Even & People

Obrolan Menyimpang Bersama Rizki Andika (Iyan), Penyair Muda Karawang yang Motekar

Para penyair di Pertemuan Penyair Nusantara Pemtangsiantar berfoto bersama dengan buku antologi puisi “Anggrainim, Tugu dan Rindu.”

 

Pada 24 Maret lalu, litera.co merilis seratus nama yang puisinya lolos kurasi undangan Temu Penyair Nusantara 2018, yang diadakan oleh Komunitas Tugu Sastra Siantar, di Siantar, Parapat, dan pulau Samosir Medan.

Rizki Andika, nama salah satu pegiat Perpustakaan Jalanan Karawang lolos dan disambut keceriaan kawan-kawannya di Das Kopi, Perpustakaan Jalanan Karawang, dan komunitas-komunitas lainnya. Apalagi puisinya Anggrainim yang Rizki Andika a.ka Iyan kirimkan dijadikan judul buku antologi puisi dari helatan tersebut.

Tapi keceriaan itu tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian dari status WA kami mendapatan informasi kalau keberangkatan Rizki Andika (Iyan) tidak mendapat dukungan finansial dari pemerintah setempat, dan yang lebih kampret, kata Iyan kampus tempatnya kuliah juga tak memberikan dukungan finasial. Sebagai catatan helatan seperti ini biasanya tidak menyertakan ongkos transport untuk tamu undangan.

Lebih lengkap, mari simak perbincangan menyimpang kami dengan Rizki Andika (Iyan) ini.

 

Yan..

Iya, kenapa euy

 

Gak kenapa-kenapa, Yan. Kepikiran kamu terus. Wq

Aih anjrit serem gini euy wkwk

 

Nyimpang mau wawancarain kamu. Tapi gak tahu harus mulai dari mana. Gimana kalau mulai dari soal ke Medan kemarin itu?

Haduh urang bingung wkwk. Eh tapi urang mau ada keperluan dengan kamar mandi dulu euy, sudah tidak kuasa menahannya tea.

 

(Iyan bera, kami stalking IG @miraans, syegar)

 

Jadi kamu baru pulang dari?

Baru pulang dari kampus. Wkwk

 

Kamu baru keluar dr wc, Yan. Ingat?

Ingat. Ingat. Wkwk. Dari Pematangsiantar, sayang.

 

Uwww.. makasi yaan uda sayang. Ngapz aja di sana?

Ada kegiatan temu penyair nusantara gitu-gitu

 

Kudengar kamu di sana kayak gelandangan. Wkwk. Bener gak sih?

Bener coy. Enggak gelandangan banget sih, cuma pas pulang aja agak bingung. Gak ada ongkos. Nah ini link berita lengkapnya. Khawatir jawaban urang enggak berfaedah 🙁

 

Iya tahu itu mah. Justru kita maunya yang gak berfaedah. Oh iya. Gimana kalau mulai dari awal aja. Katanya ada masalah pas mau berangkat. Ceritain dong.

Jadi awalnya urang enggak mau berangkat. Cuma kawan-kawan mendesak biar ada nama Karawang di even sastra tingkat nasional. Ya akhirnya urang mengajukan permohonan bantuan dana ke kampus. Cuma, ya gitu deh hasilnya…

Makanya kawan-kawan ngecrek gitu, patungan. Akhirnya terbelilah satu tiket sekali jalan buat berangkat ke Medan. Meski belum punya ongkos buat pulangnya, kawan-kawan meyakinkan urang buat berangkat. Jadi yang pentning urang berangkat dan enggak usah mikirin yang lain-lain. Apalagi soal pulang.

 

Hmm… menurutmu seharusnya itu (soal dana transport) tanggungjawab siapa, Yan?

Pemerintah kabupaten. Cuma pas ke kedinasan urang dilempar ke kampus. Iya, akhirnya organisasi di kampus kebakaran jenggot dan lain-lain dengan kawan-kawan.

 

Sebentar, yang kamu maksud ‘organisasi kampus’ itu siapa? ‘Kawan-kawan’ itu siapa?

Himpunan dan BEM sama BLM.  Dan kawan-kawanku itu ya perjal (Perpusatkaan Jalanan Karawang) dan kawan-kawan di Das Kopi, sayang.

 

Jadi yang coba kamu bilang kawan-kawan kamu sempat bersitegang dengan beberapa organisasi kampus soal pemberangkatan kamu ke Temu Penyair Nusantara ini?

Yoi

 

Hmm… Eh btw menurut kamu seperlu apa pertemuan penyair nusantara itu, yan?

Perlu aja sih, ngga ini banget, soalnya kan dari awal juga udah positif enggak berangkat. Cuma mau apanya, semacam menghadirkan Karawang. Di tengah problematika kehidupan. Wkwk

Maksudnya teh enggak perlu pergi tea, urang merasa seperti tahun lalu pas diundang ke Kalimantan, biar puisi dan titimangsa Karawang aja yang ada di Kalimantan. Nah ternyata kawan-kawan greget ketika tahu judul bukunya teh judul puisi urang

 

Hmmm… pertanyaan selanjutnya apa ya? Eh kamu ngapain aja di sana? Berapa lama? Naik pesawat yang pertama kali bukan? Wqwq

Hmmm naon atuh ya. Cuma gitu-gitu aja aku di Medan.

 

Masa entar kita nulisnya gitu-gitu ‘aja’ doang?

Hari pertama pembukaan kegiatan pagi-pagi di aula pemerintah kota Pematangsiantar, bersama siswa dan guru beserta pemerintahan, kemudian dilanjutkan dengan bincang sastra terkait menulis puisi dan proses kreatif.

Sore hari pulang dan minum kopi Kok Tong di Kedai Masa. Terus pulang ke penginapan. Malamnya pembacaan puisi di Tugu Becak. Jumat siang peluncuran buku di hotel dan orasi budaya oleh saut dan Erizal Ginting. Sorenya jalan-jalan ke makam raja Damanik Siantar, memandang wajah Anggrainim. Lalu main ke wihara sambil menikmati wajah Dewi Kwan Im. Malamnya bincang-bincang aja dengan penyair setempat. Sabtu penutupan di danau Toba sambil berpuisi.

 

Apa yang paling menarik dari even kemarin. Singkatnya lima hal paling berkesanlah.

Yang pertama ya acara pertemuan penyairnya, kedua peluncuran buku, ketiga pembicaraan dengan penyair di dalam kamar, keempat keterbukaan panitia, kelima jalan-jalan. Pokoknya Iyan suka banget jalan-jalanlah.

 

Mantap. Menurutmu even seperti ini perlu diadakan di Karwang juga gak?

Harus atuh. Nanti kita buat pertemuan sama penyair Jabar di Karawang, tahun depan bikin temu Nasional…

 

Eds sih.. kamu mau ditanya apa lagi nih yan.. biar wawancara ini kayak sungguhan gitu. Oh, iya, minta puisi-puisimu boleh dong. Lima judul aja. Hehe

Oke. Kirim kemana neh?

 

Ke redaksi ayomenyimpang@gmail.com. Atau langsung aja ke laman www.nyimpang.com/kirim-tulisan/. Oh, kami juga minta foto.

Dih jangan atuh urang belum ganteng 🙁

 

Yang mana aja deh…

Yang orang lain berarti boleh ya…

 

Ulah atuh

Urang lagi cari foto terbaik 🙁

Nih..

Rizki Andika (Iyan) di Pematangsiantar, gak tahu ngapain. Hehe

 

Kamu mirip kokoh-kokoh di pasar. 😀

Anying sedih teh 🙁

 

Yan, menurutmu kota-kota kedua (second city) macam tempat kita tinggal ini masuk dalam kanon sastra nasional tidak?

Masuk atuh, kan kita bagian dari Nasional, cuma mungkin belum adanya kegiatan yang bikin kota kita naik tea. Kalo misalnya bikin kegiatan undang saut pasti mudah naik ke nasional, kepala kepalanya kudu dibawa heula tea biar cepet mah.

Tapi ya kalau misalkan orang-orang sepuh dan jajaran pemerintahan mau diajak kerjasama habis-habisan sama orang-orang kayak di nyimpang gini mah enggak harus undang Saut Situmorang juga bisa naik cepat.

 

Maksudmu “pemerintah” seringkali sulit diajak kerjasama?

Iya atuh, di sini mah mau bertemu aja sulit 🙁

 

Nah. Soal nulis puisi ini.. menurutmu adakah hal menarik soal perkembangan tulis menulis puisi di kotamu?

Menarik bangets tahu bruh. Anak-anak bahasa dan sastra Indonesia jauh tidak tertarik dengan karya sastra terutama puisi dibanding dengan kawan-kawan dari fakultas lain. Ini masih skala kampus, soalnya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan puisi teh lebih dominan dihadiri mahasiswa luar PBSI. Umum juga banyak, sih. Terutama anak sekolah-sekolah gitu.

 

Ini sebenarnya fenomena apa yan? Padahal kan yang dididik puisi itu ya anak pbsi

Ini fenomena ketidakseriusan mahasiswa PBSI dengan karya sastra. Karena banyaknya yang merasa “kecelakaan” dalam mengambil jurusan. Terus menganggap PBSI adalah cabang ilmu paling mudah dipelajari tea.

Jadi teh urang heran oge sebenernya sama kawan-kawan di pbsi, urang merasa mereka tidak menganggap karya sastra secara serius tea. Ah tapi semuanya juga berlandaskan kurangnya minat baca, sih?

 

Okey… menurutmu siapa role-model sastra di Karawang?

Ada penyair Sunda tapi menurut urang tidak bisa dijadikan panutan soalnya urang rasa udah nggak aktif menulis dan membiarkan puisi kehilangan arah di Karawang

 

Jadi gak ada yang dituakan di sana? Btw apa maksudnya ‘puisi kehilangan arah di Karawan’, Yan?

Ada sih. Tapi urang tidak merasakan ‘gigi’nya untuk perjalanan puisi di Karawang. Maksudnya “puisi kehilangan arah di Karawang” ya begitu, penyair muda dibiarkan tak punya arah, bruh.

 

Edaaan. Kita belum ngomongin Perpustakaan Jalanan Karawang nih. Mau ceritain? Pjk itu apa, di mana, kapan?

Nanti, deh. Eh. Aku kok penasaran jadinya sama hasil wawncara ini.

 

Di nyimpang semua yang kami kerjakan amburadul. Jadi jangan berharap banyak. Hehe.

Ahaha santai aku suka yang acak-acakan. Biar nggak serius banget

 

Ntap. Serius neh. Ada closing statement gak nih.. buat pembaca?

Kumaha atuh enggak biasa? Naon atuh nyak, contohin atuh.

 

Saya …. pilih saya … dst. Bebas. Simpulan akhir aja dari semua obrolan kita ini.

Jangan sampai jadi burung yang gugur sayapnya dan melahirkan hujan.

 

Yarabb..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *