Pitbull

source google

SURIA berlari dan terus berlari ke arah lebak, dikejar seekor anjing kampung yang semakin kencang larinya. Di ujung jalan, ada jalan berkelok yang sedikit menanjak. Dua bocah, Edin dan Rian, sudah menunggu di balik tikungan sambil memegang senjata: batu kali, suluh, dan karung. Tentu, mereka akan menghakimi anjing galak itu saat itu juga.

Tapi semua rencana itu tampaknya sia-sia. Ketika Suria berhasil melewati tikungan itu, Rian dan Edin kecolongan. Mereka cuma saling bengong saat Suria dan anjing itu lewat. Adegan itu terasa cepat sekali. Dua bocah itu melempari anjing itu dengan batu kali dan suluh untuk menghambat laju si anjing. Meski kepala si anjing itu kena dua batu, ia masih punya tenaga untuk berdiri. Ajaib.

Suria yang mulai kehabisan napas memilih untuk lompat ke sungai. Byur! “Anjing, jadi basah aku,” katanya. Edin dan Rian—yang secara tak sadar ikut berlari—berakhir di pohon mangga.

Sebelum peristiwa ini terjadi, sudah banyak anak yang menjadi korban. Ada yang tercebur ke sungai seperti Suria, ada yang tidak bisa turun dari pohon seperti Edin dan Rian, bahkan ada yang pulang dengan bekas gigitan di kakinya. Orang-orang di kampung sudah sangat geram dengan kehadiran anjing ini, kecuali Agus Sirep.

Agus Sirep, pria yang memasuki usia 40 di akhir bulan ini, selalu tertawa terbahak-bahak ketika melihat Si Pitbull mengejar-ngejar orang. Hal yang paling disukainya adalah ekspresi wajah orang-orang yang dikejar anjingnya. “Lucu sekali, ha ha,” katanya.

 

MEMBAWA sayap ayam yang telah dilumuri serbuk racun tikus, Suria pergi ke dekat kandang Si Pitbull. Kandang besar itu cukup mewah untuk anjing jelek itu. Di belakang Suria, Edin dan Rian mengikuti sambil menenteng sandal di masing-masing tangannya. Mereka yakin, sandal itu bisa menjadi senjata yang cukup bisa diandalkan pada situasi yang tidak diharapkan. Bahkan jika tidak jadi senjata, mereka cukup yakin, bahwa lari mereka akan lebih cepat jika tidak menggunakan alas kaki.

“Kenapa dinamakan pitbull? Ia kan anjing biasa.” tanya Edin pada temannya.

“Entahlah. Kurasa karena kegalakannya.”

Suria melemparkan daging itu ke arah kandang Si Pitbull. Lalu dengan mengendap-endap, Edin dan Rian mencari tempat persembunyian yang dirasa cukup aman menampung mereka bertiga. Mencari tempat yang terlindung dari terik matahari agar mereka bisa memastikan anjing terkutuk itu memakan seluruh racun yang telah disajikan Suria tanpa kepanasan.

“Itu Si Pitbull!” ujar Rian. Bocah itu berteriak kegirangan, dan matanya menunjukkan sesuatu yang berkilau.

“Sssh. Jangan ribut, dong. Nanti Si Pitbull ke sini!” bisik Edin. Tangan dan kakinya gemetar. Meski begitu, dari wajahnya tampak sebuah kelegaan, mengetahui bahwa Anjing itu tidak akan mengejarnya lagi.

“Makan tuh, anjing!” Suria tidak kalah bergembira. Inilah momen di mana ia akan dikenang sebagai pahlawan kampung.

Setelah menyantap-habis racun itu, Si Pitbull meluncur ke arah kandangnya. Tepat di mulut kandang, anjing itu jatuh.

“Dia mati?”

“Ha ha! Sukses!”

Tapi tubuh Si Pitbull tiba-tiba bergetar lagi.

Ketiga bocah itu pergi dengan wajah puas dan perasaan bangga. Mereka menyebarkan kematian Si Pitbull ini ke semua teman sebayanya. Kalian bisa bermain dengan aman, tanpa perlu lompat ke sungai, atau susah turun dari pohon, atau menghabiskan dua botol obat merah, kira-kira itulah yang diucapkan Suria, Edin, dan Rian.

Agus Sirep menyaksikan kejatuhan anjingnya itu dari balik jendela. Si Pitbull. Barangkali ini sudah saatnya ia mati, pikirnya. Memang tidak ada yang bertahan selamanya di dunia ini. Cepat atau lambat, pikirnya. Ia mematikan lampu, lalu menutup tirai.

 

MATAHARI belum tinggi, anak-anak baru saja selesai bersiap untuk pergi ke sekolah. Tingkap warung baru saja dibuka, pasar baru saja ramai. Agus Sirep memandikan anjingnya di pekarangan rumahnya –dengan senyum lebar dan gerakan penuh semangat. Sebelumnya, Si Pitbull terbangun karena kepalanya dipatuk ayam milik tetangga dan lalu mengejarnya. Agus Sirep tidak menyangka, yang membangunkan Si Pitbull adalah seekor ayam. Ajaib.

Suria yang baru saja hendak melewati rumah Agus Sirep mendadak memutar arah dan mengambil langkah seribu. Anjing, katanya. Semuanya gagal. Namun kini ia mesti menanggung dua hal yang mengganggu hidupnya. Ia mesti memikirkan cara menyingkirkan anjing itu, dan menanggung malu di depan teman-temannya. Sombong bukan cara yang baik untuk terkenal, pikirnya.

Sebetulnyalah Suria bisa memaafkan anjing sialan itu, jika saja adiknya yang digigit bisa mendapatkan kakinya kembali. Suria juga bisa mengampuni Agus Sirep jika saja lelaki brengsek itu bertanggungjawab. Tapi semuanya tak bisa kembali. Keluarga Suria tetap kesulitan. Agus Sirep tak kehilangan uang sepeser pun.

Banyak yang geram gara-gara peristiwa itu. Agus Sirep yang lumayan kaya itu tak bertanggungjawab. Semua geram. Tapi tak ada yang berani melawan. Agus Sirep sedikit banyak membantu pembangunan di kampung itu. Selain itu, warga tak bisa melupakan utang pada Agus Sirep yang akan dibawa sampai mati bila tak dibayar.

Kini, Si Pitbull sudah bebas kembali untuk mengejar siapa pun yang ingin ia kejar. Kembalinya Si Pitbull di jalanan kampung turut mengembalikan keberanian Suria untuk membunuhnya. Suria, dengan seluruh rasa malu yang mesti ditanggung setelah dicap sebagai seorang pembohong, kini berjanji pada semua orang untuk membunuh Si Pitbull secepatnya. Banyak dari temannya yang menyangsikan perkataannya itu. Dan menyangsikan bahwa Suria bisa membunuh Si Pitbull. Tapi ia tak peduli.

Sepulang sekolah, ia mengganti baju seragam dengan kaos oblong tanpa mengganti celana birunya. Tanpa basa-basi, ia langsung mendatangi rumah Agus Sirep sambil menenteng kunci inggris di tangan kanan, dan karung di tangan yang lainnya. Dengan satu gerakan cepat, Si Pitbull keluar dari kandangnya. Anjing itu langsung keluar dan menyalak.

“Mati kau, anjing!” teriak Suria. Ia berteriak cukup keras untuk membuat pemiliknya muncul, tapi ia tidak memikirkannya. Lalu, dengan penuh kebodohan, Suria melempar kunci inggris itu ke arah Si Pitbull tanpa memperhatikan arah gerak anjing itu terlebih dahulu. Gagal. Kunci inggris itu mendarat di atas kotoran Si Pitbull yang masih basah. Si Pitbull pun langsung mengejar Suria tanpa aba-aba terlebih dahulu. Tapi Suria sudah tidak peduli lagi, ia akan membunuhnya walau dengan tangan kosong.

Si Pitbull menerjang Suria dengan kecepatan tinggi. Tapi dengan satu gerakan yang sigap, Suria sudah menarik kaki cukup jauh ke belakang. Dan dengan tenaga yang sudah matang ia mendaratkan punggung kakinya ke wajah Si Pitbull. Dengan satu serangan itu, yang Si Pitbull tidak bisa menghindarinya, Si Pitbull langsung terkapar di tanah. “Mati kau, anjing!” teriaknya.

“Hei! Apa-apaan kamu!” dari dalam rumah, Agus Sirep berteriak dan langsung berlari menangkap Suria. Suria yang sedang kalap itu hanya terdiam ketika tangan kiri Agus Sirep mencengkeram bajunya dan tangan yang lainnya sudah mengepal keras. Kepalan tangan Agus Sirep sudah dipenuhi tenaga, dan bisa langsung mendarat di wajah Suria. Buk! Suria terkapar di tanah.

“Anjing, kamu!”

Memang tidak ada yang bertahan selamanya di dunia ini, apalagi sesuatu yang bernyawa. Mati adalah hal yang pasti dihadapi yang bernyawa. Sekeras apa pun usaha yang dilakukannya untuk tidak mati. Dan membunuh bukanlah satu perbuatan yang mulia, meskipun itu membunuh anjing galak yang sudah meresahkan warga kampung.

“Anjing! Kau membunuhnya!” Agus Sirep menatap anjingnya.

“Anjing itu benar-benar membuat jengkel orang sekampung! Dan kau! Adikku kehilangan kaki karena kau tak bertanggungjawab!”

“Peduli apa dengan adikmu, anjing!”

“Peduli apa dengan anjingmu, anjing!”

SURIA dan Agus Sirep dihadapkan ke hadapan Kades oleh warga. Setelahnya, Si Pitbull dikuburkan selayak-layaknya. Suria disumpah untuk tak membunuh apa pun lagi. Dan Agus Sirep punya peliharaan baru. Kali ini namanya Bulldog.

Profil Penulis

Rauf Fauzy
Rauf Fauzy
Tinggal di Bandung. Menulis cerpen, puisi, dan esai. Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Karyawan di ASAS UPI.
Tulisan yang Lain

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.