Pelajaran Menghormati Perempuan di Sekolah

Apa yang membingungkan dalam hak-hak pribadi adalah hak-hak tersebut kerapkali musti berhadapan dengan hak orang lain. Dalam hal itulah kadang terjadi gesekan, kadang juga terjadi ketidakadilan. Itulah yang kupikirkan saat teman tongkronganku (yang notabene laki-laki) bisa menguarkan bau busuk dari mulutnya ketika mengomentari salah satu temen perempuan yang aku taksir.

“Aing sange setiap lihat si eta.” Katanya. Aku ingin meninju mulutnya saat itu, tapi dengan bekal alasan tersebut kukira, aku hanya akan berakhir dengan tertawaan teman-temanku.

Terlepas dari pakaian gebetanku (btw kami memang dekat) yang tertutup dan Islami itu, ternyata pandangan tidak mengenakkan itu tak pernah bisa dipengaruhi oleh cara perempuan berpakaian. Jadi omongan bahwa “perempuan yang berpakaian Islami itu akan mendapatkan rasa hormat dari para pemandangnya” mungkin tidak sepenuhnya benar. Meski tidak sepenuhnya salah.

Pada akhirnya ini adalah tentang laki-laki yang tidak pernah berhasil memandang keberadaan wanita sebagai manusia. Perempuan dipandang sebagai pelampiasan nafsu semata. Bukankah sangat tidak lazim jika beranggapan seperti itu. Pandangan ini sepertinya mengakar jauh dalam benak kita dan sekolah-sekolah nampaknya tidak begitu berhasil memotong akar pikiran buruk seperti ini.

Mengapa sekolah yang disalahkan? Well. Jika sekolah berhasil menanamkan bahwa menghormati guru itu kunci kesuksesan. Kenapa gagasan “menghormati wanita dapat memuliakan kehidupan” tidak pernah diajarkan?

Aku berpikir tentang perempuan lain selain gebetanku tadi. Apakah selama ini perempuan selalu dipandang seperti itu? Sebuah pemuas nafsu, sebuah ornamen, dan sama sekali bukan manusia—meski mulut kita kerap bilang bahwa laki dan perempuan sudah setara sebagai manusia.

Tapi angka-angka kekerasan dan pemerkosaan terhadap perempuan tidak kunjung turun dari tahun ke tahun. Itu membuktikan fakta sebaliknya dari omongan kita.

Menurutku, rantai kejadian buruk terhadap perempuan itu harusnya bisa dicegah sejak dini. Keluarga dan sekolah harus menjadi titik awal dari semua itu. Terutama sekolah, harus berani, paling tidak mengajarkan bagaimana seharusnya para lelaki memperlakukan wanita.

Aku sadar mungkin ide ini agak berlebihan, tapi bukankah ini layak dicoba?

Profil Penulis

M Hilmy Almuyassar
M Hilmy Almuyassar
Lahir di karawang pada hari rabu 17 mei 2000.
Bekerja di nyimpangdotcom sebagai video maker.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.