Mencatat dari Gempa Waktu

 

Pernahkah kamu membayangkan suatu tempat yang sudah dua kali kau kunjungi dengan sengaja, tapi kau tetap tidak bisa menjawab hal-hal sepele seperti ini: kapan tepatnya dua waktu itu, di mana letaknya, apa sebenarnya nama tempat tersebut, dan bagaimana kau bisa sampai ke tempat itu dua kali?

Jika ada suatu ruang atau tempat yang sanggup mengacaukan sampai menihilkan keberadaan waktu dalam benakmu, tempat itu pastilah sedang mengalami Gempa Waktu.

Gempa waktu sepahamku adalah jika gempa ini terjadi dalam radius 10 tahun, maka semua hal yang berada dalam cakupannya—termasuk manusia—akan mengulangi sepuluh tahun lampau dari masa hidupnya, sama persis. Tapi tanpa kehendak bebas. Kamu sadar mengulangi tahun-tahun lampau itu, tapi kamu tidak bisa bertindak di luar itu. Jenis time travelling yang menyebalkan.

Jika selama 10 tahun ke belakang kau menikahi orang yang salah, disandera teroris, kuliah di kampus yang tidak terkenal, ditolak seseorang yang kau cintai, bekerja pada atasan yang berengsek, dikencingi kucing saban jam lima dini hari. Maka kau akan mengalaminya lagi dalam sepuluh tahun ke depan. Sama persis! Ditambah, tanpa kehendak bebas. Sama sekali!

Nampaknya aku melakukan hal yang keliru pada pembacaan yang pertama. Hal yang membuatku berdoa agar Kurt membusuk di kerak neraka. Karena mambuatku tampak dungu, tidak berdaya, dan yang lebih tahi, mengharuskanku mengulangnya sekali lagi.

Pada pembacaan kedua aku menyimpulkan beberapa hal. Pertama, Gempa Waktu ternyata bukan judul saja. Ia juga menjadi akar bagi penulisannya. Menikmati novel ini tidak bisa berpegang teguh pada rentetan waktu, sebagaimana novel-novel umum yang menggantungkan plotnya pada latar waktu (dengan aturan yang umum). Dan yang selanjutnya adalah mengubah cara pembacaannya. Jadi kupikir Novel ini akan berbeda dan lebih menyenangkan jika pembacaannya berpegang pada latar ruang.

Pegangan pada latar ruang ini memang mustahil dilakukan secara habis-habisan. Sebab cerita sesulit apapun pasti harus disusun dalam garis waktu. Hanya saja novel ini secara harfiah memang mengalami Gempa Waktu. Sebagaimana gempa bumi sungguhan, kau tidak bisa melakukan semua hal seperti biasa saat itu sedang terjadi.

Bayangkan jika di tempatmu ada gempa bumi yang sangat kecil namun berlangsung satu minggu. Itu setara dengan tujuh hari celaka dalam pengaruh lem aibon. Seluruh permukaan bumi tampak ingin membanting tubuhmu ke arah mereka. Dan kau sangat ingin menghunuskan samurai dan membabatkan ke mana saja setelah bertanya-tanya kenapa ini terjadi padamu, namun yang kau dapati cuma: kau hanya sedang sial, kawan.

Ketika hal seperti ini terjadi, kau harus mengubah sedikit semua hal yang biasa kau lakukan—lagipula kau tidak mungkin tahan lebih dari 30 menit untuk membabatkan samurai ke segala arah. Kau akan memilih bawah meja sebagai tempat tidur dibanding atas ranjangmu. Mengganti piring dengan mangkok besar untuk makan. Atau memilih memasak air panas dengan kompor kecil daripada sebaliknya. Intinya kau harus melakukan sedikit perubahan demi menghindari hal-hal kecil yang bisa mengakibatkan hal serius di masa satu minggu sialan itu.

Begitu pula dengan pembacaan ini.

Jadi yang kulakukan adalah mengingat semua nama tempat, kemudian mencari sebab-akibat dari setiap tindak-tanduk karakter. Dari sana barulah dapat dipetakan alur waktu, bingkai-bingkai cerita (sebab Kurt juga menceritakan beberapa isi novel yang ditulis Trout), dan yang paling penting, plot!

Novel ini menceritakan si aku (btw, ini novel semi-autobiografi pengarangnya) yang mengenal Kilgore Trout (si alter ego penulisnya), seorang novelis sience-fiction yang punya kegemaran membuang semua hasil kerja menulisnya. Dan karakter aku di dalamnya menceritakan semua hal yang pernah ditulis Kilgore Trout,  dan bagaimana Trout menjadi satu-satunya yang sadar bahwa dunia sedang mengalami Gempa Waktu. Lengkap dengan kapan gempa waktu itu bermula dan berakhir.

Masalah terjadi saat gempa waktu ini berakhir, di mana semua orang di dunia seperti baru saja tersadar mengalami sesuatu. Dalam benak mereka hanya terpikir kalimat seperti ini: sepertinya aku pernah mengalami semua ini. Sama persis. Hal yang biasa orang katakan ketika entah apa yang terjadi dalam benaknya, kemudian yang lain menimpali “Wow. Kamu saja mengalami deja vu.” Tanpa sama sekali tahu kenapa dan bagaimana bacotan seperti itu cukup membuktikan jika deja vu secara ilmiah memang benar-benar ada.

Novel ini tampaknya seperti cermin yang mengolok-olok banyak hal. Nilai-nilai kehidupan, progres ilmu pengetahuan, metode dan etos penulisan, perang dan kekuasaan, dunia hiburan dan selebritas, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling mencolok adalah: ide perjalanan waktu yang entah bagiamana saya melihatnya sebagai ide manusia dalam kaitannya dengan takdir.

Dan olok-olok itulah yang paling mudah kamu temukan di dalamnya. Kamu tidak akan heran mendapati kalimat-kalimat dan istilah-istilah indah yang aduhay seperti ini: Hidup ini seperiuk tahi; Hidupnya seperti sampah diacak-acak kucing; Jika mengabaikan fungsinya otak manusia itu lebih terlihat seperti makanan anjing; juga kalau hidup ini tidak bisa disebut menyenangkan, lantas apa lagi?

Di awal sampai hampir berakhir novel ini penuh dengan perasaan pesimis, karakter-karakter frustasi, dan suasana yang menyebalkan minta ampun. Jika saja Kurt dalam gempa Waktu ini tidak punya rasa humor yang bagus aku pasti sudah meninggalkannya dengan buku-buku yang kubeli tiga tahun lalu dan belum kuselesaikan sampai sekarang.

Hal ini membuatku sedikit sadar bahwa meski hidup ini kadang-kadang seperti tai, humor akan selalu menjadi penyelamat. Ia seperti antibiotik dari perasaan-perasaan manusia yang sakit. Seperti semua hasil kerja sains.Untuk mengatasi masalah manusia dari zaman ke zaman.

Jika seseorang bertanya apa yang kuinginkan jika aku punya kesempatan lahir kembali (agak mirip dengan gempa-waktu, hanya saja tidak repot membahas persoalan kehendak bebas). Selain tidak dilahirkan, kupikir aku ingin hidup seperti ini lagi. Lingkaran yang aneh dan busuk. Tetap tidak paham apa-apa. Tetap tidak tahu sudah melakukan sesuatu dengan cara yang tepat, atau malah sebaliknya. Jatuh cinta sesekali, patah hati berulang kali. Pertanyaan-pertanyaan berulang, pelukan-pelukan hilang, dan ciuman-ciuman tergenang dalam kenangan.

Singkatnya, Gempa Waktu baru saja mengguncangku.

 

Informasi Buku
Judul: Gempa Waktu (Timequake)
Penulis: Kurt Vonnegut 
Penerjemah: T. Hermaya
Penerbit: KPG
ISBN: 9789799111432
Tahun publikasi: 2016
(pertama kali dipublikasikan tahun 1997 dalam bahasa Inggris)
Cetakan: kedua (Februari 2016)
Jumlah halaman: 268 halaman

 

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.