Penemuan Mayat Pada Sebuah Puisi [Puisi-Puisi Yudanto Kurnia]

Penemuan Mayat Pada Sebuah Puisi

 

Ia mayat yang tenang, meski orang orang mulai mencemaskan ,

Apakah Tuhan menerima rohnya, setelah matinya yang penasaran.

Namun, wajahnya tersenyum seperti mati adalah permainan petak umpet di halaman.

 

Konon, dulunya ia  kata-kata yang rajin berpetualang.

Pada suatu ketika ia tersesat di dalam kepala seseorang.

dan mati karena terpleset ke dalam jurang

 

Tubuhnya tidak utuh, ia tinggal makna yang dirangkai,

Makna yang dirangkai tadi lantas dikafani

Dan dikuburkan dengan lupa  kecil,

dan marilah kita lupa bersama-sama  kalau ia hanya sekedar kata “kita”

 

Ia mayat kata-kata yang terpleset ke jurang dalam kepala seseorang.

Tadi pagi saya menemukannya lagi pada sebuah puisi

sedang tertawa-tawa

seperti lahir dari sebuah mati

 

Maret 2018

 

 

Rumah  Hujan

 

Setelah lama menjadi gelandangan,

Sekarang Keluarga Hujan tinggal di  rumah kecil,

pada botol kosong  di kamar  saya,

 

Rumah hujan,  rumah kecil yang sederhana.

Di teras depan ada kursi goyang ,ada beberapa buku  yang suka ia baca.

Ia suka begadang, menemani saya mengerjakan laporan. Kalau sudah demikian,

Hujan suka tidur dalam selimutku, sesekali mampir menjadi gelandangan dalam mimpi saya :

“Masih teringat pekerjaan lama ya ? tanya saya

Tapi hujan sudah tertidur pulas di rumah satpam yang menjaga mimpi saya.

 

Rumah hujan terbuat dari botol kaca.

Mungkinkah itu botol whisky, hmm mungkin saja.

Hujan suka mabuk, sembunyi-sembunyi di dalam rumahnya,

Supaya tidak malu dilihat istri hujan dan anak hujan.

Saya suka menemaninya menghabiskan malam.

 

Keluarga hujan  adalah keluarga yang baik, mereka suka menyalakan lampu dan menghangatkan waktu, ruang tamu yang terang dan istri  hujan yang pandai membuat susu.

 

Anak hujan yang kelak menjadi gelandangan pandai mengucap asu.

 

Maret 2018

 

 

(Berita Kehilangan)

Telah hilang sebuah buku biru,usianya sekitar 2 tahun masih kecil namun suka berjalan-jalan , terakhir kali terlihat di meja belajar seorang anak sedang belajar  mandi. Si pemilik tidak mencantumkan nama dan alamat pada buku biru. Sebab ia yakin bukunya cukup  dewasa dan akan kembali sejauh manapun ia pergi.

 

Buku telah menghilang selama 7 hari, barangkali kondisinya sudah agak kurus ketika ada yang menemukan. Sebelumnya  buku biru sempat merajuk sebab tidak diberi makan selama berhari-hari. Si buku suka nangkring di pinggir jalan, mendengarkan hujan , lalu menafsirkannya  di pinggiran  halaman kosongnya.

 

Ukuran buku agak besar, namun tidak besar sekali, yang pasti cukup untuk menampung kata-kata.  Beberapa tulisan ada didalamnya tidak pernah dibaca sebelumnya. Apakah itu buku harian seorang  wanita, hmm mungkin saja.

 

Ada indikasi kalau ia diculik, Mohon doanya ya supaya ia tetap selamat bagaimanapun kondisinya, sebab ia sangat berarti bagi pemilik. Ada imbalan khusus untuk yang menemukan

: Sebuah terimakasih dan halaman kosong untuk menampung rasa kesalmu.

 

Februari 2018

 

Pesan Singkat

Tenang,

Kata “Hai” yang kedinginan,

di kotak pesan telepon genggam,

lahir dari kulkas dan sebotol bir,

 

Tenang,

Kata “Hai ” yang sedang gigil

di kotak pesan telepon genggam

tumbuh  dengan masuk angin dan kerokan,

 

Tenang,

Kata “Hai ” yang setia menunggu pesanmu,

Kenal betul cara hidup dalam kenyataan,

yang menguburnya dalam-dalam di kotak pesan,

 

 

April 2018

 

 

Kata Pengantar  untuk Sebuah Antologi yang Pendek 

:Pada halaman kata pengantar 


Kata-kata telah ditulis seperti menyusun huruf-huruf menjadi rumah-rumah makna,

Rumah-rumah kecil yang senang minum kopi di pinggir kali,

dengan tawa anak kecil di atas sepeda roda tiga,

 

Ada juga kata-kata yang dijanjikan rajin membangun dirinya sendiri, mengaduk semen,mengisi pemahaman pembaca dan membangun tanda hubung sehingga ada tanda sama dengan di halaman depan,

 

Dan kau harus membeli antologi itu, kata foto penyair yang nampang di halaman akhir.

Wajahnya tersenyum,seperti wajah pemain kata-kata yang habis menang melawan usia.

Saya termenung setelah melihat harga yang terlalu besar untuk disepakati dompet saya,

 

Setelah melalui sidang panjang dengan dompet yang suka tidur siang,

saya membeli buku si penyair dengan utang dan gadai  celana .

Sampai di kamar saya membaca buku tanpa celana

Wah, ternayata kata pengantarnya memenuhi lemari, meski puisinya kabur dan ngumpet di kamar mandi.

Oiya bagi yang menemukan judul puisinya : ASU hilang di kamar mandi kamarku.

 

April 2018

Profil Penulis

Yudanto Kurnia
Yudanto Kurnia
Seorang Mahasiwa di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta. Bukan penulis, hanya senang menulis.