Menyoal Masyarakat Antipolitik

Masyarakat antipolitik menjadi bahasan yang menarik akhir-akhir ini, terutama di tahun politik. “Apa sih politik, bukan urusanku”, ucap seorang kawan. Lalu belum lagi kawan yang berbicara bahwa politik tak penting, termasuk wakil rakyatnya yang hanya makan fasilitas negara saja. Selain itu, mereka juga cenderung memandang tak perlu politik.

Bagaimana mungkin kehidupan bersama bisa berjalan tanpa politik. Sebab bagaimana pun juga. Suka atau tidak. Kita hidup di tengah-tengah wacana dan peristiwa politik yang ada. Mulai dari yang dampaknya samar-samar, sampai yang paling jelas. Bagaimana tidak? Yang berani berteriak antipolitik toh diwadahi oleh hukum dan konstitusi yang notabene produk kebijakan politik.

Memang belakangan banyak politisi yang terpilih akhirnya tersandung masalah hukum. Dari yang paling ringan sampai yang paling berat. Dari korupsi uang negara sampai tidur di meja rapat. Tidak heran masyarakat kini bukan saja apatis terhadap politik melainkan sudah sampai taraf traumatis.

Hal itu berlangsung terus menerus karena, janji untuk memperbaiki kesejahteraan rakyat, nampaknya hanyalah janji-janji semu. Bukannya memperbaiki kehidupan bangsa dan rakyatnya, para pemimpin terpilih itu malah asyik menimbun kekayaan sendiri. Hal itu sangat ironis. Uang rakyat seolah sia-sia karena pemimpin yang dipilih jauh dari harapan. Ironisime semakin terasa di tengah kehidupan ekonomi masyarakat yang morat-marit. Semakin memperkuat bahwa uang rakyat hanya digunakan menggaji yang katanya wakil rakyat, tetapi malah menggiring masyarakat semakin melarat.

Sudut pandang atau penilaian memang hak setiap individu, tapi ketika rakyat sudah apatis bahkan cenderung trauma dengan politik, kita tak bisa diam saja. Mengapa? Jawaban paling mendasar karena proses hidup sekecil apapun perlu politik.

Maka bagaimana bisa seseorang bisa melepaskan dirinya dari politik tanpa memahami celah mana yang dapat diperbaiki dalam tradisi berpolitik kita sendiri? Memang jauh lebih mudah berteriak antipolitik, tapi di saat yang sama tidak melihat langsung bagaimana dinamika dan situasi sesungguhnya dalam politik praktis.

Ini tak jauh beda dengan fobia-fobia agama yang marak di negara-negara barat. Anti-Islam, padahal tidak paham apa saja yang ada dalam cakupannya. Penilaiannya sudah bukan rasional lagi, tapi emosional.

Kita harus bisa memisahkan politik sebagai gagasan dan praktik, sebagaimana orang barat memisahkan Islam sebagai agama dan ideologi sempalan. Memukul semua hal sama rata hanya menunjukkan bahwa kita tidak berpikir secara rasional dan adil. Tentu ini tidak sehat untuk kepentingan hidup bersama kita.

Aku pikir bukan saatnya lagi berteriak tak butuh politik, tapi mulailah melakukan dan ikut pendidikan politik agar bisa melihat lebih jernih, menilai lebih adil, dan tidak kehilangan harapan.

Sejatinya seorang pemimpin tak pernah memiliki jam kerja karena, seluruh waktunya untuk rakyatnya. Kita lihat, DPRD yang katanya cuma rapat bahkan sering tidurnya. Padahal kerja mereka tak semudah yang dibayangkan. Rapat kebijakan, bahkan tak jarang makan waktu dan berseberangan dengan pemimpin. Kunjungan kerja yang tak pernah selesai dan rakyat tak pernah tahu ada berapa ratus tempat yang harus dikunjungi. Menjalankan reses setahun tiga kali dengan catatan semua daerah pilihannya harus terjamah guna menampung aspirasi.

Mungkin cara pandang kita pada wakil rakyat selama ini salah karena, kita tak pernah melihat dari dua sisi. Kita hanya sibuk menilai dari 8 jam kerja, padahal ada jam kerja lainnya yang bahkan tak pernah kita duga.

Aku pikir cara yang paling baik adalah berhenti memandang semuanya sama rata, saling curiga mencurigai, cukup berperan pada porsinya masing-masing. Rakyat cukup berharap dan menitipkan aspirasi, kalau tak sesuai boleh mengkritik tapi jangan menghakimi. Begitu pun sebaliknya, politikus berhenti menebar janji saja. Mulailah transparasi, ajak rakyat berdiskusi agar tidak ada lagi caci maki.

Salam demokrasi!

Profil Penulis

Ayi Nur Hasanah
Ayi Nur Hasanah
Ketua tercantik di @pustakaki dan aktif di beberapa komunitas literasi di Purwakarta