Puisi

Puisi-Puisi Ade Gunawan; Aku

Aku

;untuk Anne

Aku terbang dan kau ikut. Menyaksikan dunia dari luas matamu. Di mana aku menemukan dunia dalam bingkai bunga-bunga.

Aku berjalan pelan kau berjalan di sampingku. Dunia dalam genggam tangan, sebab kehangatan mengalahkan resah yang dingin dan butuh selimut.

Aku menangkap lelehan hari yang buruk dari rasa takut dan cengkeram elang hitam. Aku pergi pada doa dan membikinkan gumpal awan pada kertas dengan kau sebagai nama yang kueja.

Jalan lurus menuju pantai. Sebentar lagi sampai. Kau siap menjadi telanjang dan aku memotretmu ke dalam kesedihan jarak yang panjang. Sebab sebuah mata telah menangkapmu dan aku ingin bersedih dalam bingkai kaca jendela.

Alangkah indah cinta, o, kau adik yang memenjarakan tubuhku pada rumah luas bernama menginginkanmu. Tiadakah yang lebih indah dari menatap dunia dari bingkai matamu yang biru. Meluaskan langit pada ceruk matamu yang hampar. Menghamparkan mimpi-mimpi jagoan kecil yang berlari-larian dalam kepalaku.

Itulah rindu. Berulang kau bunuh tetap tumbuh. Berulang kau buang tetap sayang. Itulah aku.

Segalanya berubah menjadi ingin milikmu. Milikmu jadi milikku. Matamu jadi cara paling baik melihat senyumku. Bermimpi baik tentang masa depan yang masih mendung dalam kepala.

Awan-awan bergulung ombak di dadaku inginkan kau jadi karang pemecah resah.
Segalanya menjadi indah.

Bersamamu jadi waktu berbuah nikmat.

2017

 

Kau Jauh, Kepalaku Hujan

Hujan,
Kenangan jatuh.
Di kepalaku musim susah dibedakan
segala waktu selalu bermukim engkau.

Suaraku parau, seperti hilang gemuruh
tak bisa lagi berteriak
berlari di bawah lumuran doa langit
dengan bibir penuh gumpal; kata, kota, dan apa-apa yang tak bisa dikatakan awan pada hujan.

Di taman November, aku coba pahat waktu pada bangku
Sebab, waktu selalu mengayunkan kaki,
kau tak bisa berdiri di sisiku.
kata-kata telah hujan,
kenangan makin deras.

Aku melihat musim semakin tak tentu, tubuhku semakin candu
menginginkan matamu jadi hangat cahaya di padam lampu
ketika hujan malam

dan tubuhku menggigil kesepian.

Purwakarta, 2017

 

November

Pada November ini kau tertidur dengan mimpi yang baik.
Jalan lurus terbentang adalah arah menuju rumah paling dekat
di mana, seorang kekasih duduk dan menyiapkan makanan.

Kau yang membawa terang lampu
mulai masuk ke dalam
ruang berukuran kecil, tapi penuh dengan mimpi yang luas
di sana kau membaca namamu sendiri sebagai cermin.

Kau berkaca,
lamat-lamat mendengar suara hujan, dan
kau menerka di mana
dan siapa

matamu terbuka,
–sepasang mata sedang menangis di samping tubuhmu.

2017

 

Menonton One Day

Ia membayangkan dirinya adalah peran utama dalam film
Menyukai perempuan cantik di kantornya dan selalu diam-diam menatap matanya
dari jauh tersenyum

ia mengetahui kebiasaan perempuan bersenyum manis itu
setiap hari saat tiba di kantor;
datang paling akhir dan sulit menemukan tempat parkir

ia tahu, perempuan berambut tergerai panjang itu tak menyukai lagu yang hits saat ini
perempuan itu suka bermain game terlebih dulu sebelum akhirnya fokus pada pekerjaan kantor

Ia mengetahui, mata perempuan itu adalah jurang yang dalam
maka ia tak bisa terlalu lama menempatkan pandangannya pada mata indah itu.
Ia tahu, perempuan itu akan selalu tersenyum pada siapa saja
termasuk pada seorang petugas kebersihan yang biasa merapikan meja kerja, padahal yang membereskan itu adalah dia,
tapi perempuan itu tak mengetahuinya

Ia menjadi pengecut yang menyimpan perasaannya sendiri
Ia selalu saja jadi pembohong yang mengatakan; ia tak jatuh cinta

pada suatu hari, ketika jam tangannya menunjukkan pukul sembilan pagi.
Perempuan itu menyadari mejanya masih berantakan–tak seperti biasanya
Padahal petugas kebersihan masih ada

pada suatu ruang, dia, lelaki itu telah memutuskan untuk tak bekerja lagi
dan perempuan itu takkan menyadari semuanya.

2017

(dari film “One Day” Banjong Pisanthanakun)

Suatu Sore Ketika Hujan Turun Begitu Deras

aku ingin berkunjung ke dalam kepalamu
Menengok hal-hal yang kau suka
Mencari nama siapa yang kau buka sebelum terpejam mata pada malam hari

Aku mau berkeliling dan mengunjungi sudut-sudut sempit dalam kepalamu
sesuatu yang membuatmu bersedih, hal yang dengan mudah membuatmu tersenyum, hal yang menjengkelkanmu, hal yang ingin kau pergi darinya tapi tetap tak bisa.

Kemudian aku masuk, pada hal yang membikin kau suka tersenyum dan mengembangkan bibir
Di sana aku terjebak begitu lama
sampai aku tertegun dan lupa lena

lalu aku menyadari di ruang itu tiada namaku sebagai alasan kau tersenyum
aku mengunjungi ruang sedih dan tak juga menemukan namaku

dalam kepalamu tak ada malam
setiap waktu adalah pagi
kau biasa membuka diri untuk tersenyum dan berlari.
Dalam kepalamu aku ingin jadi yang tak pernah tertidur mengunjungi sudut-sudut yang membuatmu ingin bangun pagi dan berangkat kerja.

Dan, pada sore ini hujan turun deras
dalam kepalaku
dan itu adalah keinginanku
untuk tinggal dalam kepalamu
lebih lama sebagai
Bahagia.

2017

 

Profil Penulis

Ade Gunawan
Ade Gunawan
Pustakawan Pustakaki. Sangat menggemari baca buku puisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *