Menjadi Hafidz Quran Demi Pevita Pearce

Gabriel Garcia Marques bilang, kalimat pembuka dalam sebuah novel adalah laboratorium. Itu kayak semacam kunci untuk membuka semua pintu-pintu kepala penikmat cerita. Saya sepakat.

“Ana kangen zaman-zaman jahiliyah dulu.” Begitulah Sidiq selalu memulali cerita-ceritanya. Sepuluh tahun lampau, saat masih mondok di Parung Bogor, saya punya teman yang sering bergumam seperti itu sebelum ia menceritakan bibir-bibir wanita yang pernah ia cicipi.

Setiap kalimat pembuka yang ajaib itu lolos dari mulutnya, pastilah di sekelilingnya ada lima sampai sembilan orang yang berkeliling mendengar ‘petualangan’ asmaranya tersebut. Dan kumpulan orang itu akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.  Saya hampir selalu ada di assabiqun al-awwalun soal menyimak cerita-ceritanya ini. Saya baru ngeh, ternyata tidak ada yang lebih menggendam dan magis dibanding kalimat “gue kangen zaman-zaman jahiliyah gue.”

Seandainya ia menulis novel, mungkin ia akan membuka aliran sastra baru, sebutannya realisme magis syariah.  Jauh lebih menjanjikan tinimbang puisi-esai, bukan?

Belum hilang dari ingatan saya bagaimana Shiddiq menceritakan “petualangannya” kabur dari asrama demi menonton Lost in Love di sebuah bioskop, di Depok. “Bibir Pevita mirip salah satu mantan pacar ana,” katanya. Tentu saja obrolan soal Pevita ini sudah dibuka lebih dulu dengan kalimat pembukannya yang ajaib.

Sekian tahun cerita itu meluncur dari mulutnya dan hampir pudar dalam ingatan, kini sebuah judul artikel yang menggoda mengeruk ingatan itu lagi. “Suka Tampil Seksi, Artis yang Cantiknya Kebangetan Ini Ternyata Ingin Suami yang Hafal Al Quran.”

Kira-kira beginilah isi berita yang menggairahkan itu.

Di Instagram Pevita Pearce (@pevpearce), seorang warganet yang layak dijadikan suri tauladan mengomentari foto selfienya:

“Pev aq pengen taaruf sama kamu, aq sudah khatam dan hafal Al Quran, gimana? Boleh di buktikan di depan kmu aq baca 30 juz 114 surat tanpa buka Al Quran kalo kmu serius, berani terima tantangan?” ungkap akun aloisius_elfrado.

Tak disangka, Pevita membalas komentar warganet tauldan itu dengan jawaban yang juga pertanyan, dan itu sungguh di luar dugaan, “Serius? Hafal alquran… ?”

Pemilik akun lain yang sadar bahwa dirinya tertinggal langsung menyambar dengan kecepatan kilat. “Bissmilah.. Demi @pevpearce insyaallah hafal qur’an,” tulis akun si.mas_. Lalu yang lebih berapi-api tak mau kalah “Pevita, aku insha Allah hafal al-quran,” tulis akun @paman_uwa.

Jawaban Pevita itu ramai ditanggapi warganet lain. Pasalnya Pevita hampir tak pernah membalas komentar warganet di instagram selama ini. Sekalinya menjawab, wuih, edan.

***

Shidiq adalah satu-satunya oase kami untuk mendapatkan rekreasi asmara. Cerita-ceritanya benar-benar candu, sehingga membuat kami (para fakir hiburan yang baru puber) akan selalu tertarik mengikuti kisah lanjutannya.

Kisah-kisahnya kerap terhenti karena keburu ‘bel’ kegiatan berbunyi, atau karena kebetulan para munawibin (semacam OSIS) bagian bahasa sedang patroli. Kemampuan bahasa Arab teman saya ini sungguh nobe. Maklum santri baru. Jika ia memaksa tetap bercerita pun kami akan kecewa sebab kami yakin ia memerlukan sejumlah mufradat yang representatif, perangkat nahwu juga shorof yang mumpuni untuk menjelaskan bagaimana permen relaxa bolak-balik di antara mulut dua orang seperti permainan tenis meja yang seru.

Ia perlu paling tidak menyontek sekian persen dari kejaiban bahasa Al-Quran; yang piawai mengibaratkan hubungan badan dengan menggarap ladang atau kehidupan laki dan perempuan bagaikan pakaian satu sama lain. Belum lagi iaharus berusaha keras menceritakan erang-erangan dan penjelajahan masing-masing pemain demi mengeksplorasi daerah lawan, dalam skill bahasa arabnya yang noob itu.

Sebagaimana para pengarang besar yang menghipnotis pembaca sejak kalimat pertama. Ia benar-benar jago cerita. Sehingga kemampuan itu berhasil membuatnya mendapat rasa hormat dan pengabdian kami.

Apa boleh buat, kami semua sudah kadung percaya padanya. Jika kami benar-benar khilaf mungkin kami akan ‘beriman’ padanya. Itu akan jadi rukun iman ketujuh. Beriman pada anak Jakarta yang gaul dan pakar soal wanita. Untung saja kami santri tahfidz. Rukun iman ketujuh kami saat itu cuma mendapatkan hati seorang hafidzah.

Pokoknya Siddiq adalah ‘sesuatu’. Pengalamannya sekolah SMA sampai tamat, dan caranya bercerita, membuat kami memafkan semua hal mengganggu yang ada padanya. Kami tidak peduli pada bau handuk menyengat yang sering dijepitnya di pintu lemari, omongannya yang suka nyinyir dan mengomentari betapa noraknya cara kami merokok, tulang-tulang tangan dan kakinya yang menyembul di hampir seluruh anggota tubuhnya, dan wajahnya yang tirus berjerawat.

Sebagai santri baru yang pengalaman mesantrennya baru setahun, jelas dia jauh lebih otoritatif dalam membicarakan seluk beluk perempuan daripada semua santri yang rerarata mesantren sejak jebol SD. Beberapa yang lebih ‘sial’ malah mesantren jauh lebih lama dari itu. Sehingga wawasannya soal perempuan nyaris nol besar. Paling mentok ya ngintip suami istri berhubungan badan, merhatikan mamah-mamah muda jemur baju dengan kaus setengah basah. Sama sekali bukan pengalaman yang romantis.

Tapi saat itu saya tidak sadar bahwa ia sedang memasukkan ide baru untuk menggantikan iman ke tujuh kami, dari “menikahi seorang hafizah” menuju “menikahi Pevita Pearce.”

Apa boleh buat, seperti semua penikmat cerita, kami terlalu polos dan lugu untuk memahami visi dan nubuwat si Sidiq, sang pencerita itu.

Pada akhirnya dengan fenomena maraknya lembaga-lembaga yang menjanjikan program cepat menghafal Al-Quran sekarang ini, bukankah berita soal Pevita ini seharusnya menjadi poin promosi bagus untuk ditambahkan dalam brosur mereka.

Tentu saja selain hadits “khoirukum man ta’allamal quran wa ‘allamahu.”sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengamalkannya. Fenomena ini bisa menambahkannya dengan “wa tazawwaja Fifita Firsa.” Dan menikahi Pevita Pierce. Hehe~

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.