PARADOKS [CERPEN]

Sekiranya ini hari terakhirku di rumah. Aku duduk di satu dari seformasi bangku teras khas rumah-rumah kampung. Tak biasanya aku seperti ini, duduk dengan tenang memandang pekarangan rumah yang dipenuhi dengan bunga-bunga dan tanaman hijau hasil rawatan Ibu setiap kali pulang dari mengajar di sekolah dasar. Aku tak tahu mengapa Ibu begitu peduli dengan tanam menanam, dielus dan disiraminya tanah dengan mesra hingga membuatku semakin terheran. Terlihat dari celah silau matahari senja teras, Ayah menuntun sepeda dengan penuh tenang menuju pekarangan di celah bunga-bunga itu. Terdengar suara Ibu menyapa dan ada perbincangan sedikit di antara mereka.

 

Layar laptop di hadapanku telah mati, sebab hampir lima menit sekadar menggeser tetikus pun aku tidak, barangkali gara-gara terlalu fokus pada fenomena romantisme sore ini, mungkin rasa rindu telah lama tak pulang ke rumah adalah biang keladinya. Hingga Ayah menegurku sebab membiarkan tangannya tak kusentuh untuk kucium. Laptop seketika aku shut down dan segera aku mengambil beberapa majalah dan surat kabar yang ada di bawah meja bundar di hadapan jemari kakiku. Diskusi yang pernah rutin dulu, sore ini akan segera dimulai, namun keherananku langsung muncul ketika aku melihat suatu wacana dalam surat kabar yang menuliskan tentang “Jawa Telah Hilang Kejawaannya” dan itu telah menjadi makanan bagi Ayah untuk menjawab pertanyaanku.

 

“Maksudnya apa ya yah? Apa Jawa mau  ganti nama?”

 

Segera ayah duduk dibarengi dengan secangkir kopi buatan Ibu, dan segera pula Ibu kembali membelai tanaman-tamanan kesayangannya.

 

“Mana ada Jawa ganti nama, kamu ada-ada saja.” Sambil membolak-balikkan halaman disurat kabar itu.

 

“Lalu, apa maksudnya”

“Biarkan ayahmu meminum kopinya dulu lah.”  Sahut ibu dari balik bunga matahari yang hampir setengah tua itu.

 

“Terlahir di tanah Jawa memang menjadi keberuntungan tersendiri. Banyak orang yang berharap bisa terlahir dan berakta Jawa. Ada anggapan bahwa setiap kali orang yang hidup di tanah Jawa, dapat dipastikan kehidupannya makmur, pekerjaan terjamin, pangan murah, serta bisa hidup dengan umum yang panjang. Entah teori dan aliran mana yang mampu membumbungkan persepsi bak Jawa sebagai surga dunia itu. Namun memang itulah kenyataannya. Jawa telah menjadi Indonesian central bagi para pendamba kemakmuran, segala  sesuatu yang dibutuhkan dalah hidup ada dan tersedia di pulau terpadat ini. Manusia Jawa tidak pernah khawatir akan krisis pangan yang mengakibatkan busung lapar bahkan kematian, juga tentang kekeringan ataupun keamanan hidup. Manusia Jawa hidup ayem tentrem, tidak ada suatu keresahan pun terkecuali memang bencana alam yang sudah menjadi takdir. Jawa dibangun atas solidaritas dan gotong royong dalam bermasyarakat, tak ada cerita orang kebingungan mencari kontraktor ketika hendak mendirikan rumah, ataupun kekhawatiran ketika hendak mengadakan hajatan karena tak ada yang membantu untuk sekedar mendirikan tenda-tenda saja. Sedikit contoh tindak tanduk masyarakat kejawen yang memang dinilai sangat romantis.”

 

“Lalu apa masalahnya yah?”

 

“Monggo pak, monggo buk, monggo mas. Sekedar basa-basi namun tak pernah dianggap basa-basi oleh orang Jawa, tradisi yang terbentuk atas dasar nilai kesopanan dan kepantasan selalu ditekankan. Tidak hanya memandang sesuatu yang baik dan dapat dikatakan terhormat namun apabila dilihat tidak mengandung unsur kepantasan, sesuatu akan ditolak dan segera dibenarkan oleh masyarakat. Betul kan?”

 

“Eemmm….”

 

“Nilai-nilai kehidupan Jawa telah terbentuk sejak Jawa ini terbentuk, entah pada masa apa itu, namun orang-orang percaya bahwa Jawa memang telah memikat sejak dahulu. Bahkan ketentraman tentang Jawa juga dirasakan oleh orang-orang Belanda bersama VOC yang dengan gagahnya menduduki tanah kearifan ini, seluruh sumber daya alam diperas habis untuk diusung ke tanah mereka. Markas-markas didirikan, benteng-benteng pertahanan tak kalah kokohnya, sekadar untuk melindungi kelimpahan emas yang sedang mereka rangkul. Juga berlanjut tentang kenikmatan yang dirasakan oleh pendudukan Jepang. Tak jauh beda dengan pendahulunya, Jepang membutuhkan banyak karung untuk membawa beras ke negeri Nippon, sedangkan orang-orang pribumi membutuhkan karung untuk menutup auratnya. Betapa baiknya Jawa bukan. Seakan Jawa ini tidak pernah pilih kasih kepada siapapun yang mendudukinya, seakan Jawa ini tiada habisnya kelimpahan yang dikandungnya, Seakan Jawa ini tiada pernah lelahnya mengabulkan segala kebutuhan makhluknya. Seakan Jawa ini tidak ada muaknya pada manusia yang selalu memperkosanya. Bukan berarti Jawa itu murahan dan tak punya harga diri, ketika tongkat kayu dan batu pun jadi tanaman. Tapi Jawa telah diciptakan sebagai jalur kemakmuran atas pemberian Tuhan. “

 

Aku tidak ingin terlihat bodoh dihadapan ayah, sebagai mahasiswa sastra Indonesia terlebih di universitas negeri aku berusaha memberi tanggapan itu. Walaupun aku terbilang masih mahasiswa baru dan ilmu yang aku peroleh belum seberapa, namun perhatianku terhadap analisis sastra dan kebudayaan telah aku kenali sejak aku mengenal sajak-sajak milik Rendra ataupun cerita pendek milik Seno Gumira Ajidarma yang sangat aku gemari. Kepolosanku di awal aku sengajakan agar Ayah enggan menganggap soal pertanyaanku yang seolah tidak paham soal polemik ini, sehingga Ayah akan mengungkapkan segala persepsinya dan aku akan menanggapinya, sebuah diskusi yang menarik bukan?

 

“Lalu bagaimana yah, dengan saat ini, ketika bumi Jawa telah kehilangan kejawaannya. Bukan tentang Jawa yang berubah, namun tentang manusia dan adatnya yang telah termodernisasikan oleh globalisasi saat ini. Aku bersedih karena baru lahir pada abad ini, kenapa aku tak hidup pada masa romantis itu saja seperti yang telah diceritakan oleh ayah, mengapa aku harus melihat kenyataan bahwa tanah yang katanya paling ramah ini harus rusak bahkan tradisi pun mulai luntur, ketika globalisasi dan budaya telah teralkulturasi dengan budaya barat. Maka aspek mana yang memang paling menentukan keutuhan kejawaan ini, generasi muda atau sumber daya alam kita?”

 

“Dari mana kamu bisa menyebut kalau tanah ini rusak dan tradisi ini luntur, jangan main-main kau, mentang-mentang anak sastra ya…” tanya ayah dengan suara agak keras dengan sedikit nyengiran.

 

Badanku sedikit gemetar, rasa mulai tak nyaman muncul, harus ku mulai dari mana jawaban atas serangan ayah ini.

 

“Mungkin karena Ayah hidup pada masa teknologi dan media masa belum berkuasa yah…segala sesuatu dilakukan secara manual, kehidupan sosial dan interaksi masih sangat terjaga, kebergantungan masing-masing individu sangat terasa, seperti yang ayah bilang tentang gotong royong dan solidaritas tadi. Hal itulah yang mampu membentuk dan membuat karakter manusia Jawa pada masa kemurnian dari teknologi dapat dibilang sangat romantis, tidak ada yang namanya demo menuntut penurunan harga BBM, demo para buruh menuntuk kenaikan UMR, tawuran anarki antar sekolah bahkan antar kampung yang sedang terjadi di lorong sebelah itu beberapa waktu lalu. Berbeda pula dengan abad ini, teknologi telah menggeret kita dengan keras agar manusia mampu mengejarnya, tak ada aspek kehidupan tanpa bantuan gadged, segala sesuatu ada di media sosial, bahkan orang-orang sudah tak malu lagi ketika mereka bertengkar dengan cara terbuka dan dilihat oleh banyak orang diberbagai media, masa transparansi ini rasanya terlalu transparan dan vulgar apabila segala bentuk tingkah laku dan ambisi keiblisan ditunjukkan secara bebas kepada publik. Bukankah itu bentuk dari kelunturan tradisi?”

 

“Coba buka matamu dan lihat di sekelilingmu apa yang bisa kau dapat selama kau hidup di tanah ini, saat kau kini sedang pulang kampung dan kau sedang merantau? Ayah rasa budaya dan tradisi tidak jauh berbeda, masih satu kawasan Jawa juga, dan aku melihat kau baik-baik saja, tak ada luka di badanmu, kau tidak dibacok orang ataupun dianiaya, badanmu terlihat sehat saja. Padahal, kau tinggal di Surabaya yang katanya tanah yang keras dan anarki, aku rasa tak ada yang kurang dari anakku ini, apa yang kau lakukan hingga kau masih mampu bertahan hidup ini hampir setahun kau tinggal dirumah kos dan jauh dari pantauan kami. Kau tak perlulah melihat yang terlalu jauh tentang globalisasi ataupun modernisasi, cukup lihat dirimu sendiri saja.”

 

Lagi-lagi jawaban ayah membuat ku terdiam sejenak, aku mulai membayangkan selama ini apa yang ku lakukan di tanah orang itu hingga bolak balik setiap turun di terminal tak pernah pun ada penodongan atau aku tertipu dengan orang yang menaku agen TNI dan segalanya itu.

“jadi gini yah, dalam menjalani segala aktivitas maupun tindak tuturku aku berprinsip bahwa kebaikan akan membawa kebaikan pula, sesuai dengan pesan yang selalu ayah sampaikan. Dan aku mempercayai itu pula, aku sangat yakin dengan nasihat yang ayah berikan, karena pola pikir kami sebagai anak Jawa bahwa tak ada petuah yang tak benar dari orang tua Jawa, meskipun orang Jawa semiskin apapun petuah yang disampaikan selalu berharga. Pada mulanya aku tak menyangka bahwa orang-orang disana sangat sopan pula, sehingga setiap kali aku akan bertingkah nakal, aku kembali sadar akan posisis sebagai tamu dan kepantasan tingkah lakuku. Ketika aku memberi hormat kepada orang dengan cara permisi, mereka sangat merespon dengan baik pula seakan tak ada celah diantara kami. Bahkan perbincangan-perbincangan ringan sering kami lakukan ketika aku ditanya asalku dari mana atau sebagainya, dan semua itu berjalan dengan natural. Dan…”

 

“Sudah selesai bukan perbincangan kita?” potong Ayah.

 

“Tapi bagaimana dengan artikel ini?”

 

“Asalkan kau masih memegang tradisi Jawa dan budaya hidup kita, Ayah rasa Jawa tidak kehilangan kejawaannya, ataukah memang belum.”

 

“Dengan kata lain ada suatu masa di mana aku akan kehilangan kejawaanku? Kenapa Ayah bisa bilang begitu?” tanyaku dengan sedikit agak tersinggung

 

Ibu telah selesai menemani bunga-bunganya dan bercengkerama ria dengan dengan tanah kesayangannya itu, seucap ibu melontarkan suatu perkataan sambil berjalan menuju pintu rumah.

 

“Simpan dulu itu gadged di tanganmu.”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Profil Penulis

Yulianto Adi Nugroho
Yulianto Adi Nugroho
Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1997. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Bergiat aktif di komunitas sastra KRS (Komunitas Rabo Sore) Surabaya dan jurnalis di pers mahasiswa Gema, Unesa. Karya puisi dan cerpen dimuat di Suara Merdeka, Solopos, Denpost Bali, Koran Merapi, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Magelang Ekspres, Radar Bojonegoro, Simabala.com, Kibul.in, Apajake.id.