Menanam Harapan pada Gerakan-Gerakan Literasi Nasional

Dalam redaksi post FTBM di Instagram, GERNAS BAKU (Gerakan Nasional Baca Buku) dicanangkan pada tanggal 5 Mei oleh pemerintah pusat. Gerakan tersebut dibuat untuk mendorong orang tua untuk mendukung pengembangan literasi anak, salah satunya dengan membiasakan membacakan buku kepada anak.

Pemerintah Daerah Purwakarta menyambut baik gerakan tersebut dengan menyelenggarakan kegiatan “Literasi untuk Anak Negeri” pada hari Minggu, 6 Mei 2018, bulan lalu di Taman Maya Datar, Alun-alun Purwakarta. Acara tersebut dimulai dari pukul 06.00 s.d. 12.00  waktu setempat. Acara tersebut cukup ramai dihadiri oleh guru-guru se-Purwakarta juga dihadiri oleh PJ Bupati Purwakarta. Selain stand-stand yang diisi berbagai penerbit dan komunitas-komunitas literasi yang diinisiasi masyarakat, ada juga berbagai penghargaan-penghargaan yang diberikan kepada pegiat literasi. Setelah itu acara dilanjutkan dengan konser literasi yang dibawakan oleh Ferry Curtis and Friends.

Di luar pendopo,  di Taman Maya Datar berjejer stand-stand literasi yang turut memeriahkan acara tersebut,  termasuk Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Purwakarta dengan taman baca-taman baca yang ada di Purwakarta. Stand FTBM Purwakarta menyediakan banyak buku bacaan seru dan Permainan Edukatif untuk dimainkan oleh anak, orang tua, remaja, maupun anak bersama orang tua. Setiap pemain diajak bermain, menjelajah, dan bersenang-senang dengan membaca buku sambil melakukan permainan- permainan edukatif yang seru.

Salah satu permainan yang menurutku paling menarik di stand FTBM Purwakarta adalah permainan ‘Jaring Laba-laba’. Permainan ini mirip seperti permainan mencari jalan yang benar, yang biasanya ada di buku dengan beberapa jalan yang salah atau buntu. Tapi FTBM membuatnya menjadi tiga dimensi dengan menggunakan benang wol sebagai jaring dan cincin tutup aqua botol sebagai kendaraannya. Jaring di sana berperan sebagai jalan dan cincin yang melingkar di jaring harus menyusuri jalan sebagai kendaraan menuju lokasi yang dituju.Sehingga orang yang memainkannya akan membawa cincin itu berjalan di jaring yang zigzag, saling berseberangan dengan jalan yang lain sebelum sampai pada ‘gambar’ rumah nenek, laut, maupun gunung.

Taman Maya Datar yang biasanya jadi sarana olahraga Minggu pagi membuat banyak pengunjung rajin yang melewatinya pagi sekali. Sedangkan menuju siang hari pengunjung menjadi lebih sepi ditambah dengan terik matahari yang kurasa lebih panas dari biasanya hari itu. Hal itu membuat keadaan sudah tidak begitu kondusif lagi pada siang hari dan beberapa stand mulai mengemas barang-barangnya.

Namun sangat disayangkan acara tersebut  ternyata tidak berjalan tepat waktu. Banyak stand yang masih kosong meski waktu sudah lewat dari pukul 06.00 WIB dan itu membuat salah satu pengunjung yang datang sejak pagi menggerutu “katanya mulai jam 6″.

Apakah ini sebenarnya menyiratkan bagaimana pemerintah kita memberi perhatian terhadap gerakan-gerakan literasi yang ada? Mengundang gerutuan?

Apapun yang dapat disiratkan dari hal terakhir ini, toh, para altruis literasi tetap berjalan. Tepat waktu atau terlambatnya perhatian pemerintah tidak akan mempengaruhi pekerjaan mereka. Pada akhirnya apapun yang terjadi, penting bagi kita untuk terus menanam harapan-harapan baik pada semua hal yang terjadi, termasuk keberadaan gerakan literasi nasional ini.

Profil Penulis

Sinta Gisthi Ardhiani
Sinta Gisthi Ardhiani
Aktif di Forun Taman Baca Masyarakat Purwakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.