman, berdandan di depan cermin sebelum tamasya dengan pria lain. Beberapa dering notifikasi dariku luput, tak kau hiraukan karena asyik berbincang. Pada bulan September rasa ini menerobos ke masa sekolah untuk merengkuh pojok mimpi milik engkau dalam tidur. Sementara kisah cinta pahit.

Dan manis tiba, ketika dukungan teman terbaik mendarat di telinga. Hadir kau serupa gerimis yang menyembuhkan luka, gemericik yang kau cipta turut menemani dalam ketanpaan, meski keberadaan menyembunyikan jerit, setiap puja tak berbalas dan langkah kaki kau terlalu lebar untuk kusejajari.

Aku mengarang syair penuh keluh, menyampaikan gelisah kepada aliran sungai, bebatuan jalan dan tanda gincu di gelas bekas kau minum setelah batal bicara.

Kepala menengadah sebelum hancur berkeping keping ketika ingin berpaling. Nada sumbangku menari bersama kegetiran. Sekelebat harap cepat hilang. Kutemui pagar tinggi di hadapan hati engkau. Ingin menggugah janji bertemu. Namun aku jatuh telungkup, rubuh dan retak tak sempat memanjat sebab di balik sana, seseorang dari mimpi kau bersiap menyayat kepalaku dengan pisau.

Aku meretas jarak terlalu panjang, jalur untuk mencapai kau dipenuhi semak berduri dan aku senantiasa berlari mencecap darah. Bertanya kepada gelap perihal rumah yang benar, mata angin malah mentertawakan.

Bulir embun di permukaan daun menjelma bayang mata. Tak dapat kutanggalkan meski sejenak. Kau menanami ruang jantungku dengan pohon jambu tempat burung kenari bersiul dan hinggap. Kau pandai mengusir jenuh yang menjadikanku pengap.

 

Karawang, 20 Februari 2018

 

 

 

 

 

 

Profil Penulis

Ilham Maulana
Ilham Maulana
Ilham maulana lahir di Jakarta, juli 1997. Tinggal di karawang dan sedang menempuh pendidikan strata satu di Universitas Singaperbangsa Karawang program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah mengikuti kelas menulis yang diselenggarakan Perpustakaan Jalanan Karawang. Menyenangi bacaan bergenre fantasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.