PESAN HUJAN KEPADA IKAN [PUISI-PUISI A. M. SOPYAN]

Pesan Hujan untuk Ikan
:kepada Yudi Sobana

Matanya runcing menatap ke langit.
Ia menantang untuk tak berkedip
sehabis hujan genit menyentuh retinanya.
Sore itu,
Aku menyusupkan ajal ke dalam dongengan.
Secara mendadak.
Ia berpetuah:
Hujan bisa selalu kau dengar
sekalipun kau menutup pintu dan jendela.
Ia adalah bunyi untuk suara dan sunyi untuk telinga.

Improvisasi Darbuka
:kepada Ahdi dan Erivan

Terbang melengking suara itu pada atap-atap kobong.
Dan aku, kau
adalah not-not minor
dari sebuah lagu yang bernama kenangan.

Lapangan Tembak
:epada Taufik Ismail

Seorang laki-laki memang tidak pernah bisa dikalahkan.
Memang kerap kali takdir curang melanggarnya.

Insomnia
sesaat ditendang kebumi.
Kita berwujud telanjang dengan tangis sebagai bahasanya.
Hingga kita melanggar semacam perjanjian.
dengan menyiasati malam yang sudah ditabiatkan sebagai jendela

Di Depan Gramedia

Menemui Angga, Abdan, Yuyun dan Fathiya.
Tak perlu skenario!
Jika seorang lajang telah berhasil menempuh perjalanan
di antara rimba yang paling belantara.
Maka ia berhasil tumbuh menjadi pohonan.
Dari biji menjelma akar dan dari ranting ke pucuk.
Ia akan saling bersentuhan dengan udara, saling bersinggungan dengan matahari.
Sebab,
Rindu adalah benda
Bagi mata yang tak bisa menemukan sosok.
Bisakah bercakap barang sebentar?

 

 

Profil Penulis

A. M. Sopyan
A. M. Sopyan
Lelaki penggiat taman baca socety yang cukup berbahaya, menggoda dengan segala puisi dan skenario dramanya.