Memutus Rantai Kekerasan Seksual dari Komunitas

Meski isu menangkal kekerasan seksual kian populer, ternyata tidak menjadikan budaya seksisme hilang begitu saja. Padahal upaya-upaya sosialisasinya begitu massal. Ada banyak konten informasi kekerasan seksual dibuat sedemikian menarik, komunitas-komunitas anti-kekerasaan seksual tumbuh bak jamur di musim hujan, berbagai bentuk gerakan sudah dilakukan, dari yang luring sampai during misalnya #everydaysexism.

 

Saya sendiri kerap kali kesulitan untuk membangun interaksi yang sehat ketika berada di ranah publik. Baik itu di lingkungan kerja maupun di komunitas.  Meskipun isi diskusi adalah tentang kemanusiaan atau pengetahuan lainnya, tetapi masih saja ada yang membuat gurauan-gurauan seksis, dan kampretnya, masih berhasil mengundang tawa renyah khalayak dalam forum.

 

Paling tidak, saya dapat menyimpulkan dua hal yang menjadi faktor mendasar kekerasan seksual seperti ini masih terjadi. Pertama adalah dominasi kelompok laki-laki di ruang publik. Tidak bisa dipungkiri jumlah laki-laki selalu lebih banyak ketimbang perempuan. Jumlah ini sangat mungkin mendorong laki-laki merasa dominan dan tidak heran mewakili jumlah terbesar sebagai pelaku kekerasan.

 

Saya tidak mengatakan bahwa 100% pelakunya adalah laki-laki. Sebab toh terkadang perempuan menjadi pelaku tindak kekerasan seksual kepada perempuan lainnya. Begitu juga dengan laki-laki yang melakukan tindak kekerasan seksual terhadap rekan sejenisnya. Dalam konteks berkomunitas, ini artinya kelompok-kelompok dan komunitas yang idealnya dibangun atas kesadaran malah sama-sama tidak sadar. (Mari pingsan bersama).

 

Kedua adalah norma sosial. Norma sosial menekan perempuan untuk tidak secara aktif mengambil peran di ranah publik. Itu juga yang membuat jumlah laki-laki semakin dominan. Tidak heran jika budaya seksisme yang lahir dari sistem partiarkis menjadi karib dalam interaksi kita sehari-hari. Kita tidak sadar bahwa itu bisa jadi pintu masuk tindak kekerasan seksual yang lebih serius.

 

Masalah bertambah sebab ada saja yang tidak keberatan atau terancam ketika mengalami tindakan seksis. Hal ini juga bakal menjadi problematis bagi penggiat anti-kekerasan seksual atau bagi orang yang memiliki kesadaraan di dalam kelompoknya.

 

Berdasarkan data yang diperoleh dari Komnas Perempuan tahun 2018 tercatat sebanyak 2.670 kasus kekerasan seksual dilaporkan. Atau setidaknya 76% kasus kekerasan seksual mendominasi  kasus kekerasan dalam bentuk lain di ranah publik atau komunitas. Kekerasan dalam ranah publik/komunitas menduduki peringkat kedua setelah ranah personal/privat.

 

Komunitas sejatinya dibangun berdasarkan kesadaran dan independensi para anggotanya. keduanya merupakan pondasi supporting system bagi seluruh anggota, laki atau perempuanNamun yang terjadi hari ini berbeda. Komunitas menjadi mimbar yang dibuat untuk membentuk citra tokoh, mimbar eksistensi, dan sarana kepentingan para manusia egois. Sehingga melupakan fungsi utamanya sebagai supporting system itu tadi.

 

Kekerasan seksual adalah satu dari banyak faktor yang membuat interaksi di ranah publik menjadi tidak sehat, khususnya dalam komunitas. Penting untuk memiliki kesadaran ini. Untuk mengembalikan komunitas sebagai wadah yang memiliki support system para anggotanya. Sehingga perempuan dan laki-laki ketika sudah berada di lingkungan komunitas, idealnya sudah berada di posisi yang setara.

Dominasi laki-laki dan norma sosial memang rintangan kita bersama dan kabar baiknya keduanya bisa diatasi. Pertama, jika jumlah yang menjadikan laki-laki tetap mendominasi sehingga tindakan kekerasan memiliki peluang yang lebar, maka komunitas perlu membuat narasi kesepakatan bahwa tidak ada seksisme ketika sedang berdialog.

Kedua, Perempuan-perempuan di dalam komunitas perlu membagikan pengalaman mereka secara terbuka bahwa tindak kekerasan seksual sangat merugikan dan berdampak besar bagi kehidupan mereka secara personal.

Ketiga, melibatkan para pelaku dalam menangani dan mengkaji kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di lapangan. Ketiga hal ini insyaallah (cie insyaallah) akan membuka ruang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

 

Dus, hal paling dasar dalam membangun sebuah komunitas adalah memiliki iklim organisasi yang baik. Hal itu bisa dinilai melalui alur komunikasi para anggotanya. Apakah komunitas mampu menjadi wadah yang nyaman untuk semua orang, terlepas dari perbedaan gender sampai cara makan bubur; atau malah jadi ruang yang membelenggu keberagaman? Apakah komunitas berhasil mewadahi minat belajar para anggotanya atau malah menjadi sarana berkumpul orang-orang tidak peka terhadap wacana-wacana masalah sosial? Dan yang paling mendasar adalah apakah komunitas sudah menjadi tempat yang aman atau malah menjadi neraka, seperti yang sudah-sudah?

 

Pada akhirnya barangkali budaya seksisme akan selalu ada, tapi bukan berarti tak bisa dikikis. Meski masih banyak orang menganggap perilaku seksis adalah hal biasa, namun ketika ada yang merasa tidak nyaman dan dirugikan, meski itu satu orang saja, kita harus berhenti. Minimal berhenti menjadikan urusan-urusan kelamin sebagai bahan bercandaan. Itu saja sih.