PERMAINAN-PERMAINAN YANG TAK PERNAH USAI [PUISI-PUISI YUDANTO KURNIA]

 

Permainan-Permainan yang Tak Pernah Usai

 

Seperti mati, adalah permainan petak umpet di halaman.

Kau senang bersembunyi di balik lemari kayu.

Sambil mencari-cari yang sulit ketemu.

Seperti memikirkan  nyala lampu dalam kulkas setiap pintunya ditutup perlahan.

Atau cara sederhana memikirkan kedewasaan, seperti meja kerja, dasi dan jas di antara pintu kulkas dan bau uang.

Dan  kematian tetap setia mencarimu,

seperti kawan masa kecilmu dulu

 

Setelah lama bersembunyi, kematian menemukanmu sedang lupa di dalam lemari kayu.

Ketemu kau, kata Kematian dengan riang.

Sekarang giliranmu mencariKu di kepercayaanmu.

                                                                                                            Juli 2018

 

 

 

Melihat Jack dan Rose dari Matamu

 

Matamu sepasang laut

yang terbuat dari sepasang doa

ketika Titanic karam di lautan matamu,

air menyerbu dan memutar balikan kapal

Lalu Jack dan Rose tenggelam dan

saya membayangkan matamu menjadi sepasang sekoci yang dipenuhi doa

mereka berdoa dan jarak dimakamkan dalam matamu

 

dalam doa di matamu  :

ada sepasang  gigil yang dihangatkan  waktu.

 

Juli 2018

 

 

Selamat Hari Asu

 

Mari kita saling meralat pikiran, menjadi  Ibu yang  baik bagi kata asu

Ibu  yang tidak benci asu, kecuali  ada asu  jahat dalam mimpi kita.

“Pergi kau asu, jangan makan mimpi  anak-anakku

Selajutnya mari memelihara kata asu yang menjaga hidup  tetap lucu meski sedang tidak ada lucu-lucunya.

Setelahnya mari mendoakan kata asu dalam tubuh kita  tetap sehat dan segar bunyinya.

Meski kadang badannya kurus dan bunyinya murung.

“Semoga kata asu  yang tumbuh sewaktu kita saling mencintai, tumbuh  menjadi kata asu kecil yang lucu yang menjaga mulutmu untuk terus tersenyum”

 #Selamat Hari Asu

 

 

 

Lomba Melengkapi Wajah

Memeringati hari kemerdekaan di kampung saya,

Mari kita buat lomba melengkapi wajah untuk anggota dewan yang tidak punya mata, telinga dan mulut untuk kita

Anak-anak sedang mencari dengan riang

di halaman belakang , mereka menemukan mulut yang sedang berbisik-bisik.

Ia mendengar mulut yang nglantur tentang

Mata yang  hilang, orang bilang ia sedang bergoyang-goyang di konser dangdut di kampung seberang.

Hanya telinga yang ditemukan masih waras

sedang menjadi  lubang kubur terpercaya untuk mendengar sunyi dan ribut mulutnya.

 

 

Yang Saya Sukai dari Kedua Matamu

 

(1)

Seperti sepasang roda motor cicilan

yang menyederhanakan jalan

Seperti sepasang doa

yang menyederhanakan jarak

 

(2)

Saya mencintai dengan sederhana

dengan sepasasang roda motor cicilan

Yang mengantarkanmu jalan-jalan

 

dengan sepasang doa,

yang menggenggam tanganmu dari keajuhan

 

 

 

 

 

 

 

Profil Penulis

Yudanto Kurnia
Yudanto Kurnia
Seorang Mahasiwa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Bukan penulis, hanya senang menulis.