Puisi

Perasaan dalam Pasar [Puisi-Puisi Rizki Andika]

Sumber gambar dari sini

 

Perasaan dalam Pasar

aku bersembunyi di balik
kata-kata amis basah
yang dilemparkan
puluhan pasang mata
dalam tengah riak pasar

kepada gelap ruang ini
sudut toko emperan
dan meja tumpah
di banyak tempat
jual beli jadi

nyaris tak ada
waktu hadir dan
melangkah menuju
lorong ujung tempat
tubuh engkau berdiam

menyala-nyala serupa
kuning lilin kala listrik
padam dan cuaca juga

aspal menjadi licin
tercampur keringat
hujan menjiplak
cokelat kaki kecil
di atas sandal murah

hampir aku jatuh
ke tumpukan sampah
sebab malu tak pernah
habis terjual dari tubuh

salahku tak mampu
menawarkan rasa pada
subuh atau sore saat engkau
melintas penuh harum tujuh bunga

Karawang, Maret 2018

 

 

 

Anggrainim*

#1
selepas kabar sayembara
raja damanik terdengar
di tanah nusantara
perasaan hati berdengung
menggema bunyi paras
cantik anggrainim bergelantungan
di kepala membayangkan riang
tarian manotor bersama putri
lenggak-lenggok dalam pesta
di kerajaan siantar istimewa

akudatang dengan kereta kuda
membawa syair yang kutangkap
dari perasaan matahari
terhadap langit merah jambu
separuh musim bumi kusimpan
rapat-rapat di tiap kata dan
akan melepaskan kepak burung
deru ombak yang membawa
buih abadi dan angin tenang
setelah kaubaca dalam-dalam
aku ingin engkau juga menyimpan
awan bertabur warna surga
diselimuti kuning perasaanku

#2
terlambat aku di paruh waktu
seseorang menggenggam lengan
isyarat menjadi pemilik dan memandang
wajah anggrainim yang cerah merajalela
menyilaukan perasaan dalam dada
separuh semesta dalam syairku
jatuh ke lubang hitam genangan
kecewa milik orang-orang tersisih
mayapada seolah malu menatap
habis aku dijatuhi air hujan dan
merobohkan tangis seisi mata
rasa hilang dikuras kenyataan
putri tak dapat kugenggam

berlari aku sembarang
menunggang badai
menembus belukar berduri
sesekali darah mengucur
kuseka sementara dengan kain
sebab tak ingin mati lebih dulu
dan melabuhkan diri
di sembunyi gua
dekat sungai bah bolon
menjaga tubuh dari mata
kehidupan, biar hitam menghunjam
tak akan kutinggalkan lara ini sendirian

bersama gelap yang mengeret jiwa
ke kelam dinding goa aku menari-nari
kesedihan mengikat rasa dengan sunyi
sendiri mencekam perlahan-lahan
berkian-kian mengasakan anggrainim jatuh juga

#3
samar-samar seorang puan tertimpa sinar
bulan duduk termenung di atas batu besar
samping sungai penuh mendung di wajah
melulur kepala berkali-kali dengan air
menengadah dalam-dalam dan menangis
tak sadar sepasang mata menikam geraknya
dari dalam gua hitam yang lembab juga basah
sedang kilau berkelebat cepat di langit
menghantam pohon dekat puan menangis duduk
patahlah ranting menimpa wajah kelabu
darah mengucur menyatu dengan air sungai
bah bolon mengalir menjadi merah

tergesa-gesa langkah puan ke arah gua
seperti ingin menyembunyikan luka
di dalam lubang hitam sepertiku
tubuh puan memancar sinar bulan
sembunyiku hampir sia-sia saat ini
namun wajah puan tetap samar

haruskah aku menolong puan
menangis yang sedang luka?
sementara aku sama jatuh juga
tanya kepada dinding kelam

sukmaku tak mau diam
merasa tubuh anggrainim
datang berdegup tak pasti
hancur serupa hilang
entah berada di mana

anggrainim, kau kah itu?
kemari aku pulihkan

puan menangis mengangguk
dan melangkah perlahan menuju mataku
cepat-cepat kupeluk tubuh itu dengan ekor
wajah anggrainim pucat kehabisan darah

kucabut sisik cokelat di dada
kutusuk dengan kuku
jadi sobek karena
merah mengucur
dari tubuhku
dan mati
namun
anggrainim
mewarisi darah
juga bentuk tubuhku
puan putri ular abadi saat ini

Karawang, Februari 2018

Keterangan
* Legenda putri ular kota Pematangsiantar, Sumatra

 

 

 

Rumput Bujang*

#1
kaudatang tanpa payung
saat kali pertama hujan tiba
berjalan dalam barisan gerimis
padahal langit sedang cerah

memberi rumput bujang
azimat bertahan hidup
dari segala bayang-bayang
cerita masa redup

seperti juru selamat
tuhan menurunkan engkau
memerangi gelisah
dalam diri

mengajakku berkunjung
ke pusat putaran waktu
menemui kilas balik
keresahan dalam jiwa

#2
di ujung dunia—
tempat istirahat matahari
bayang-bayang hitam
memeluk terang

perlahan engkau mengilau
seperti lintang kartika
menjadi gugus bintang
di langit november

segala syair bagi leluhur
telah terucap lantang
dan hujan panas
mulai menghilang

raga milik engkau merona ungu
rekah bagai bunga pukul empat
tumbuh di awang-awang

#3
setelah menyatu
bersama matahari
bianglala dari kau
menjelma teka-teki

sumpah, aku mendaki gunung
berharap bertemu
tapi langit tak membuka pintu

matahari meminta pulang
sedang aku menjadi angin tak berarah
menuruni kehidupan tanpa nafas
mencari engkau melewati batas

#4
azimat dari engkau menjadi bulu perindu
mengikatku dengan wajah lain
tapi teka-tekimu jelas mengugurkan
jeratan akar-akar baru

mereka jatuh: mati, menguning
menemui penyesalan
di atas kekecewaan

pontang-panting
terbawa angin
sebelum hancur
dimakan matahari

#5
saat udara mengisap diri
kenaifan menguasai raga
akal menjadi abu-abu
kelembapan masuk dalam jiwa

di kebun, aku membangun perapian
hangat menelan kenyataan
namun engkau tak dapat ditemukan

bayang-bayang pohon sawit
memayungiku saat menulis kisah:
hantu hujan panas**

tiba-tiba cerita beterbangan bersama lelatu
melayang ke langit
mencari sisa kasih

semoga
menembus batas dunia
dan sampai ke tempat engkau berada
saat ini

Karawang, November 2017

Keterangan
* Jenis rumput yang banyak tumbuh di Kalimantan
** Cerita mistis hantu penyembunyi anak di Kalimantan

Profil Penulis

Rizki Andika
Rizki Andika
Rizki Andika, lahir di Karawang, April 1997. Belajar menulis di Rumah Seni Lunar sejak 2017. Berkegiatan di Perpustakaan Jalanan Karawang dan menjadi mahasiswa di Universitas Singaperbangsa Karawang. Salah satu penulis dalam antologi puisi: The First Drop of Rain (2017), Anggrainim, Tugu dan Rindu (2018). Puisinya tersiar di Pikiran Rakyat. Dapat dihubungi melalui surel rizkiandika08@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *