Puisi

Puisi-Puisi Ade Gunawan; Origami Kapal Terbang

source deviantart

Origami Kapal Terbang

Pagi ini seseorang dari punggung
Berkunjung ke dadaku yang penuh sayat
Ia memberikan kukunya yang tajam
Kulipat dan dikuburkan

Pada suatu hari, di masa lalu
Ketika bunga-bunga bertebaran pada dada kami berdua
Janji itu mawar yang merah
Seringkali ingkar adalah gelas pecah

Sebelum semuanya jadi masa lalu
Sebelum apa yang disebut cinta itu habis-habisan ingin kulupakan

Kubuat sebuah catatan
Di mana nama kekasihku jadi kusam
Kulipat kugenggam jadi origami kapal terbang

2017

Menunjukkan Diri

Kubayangkan tubuh ini dipenuhi mata
: Sepasang mata hitam putih yang biasa kuletakkan senja di dalamnya
Hanya bungkus awal
Tempat orang membaca
melihat kedalaman
Di dalamnya ada sebuah mata yang seringkali tertutup, dan dianggap mati.

Suatu nanti, hidup setelah mati
; Yang ada dalam tubuhku membuka mata
membuka mulutnya sendiri-
Sendiri, bercerita tentang sudah
Hal-hal yang disukai meski sembunyi

2017

Yang Tak Dikatakan Jarak, Terangkum dalam Sajak

Sebab, yang datang dengan tadah tangan
akan berjalan menjauh dengan punggung yang sayat
atau hanya sesuatu yang membikin dadanya bergelombang seperti ombak

Selalu tak siap dengan yang hilang
atau tak siap untuk kembali
seperti perasaan memiliki pada yang tak pernah kita kenali

senja yang kita anggap kekasih
menunggunya seperti tak akan pernah dikecewakan
kemudian hujan turun
hari beranjak malam

aku ingin bersedih
atau sekadar menyalakan kesepian
kehilangan yang tak bisa dicegah
membuat hati terasa seperti gelas pecah

hilang, pandang pada matamu telah jauh
aku tak lagi menemukan sepatumu di antara guyur hujan di depan rumah
atau lenganmu pada hujan di mata.

Barangkali, memang begitu, kehilangan adalah cara lain pertemuan;
pada sayat, pada tanda
pada sesuatu yang tak pernah diduga.
Sesuatu yang sulit diterka.

2017

Lima Sajak Pendek Tentang Kenangan

I.
Suatu malam, sebelum tidur
kau menatap diri sendiri di cermin
masa lalu
Membuka kepala pelan-pelan
Adalah wajah seseorang yang alun di langit kamarmu.

II.
Di matamu seseorang telah jadi pohon tinggi menjulang
Berimbun daun dan dahan
Kau tak tahu perihal menampung kering dan patahan

III.
Semenjak kereta tiba dan suaranya tak lagi kau dengar
Bangku peron itu kau peluk berulang-ulang di ingatan
Sebagai peluk terakhir
Bagi musim yang membawa tubuhnya pergi.

IV.
Hari-hari berikutnya, kau menghabiskan banyak sajak sedih.
Menulis dan membacanya berkali-kali.
Sampai kau tersesat dalam isak sedih sajakmu.

V.
Suatu pagi, kau terbangun
dengan ingatan baru yang segar
Lebih segar dari asri udara pagi .
Di kepalamu kau hanya mengingat satu kisah;
kasihnya telah pergi.
Dan untuk apa berkeluh kesah.

2017

Melupakan yang Kucintai untuk yang Selalu Mencintaimu

Kucintai kau serupa menangkap kupu-kupu
Kukejar kau dengan sejaring kata-kata
Kau semakin berlari
Kau semakin terbang tinggi

Duduk aku bersandar pohon besar
Berteduh rimbun ingatan
Mengingat sejauh mana aku sudah berjalan
Sehabis apa yang telah kuberikan

Pulang aku mencuci wajah Menyingkirkan lelah mengejarmu
Langkah yang tak pernah sampai
Gapaian yang selalu tak sampai

Di atas hampar kain tabah
Bersimpuh aku menengadahkan tangan
“Tuhan,
Maafkan aku
Melupakanmu sepanjang hari
Mengejar yang belum tentu mencintaiku
Kini aku kembali
Berwajah lumpur dosa”

Langit-langit bercahaya
Sebuah nyala jatuh dalam kepala

2017

Profil Penulis

Ade Gunawan
Ade Gunawan
Pustakawan Pustakaki. Sangat menggemari baca buku puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *