MENJAUH MEMBAWA PERGI [PUISI-PUISI ANIL SAFRIANZA]

MENJAUH MEMBAWA PERGI

 

Kopi malam yang pekat

Pahit kenangan yang semakin jauh kubawa pergi

Membelah Jawa dalam gerbong kereta yang sesak

Seperti dada dan prasangka yang entah, bagaimana?

 

Kereta kembali mendengking, mengarak roda kian memberi jarak

Untuk pertemuan kita

Kenangan berkeliaran di ruang ber-AC ini

Gigil di badan dingin di dada

Tiada hangat setelah kata berpisah itu menusuk telinga

Dan cinta segera berakhir

Lalu kenangan akan segera diberangkatkan, ke mana saja

 

“hendak ke mana kau nak?”

Kursi empuk itu mengejekku yang tak pernah mencarimu lagi

Tak pernah menuju pulang pelukmu

Tapi sial, kau selalu jadi rumah bagi segala ingatan

 

Pekalongan-Malang, 2018

 

KEBERANGKATAN

 

Segala yang nyengat

Adalah keberangkatan hati yang luka

Segala yang tak lagi baik

Dipendam hingga membusuk jadi dendam

 

Waktu berduka telah tiba

Surat undangan Tuhan telah kuterima

Kereta sunyi melaju dian meninggalkan rumah

Menerobos hujan lebat di mata

Melintasi jiwa yang lengang, menelusuri jalan kenang

Di jalur hati nan kian bimbang

 

“kapan kita tiba?”

Logika yang bangkang

 

Namun hatimu selalu menjawab

: “kita tak akan ke mana-mana—“

 

Malang, 2018

 

TERDAKWA

 

Setelah senja menemui keberangkatan

Dan langit berserah menjamu malam

Sudut paling sunyi tercipta pada hati  yang luas

Namun teramat sempit untuk menampung kesedihan

: perihal duka yang dijatuhkan egoismu pada perasaan yang menjadi terdakwa

 

Malang, 2018

 

HARI MINGGU

 

Hari minggu

Almanak merah merekah

Rehatlah segala sesuatu

Buanglah segala desah dan resah

 

Beranda belakang

Dan secangkir kopi

Mengembalikan aroma kenang

Yang menyibuk hati

 

Sajak-sajak kisah yang selalu utuh

Di lembar lusuh dengan tulisan keruh

 

“pergilah ke mana saja di hari minggu, jika tidak

menyelesaikan rindu akan menjadi pekerjaan

berat di waktu rehat !”

 

PASURUAN, 2018

 

BUKANKAH MELEPAS LEBIH BAIK(?)

 

Dan saat-saat seperti itu

Kala kata-katamu bukan lagi

Sosok menakutkan untuk egois dalam hatinya

 

Ketika parau suara tangis bukan lagi

Menjadi suatu hal luar biasa

Yang mampu menyayat hati itu

 

Lepas—

 

Biarkan ia pergi

Tiada keberangkatan yang mesti kau tahankan

Suatu hari nanti,

Ia temukan sunyi dalam dadanya sendiri

 

Subang, 2018

 

 

 

 

 

 

Profil Penulis

Anil Safrianza
Anil Safrianza
lahir 31 Desember 1997 di Sijunjung Sumatera Barat. Pengagum kambing gunung dan penyuka musik lawas.