Otokritik untuk Para Pegiat Literasi

PISA ( Programme for International Student Assessment) sistem ujian yang diinisiasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) untuk mengevaluasi sistem pendidikan di 72 negara yang tergabung setiap tiga tahun sekali. Tes ini melibatkan siswa berusia 15 tahun yang dipilih secara acak untuk mengevaluasi hasil pendidikan yang dikategorikan dalam kemampuan matematika, membaca, dan sains. Indonesia juga berturut-turut berada di peringkat 63, 64, dan 62 dari 70 negara yang dievaluasi pada tahun 2015. Selain itu, UNESCO mengatakan bahwa Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara dengan tingkat literasi terendah.

Fakta yang menyedihkan adalah peringkat kemampuan membaca kita dari tahun ke tahun selalu di urutan terakhir dari tiga kategori (sains, matematika, kemampuan membaca) yang dievaluasi tersebut. Semua angka ini secara teknis menjelaskan bahwa budaya literasi Indonesia sangat rendah. Tapi apa itu literasi, mengapa begitu penting, dan apa saja permasalahan yang ada di dalamnya?

Pengertian literasi nyatanya lebih luas dari kegiatan baca-tulis. Literasi adalah proses individu dalam menerima informasi, mengkritisinya, mengkajinya, dan mengelolanya kembali menjadi informasi baru. Maka dari itu, Unesco mendefinisikan literasi sebagai proses pembelajaran seumur hidup. Lebih luas dari sekadar baca-tulis saja. Jadi, literasi tidak selesai ketika kita sudah bisa membaca teks atau bisa menulis. Namun, membaca adalah pintu masuk untuk menjadi individu yang literat.

Saya sendiri tidak heran sebetulnya dengan angka-angka di atas. Ketika masih kuliah, aktivitas di kelas kerap jauh dari kegiatan diskusi. Kelas yang menjauhi aktivitas belajar model diskusi ini sangat tidak ideal. Dosen terlalu banyak bicara. Tidak ada semangat yang ditularkan kepada mahasiswa untuk belajar. Hingga akhirnya proses belajar mengajar hanya sekadar formalitas kbm saja. Masalahnya aktivitas belajar yang terus menerus seperti itu akan menjauhkan kita dari berpikir kritis dan memahami permasalahan secara utuh.

Yona Primadesi dalam bukunya “Dongeng Panjang Literasi Indonesia” memaparkan bahwa banyak yang melupakan peran keluarga sebagai lembaga belajar pertama, sebab orang tua merupakan figur utama bagi anak. Menjadi orang tua itu tanggung jawab yang berat, anak akan menyalin banyak hal dari apa yang kita lakukan dan yang kita ajarkan. Berat, kan? Makanya pinter dulu, baru jadi orang tua.

Kemudian sekolah sebagai lembaga belajar kedua, di sinilah peranan orang tua akan banyak dibebankan kepada sekolah. Banyak anak, termasuk saya mengeluh betapa tidak menyenangkannya sekolah. Sekolah menjadi tempat yang membosankan sekaligus menyeramkan.

Berangkat dari persoalan-persoalan tersebut, sebagian orang meresponnya dengan membangun berbagai macam komunitas dan gerakan. Di luar dua hal yang disebut Yona tadi, keluarga dan sekolah (atau perguruan tinggi).

Tapi di sinilah masalah lainnya. Komunitas-komunitas tersebut bekerja keras menyosialisasikan kegiatan literasi, dalam hal ini membaca buku. Habis-habisan mengedukasi masyarakat betapa pentingnya hal tersebut. Banyak komunitas yang satu sisi sedang menganjurkan banyak membaca, tapi di saat yang sama suka mencaci para pembaca yang orientasi bacaannya berbeda.

Saya sering menemukan ini di Twitter beberapa sosial media lainnya. Para penggiat tersebut rajin mengampanyekan dan menaruh harap agar masyarakat mulai membiasakan diri dengan bacaan setiap harinya. Namun ketika menemukan penggemar bacaan populer yang ‘cengeng’, mereka bakal menghujatnya. Atau memberi penialian yang buruk dan menertawakan bacaannya tersebut.

Ini terkesan paradoks. Bukankah itu bagian dari proses yang akan membawa mereka kepada rutinitas membaca yang baik? Beberapa kali saya bingung, mengapa orang orang mengatakan ini ‘buku berat’ dan ‘buku ringan’. Mengategorikan buku layak baca atau tidak layak. Maksudku mungkin yang seperti itu memang ada. Tetapi standar ini tidak bisa menjadi alasan untuk mencemooh mereka yang baru membaca?

Semua buku layak dibaca dan biarlah semua orang melanjutkan proses membacanya sendiri. Sehingga bisa menemukan jenis bacaan yang cocok. Perlu diingat, semua aktivitas manusia yang hidup selalu berkaitan dengan kebutuhannya. Artinya, untuk hal apapun kita tidak berhak untuk memberikan penilaian secara personal terhadap pilihan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya.

Ada juga penggerak yang rajin mengampanyekan literasi dan pentingnya membaca malah tidak doyan membaca sama sekali. Ini yang lebih mengherankan. Kepedulian dan gerakan memang langkah yang strategis untuk membantu banyak orang. Tetapi bagaimana mungkin kita bisa menganjurkan sesuatu yang kita sendiri tidak melakukannya?

Semua ini saya temui di lapangan. Jangan tersinggung jika mungkin kamu salah satunya. Saya berterima kasih karena kita semua hadir dan bersemangat mengedukasi masyarakat dan memberi banyak kesempatan untuk mengakses buku. Tapi bayangkan bagaimana kita bisa membina sesuatu atau seseorang untuk menggemari hal yang tidak sama sekali kita tekuni.

Sekali lagi bekal semangat dan bergerak saja tidak cukup. Saya mengenal salah satu penggerak yang menyalurkan buku-buku ke pelosok nusantara. Dia bercerita dengan nada khawatir, bahwa mudah saja menyalurkan buku ke pelosok-pelosok nusantara sekaligus membangun perpustakaan kecil di sana. Tetapi ada hal yang lebih sulit dari itu semua. Memastikan perawatan buku-buku tersebut dan membangun ketertarikan masyarakat terhadap buku. Masalahnya adalah para penggerak yang ikut di dalamnya tidak menggemari buku. Tidak ada jaminan keberlanjutan meski buku sudah tersalurkan. Di sinilah kenapa semangat, gairah, dan gerakan saja tidak cukup. Semua yang kita perjuangkan perlu tumbuh kuat di dalam diri kita, sebelum menyalurkannya kepada orang lain.

Pada akhirnya budaya literasi yang baik akan memacu masyarakat untuk menyikapi persoalan-persoalan yang ada di kesehariannya dengan baik pula. Kegiatan-kegiatan belajar akan berjalan melalui penelitian, kerja sama, membaca peluang, berinovasi, yang semua hal dikerjakan untuk kepentingan bersama.

Ini bisa menjadi otokritik untuk kita semua sebagai pegiat literasi pula. Untuk meraih sesuatu yang besar kita mulai dari memperbaiki hal yang menjadi racunnya. Tindakan-tindakan kecil yang bisa menjadi bensin pemicu ledakan yang besar. Maaf jika aku terlalu rumit menganalogikannya.

Mungkin selama ini kita memandang literasi dengan cara yang keliru. Literasi pada akhirnya adalah milik semua orang. Tidak sebatas untuk mereka yang menggemari buku-buku tertentu, sebutlah Bumi Manusia. Juga bukan milik mereka yang aktif menghadiri acara ini-itu yang ada kata ‘literasi’nya.