Esai

Menanti Partai Indonesia Membaca di Pilkada Purwakarta

cartoonmovement.com

 

Salah satu misteri besar, yang mungkin akan bertahan selamanya sebagai misteri, adalah kenapa minat baca masyarakat kita tidak bisa tumbuh. –AS Laksana

Setahun sudah lewat dan sulit rasanya mengusir ingatan tentang dua baligo yang tegak di jalan Pasar Jumat Purwakarta. Baligo itu bergambar foto setengah badan Dedi Mulyadi mengenakan iket putih, kaos Adidas hitam lengan pendek, dengan bahan putih yang menutupi lengannya. Wajahnya tersenyum, jempol kanannya teracung oke. Di kiri bahunya ada tulisan Hidup Sehat Tanpa HOAX dengan latar belakang Air Mancur Sribaduga malam hari.

Sebagai mantan tukang spanduk timbullah pertanyaan kecil. Pesan apa yang sebenarnya ingin disampaikan Pemerintah Daerah kali ini?

Baiklah, baligo itu ingin agar masyarakat Purwakarta hidup sehat dengan meninggalkan kebiasaan mengkonsumsi hoax. Tapi tetap saja itu menyisakan pertanyaan: iya Kang, olahraga itu menyehatkan badan. Tapi bagaimana itu bisa berhubungan dengan mengobati kecanduan hoax?

Nah, satu minggu setelahnya, seolah kebetulan Pikiran Rakyat merilis headline bertajuk Melawan Hoax dengan Literasi. Kukira kepala berita Pikirian Rakyat itulah jawabannya. Sebab mustahil orang berhenti melakukan kedegilan macam itu hanya karena seorang bupati di baligo bilang begitu.

Dari tiga tulisan As Laksana yang berbeda di beritagar.id ada tiga poin yang masing-masing diungkap dengan perasaan cemas luar biasa: Pertama, pemerintah kurang serius menyikapi kecilnya angka minat baca masyarakat. Sebab ia tidak melihat adanya itikad serius dalam program-program dinas pendidikan, khusunya untuk menindaklanjui persoalan ini.

Kedua, setelah ia merasa tidak enak karena berkesimpulan terlalu jauh di postingan sebelumnya, ia melihat pemerintah sebenarnya sudah melakukan banyak hal. Jadi ia cuma menambahkan, pentingnya visi-misi dalam sosialisasi-sosialisasi tersebut. Sebab dalam amatannya sosialisasi literasi itu tidak punya visi-misi yang jelas.

Ketiga, dan ini poin yang harusnya membuat kita musti bersyukur punya penulis dengan selera humor tigkat dewa. Ia berniat membangun Partai Indonesia Membaca. Secara tersirat ia menyindir bagimana permainan-permainan antar kekuatan politik yang seringkali lebih merugikan daripada manfaatnya.

Hoax kukira adalah masalah kultur, persoalan kebiasaan. Masalah macam itu hanya bisa dilawan dengan kultur tandingan.

Sebenarnyalah pemerintahan Purwakarta sudah maju ke beberapa langkah. Menginisiasi dan bekerjasama dalam program sastra radio, membuka perpustakanan daerah, bahkan pembukuan antologi puisi warga.

Hal-hal tersebut berjalan baik, tapi jika kamu heran kenapa perpustakaan daerah selalu penuh orang-orang yang sedang bergosip kencang-kencang, itu pasti akan menjadi satu-satunya yang menyadarkanmu tentang apa yang kurang selama ini.

Alih-alih menambah koleksi buku baru, fasilitas IT, atau mengundang para penulis untuk berkunjung rutin. Perpustakaan malang itu bahkan tidak bisa menolong dirinya dari orang-orang yang hilir mudik menyangking sepatu.

Tanpa kegiatan-kegiatan yang melibatkan masyarakat pembaca, penulis, dan penerbit, perpustakaan itu tidak saja bakal sepi melulu (atau terlampau ramai sehingga kontra produktif) tapi juga akan menjadikan perpustakaan tersebut berdiri sebagai formalitas belaka.

Ngomong-ngomong soal hoax, budaya literasi, dan tanggung jawab pemerintah, AS Laksana bilang: jika yang tumbuh baik di negara ini adalah ketidakcerdasan dan suara-suara kebencian, yang terus diulang-ulang dan berisik dari waktu ke waktu, kita bisa mengatakan negara salah dalam menangani warganya.

Sejak pilpres 2014 dan kini 2018 hal-hal itu semakin gamblang dan isu-isunya selalu berhasil membuat kotak-kotak yang memenjarakan kita. Kalau tidak A, berarti B. Kalau A pasti begini. Kalau B tidak mungkin begini, tetapi begitu. Dan seterusnya.

Memasuki musim pilkada, pilgub, dan tak lama lagi Pilpres kita tidak melihat satupun dari paslon atau partai politik sungguhan, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten yang punya minat dan itikad baik lagi proresif pada program-program literasi di daerah ‘pertarungan’ mereka. Maka, menanti Partai Indonesia Membaca ini adalah pilihan paling masuk akal, sebelum mendukung bapak ini atau ibu itu.
Btw, puisi Ibu Indonesia-nya Bu Sukmawati itu benar-benar membuka pandangan baru. Bahwa meski Partai Indonesia Membaca belum ada, apalagi mendukung siapapun di pilkada Purwakarta, setidaknya beberapa orang di daera masing-masing musti segera memainkan peran dan mulai memperlihatkan posisinya soal hoax dan literasi ini. Minimal tidak malu-malu membuat acara bedah puisi dan forum diskusi sastra, daripada membiarkan hal-hal tidak pintar dan kontra produktif berkembang di grup-grup whatsapp. Hehe.

 

Bacaan:
https://beritagar.id/artikel/telatah/gejala-gejala-penyakit-selama-pilkada
https://beritagar.id/artikel/telatah/melamunkan-partai-indonesia-membaca

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *