Esai

Poligami: Antara Agama dan Budaya

“Perkenalkan nama saya Bapak Fulan, istri saya baru satu dan insyaallah bakal nambah lagi.” ucap salah satu jamaah memperkenalkan diri yang kemudian disambut tawa dan tepuk tangan seisi ruangan. Seolah monogami adalah bahan tertawaan dan poligami pantas diberi tepuk tangan.

Tidak hanya itu, beberapa kali saya mendapati pamflet poster yang bertema “Kiat-Kiat Sukses dalam Berpoligami” lengkap dengan foto laki-laki dan empat istrinya. Belum lagi para ustadz kondang yang senang pamer kedua istrinya di hadapan kamera. Seolah-olah sedang memamerkan benda-benda kebanggaan. Benda!

Di zaman dahulu. Setahuku poligami diperbolehkan dalam Islam karena menyimpan alasan-alasan historis. Misalnya kenapa poligami dibolehkan di masa-masa awal Islam, sebab orang-orang dahulu di Arab terbiasa menikahi beberapa istri, bahkan simpanan. Tapi ketika hal tersebut dibawa ke zaman ini jadi terasa aneh. Lebih anehnya lagi perempuan yang dijadikan subjek malah seperti menyepakati atau bahkan bangga jika dirinya dipoligami, dengan alasan imbalan syurga. Seolah-olah poligami dipandang sebagai ibadah dan tuntutan syariat.

Padahal, dalam Islam poligami bersifat kebudayaan ketimbang syariat, atau lebih tepatnya penetrasi syariat dalam kebudayaan masyarakat arab. Yaitu suatu kebudayaan yang terpelihara di banyak tradisi masyarakat, kemudian agama (syariat) masuk dan ikut campur dalam mengatur tradisi tersebut.

Dari dua fenomena tersebut tadi, bisa disimpulkan bahwa memang banyak sekali jalan untuk melancarkan kampanye ideologi. Agama itu bersifat publik, namun ketika ada intervensi kepentingan pribadi yang mengatasnamakan agama, persoalan akan menjadi lain.

Salah satunya dalam ayat ini: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.”

Bagi mereka yang pro terhadap poligami, ayat ini bisa dijadikan rujukan kuat untuk melakulan praktik tersebut. Padahal bisa kita lihat bahwa konteks pada ayat tersebut lebih terkesan melarang ketimbang memerintah.

Jika dilihat dari konteks sosial masyaralat Arab, jelas ayat ini turun karena kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul dari keadaan masyarakat arab yang sangat patriarkis dan misoginis. Masyarakat arab saaat itu sangat gemar mengkoleksi Istri bahkan bisa sampai 10 perempuan. Kemudian, ayat ini datang sebagai upaya membatasi dan mengikis kebiasaan tersebut.

Dalam redaksinya yang membatasi satu sampai empat istri bahkan dengan syarat tertentu juga dengan penambahan kalimat “jika kamu takut tidak dapat berlaku adil” itu berarti kemajuan dan keberpihakan islam dalam keadilan sudah sangat terlihat bagi perempuan.

Pentingnya belajar tafsir dengan baik dan tidak seenaknya menjadi salah satu modal utama dalam menganalisa ayat-ayat alquran, sehingga tidak akan terjadi kesalahpahaman dan kekeliruan dalam mengimplementasikannya kedalam kehidupan.

Sepertinya, dari penjelasan-penjelasan di atas bisa ditarik benang merah bahwa para tokoh agama seharusnya tidak melulu membahas atau mengagungkan poligami. Jika memang ada yang merasa poligami itu syariat daripada kebudayaan yang diatur itu berarti dia seharusnya hidup di zaman berabad tahun yang lalu.

Karena hakikat tujuan poligami yang sebenarnya adalah mengangkat derajat kaum perempuan dari ancaman masyarakat yang misoginis. Bukan berdasarkan hasrat seksual semata, yang saat ini malah definisinya terlihat seperti itu.

Selain itu para aktivis perempuan tegas menolak praktik poligami tersebut dengan alasan bahwa poligami adalah representasi dominasi laki-laki terhadap perempuan. Yang juga menimbulkan kemungkinan kuat terjadinya hal-hal yang diskriminatif.

Dalam hal ini bukankah para pemuka agama seharusnya turut berperan dalam meluruskan paradigma masyarakat tentang hakikat poligami yang sebenarnya?

Daripada berimajinasi memperbanyak istri, bukankah masih banyak pembahasan yang lebih fundamental? Seperti pentingnya membela kaum yang tertindas,  saling menghormati antar pemeluk agama, dan sebagainya.

Jika bahasan soal hasrat saja tidak khatam, bagaimana dengan hal lain yang sifatnya lebih darurat?

Profil Penulis

SWARASAUDARI
SWARASAUDARI
Sebuah ruang sederhana tempat belajar ilmu gender dan feminisme; menerima layanan curhat bagi korban pelecehan/kekerasan. Silakan email ke swarasaudari@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *