Memosisikan Kesusastraan Kita Secara Sehat

Katakanlah kita melihat kesusastraan kita sebagai dasein. Itu artinya, kita menyadari bahwa, bagaimanapun, ia akan berelasi dengan hal-hal yang ada di sekitarnya, termasuk itu kesusastraan-kesusastraan lain—yang sering salah dipahami sebagai kesusastraan dunia atau sastra dunia; termasuk juga hal-hal yang berusaha mengekangnya, membentuknya, mereduksinya, membatasinya—selanjutnya kita sebut saja faktisitas. Pertanyaannya kemudian adalah apakah kesusastraan kita itu kesusastraan yang autentik, atau menuju dirinya yang autentik, di mana jawaban atas pertanyaan ini kiranya akan sangat berpengaruh terhadap cara kita memosisikan kesusastraan kita itu dalam relasinya dengan ruang di mana ia berada—dan meng-ada. Untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, tentu saja, kita perlu terlebih dahulu bersepakat tentang apa itu diri yang autentik, juga kesusastraan yang autentik.

___

 

Kesusastraan yang Autentik, Faktisitas, dan Nobel Sastra

Para eksitensialis, atau mereka yang menganut eksistensialisme, melabeli orang-orang yang begitu kompromis terhadap faktisitas sebagai orang-orang yang tidak autentik; mereka yang memilih untuk merepresi kuat-kuat dorongan-untuk-bebas yang sejatinya tertanam di dalam diri mereka sejak mereka mulai ada, dan menerima upaya-upaya faktisitas dalam mendefinisikan mereka sebagai sebuah kewajaran belaka, sesuatu yang memang semestinya terjadi dan tak perlu dipersoalkan; orang-orang yang merelakan diri-individu mereka perlahan-lahan—atau bahkan tidak perlahan-lahan—berubah menjadi diri-kolektif, sehingga mereka, bisa dibilang, kehilangan diri mereka sendiri—diri mereka yang sesungguhnya. Maka kesusastraan yang tidak autentik, dengan demikian, adalah kesusastraan yang begitu kompromis terhadap hal-hal yang berusaha membentuknya, mengekangnya, membatasinya, mereduksinya—faktisitas itu. Dalam upaya menjadi dirinya yang autentik ini sebuah kesusastraan harus bertarung dengan faktisitas tersebut—menekan balik, menghajarnya, menggoyahkan posisinya sebagai yang dominan. Berhasil-tidaknya ia menjadi sebuah kesusastraan yang autentik ditentukan oleh hasil pertarungan tersebut—apakah ia tetap berada pada posisi ditekan atau tidak lagi, misalnya. Sebuah kesusastraan yang autentik, dengan kata lain, adalah sebuah kesusastraan yang berhasil keluar dari kotak subaltern yang semula ditempatinya—atau terpaksa ditempatinya—karena nilai tawarnya yang relatif rendah.

Namun apa konkretnya faktisitas itu? Banyak. Salah satu yang paling dominan—dan karenanya paling menekan—adalah Nobel Sastra. Dianugerahkan setiap tahunnya, Nobel Sastra telah kadung dianggap sebagai tolak ukur kesuksesan tertinggi seseorang dalam melakukan kerja sastra—terlepas dari ia benar-benar menyabet anugerah tersebut atau hanya sebagai nominator—sehingga, dengan sendirinya, muncul perspektif yang menyatakan bahwa mereka yang melakukan kerja sastra secara sungguh-sungguh sebaiknya menjadikan Nobel Sastra sebagai tujuan, bahwa setiap kerja sastra mereka mestilah diarahkan supaya anugerah tertinggi tersebut kelak memungkinkan untuk mereka dapatkan. Salah satu pekerja sastra kita yang menganut perspektif ini adalah H.B. Jassin. Sebagaimana dikemukakan oleh Langgeng Prima Anggradinata—secara implisit—dalam esainya, “Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia”[1], Jassin memosisikan Nobel Sastra sebagai raihan utama yang mesti dikejar para pekerja sastra kita agar kesusastraan kita benar-benar memiliki tempat yang baik di kesusastraan dunia—sebuah posisi non-subaltern yang prestisius. Ketika Jassin melihat kesusastraan Jepang, misalnya, ia menempatkannya pada posisi yang (jauh) lebih tinggi daripada kesusastraan kita, dan itu karena telah ada (dua) pekerja sastra mereka yang menyabet Nobel Sastra.

___

 

Muatan Politis dalam Karya Sastra

Meski terkesan logis dan bisa diterima, perspektif ini sebenarnya mengandung masalah. Nobel Sastra selalu bermuatan politis. Memilih sedikit saja dari para pekerja sastra di seluruh dunia(?) untuk dijadikan nominator anugerah Nobel Sastra tidak terlepas dan terbebas dari muatan politis yang ada pada diri si pekerja sastra atau karya(-karya) sastranya. Pramoedya Ananta Toer, misalnya. Kiranya mudah bagi kita memahami bahwa dalam karya-karyanya ada muatan politis yang kuat, dan muatan politis inilah salah satunya yang membawanya begitu dekat ke “raihan utama” para pekerja sastra di seluruh dunia itu—bisa jadi yang paling dominan. Dan di sinilah masalah itu muncul, terutama apabila kita termasuk yang menganggap muatan politis dalam karya atau kerja sastra sebagai faktor utama penentu kualitas dan kesuksesan kita sebagai pekerja sastra.

Kita mesti mendefinisikan “muatan politis” di sini secara luas; tidak terbatas pada secara eksplisit mengangkat situasi politik, namun bisa juga mengangkat persoalan sosio-kultural; sebab, pada akhirnya ketika karya atau kerja sastra kita itu ditawarkan ke dunia yang lebih luas, ke kesusastraan-kesusastraan lain, terlebih lagi yang (berada di kawasan yang) secara geografis atau historis cukup jauh dari kita, tak mungkin tidak, sesuatu sosio-kultural itu akan memiliki muatan politis; ia, misalnya, bisa didekati dengan orientalisme atau oksidentalisme, dan itu justru menguatkan muatan politisnya.

Terkait hal ini Eka Kurniawan, ketika diwawancarai Desi Anwar dalam program Insight With Desi Anwar bertajuk “Sastra Indonesia Menyapa Dunia”[2], mengatakan bahwa hal-hal semacam itulah yang menarik perhatian para pembaca luar, mereka yang berada di kawasan-kawasan lain, di kesusastraan-kesusastraan lain. Kurniawan lantas mengatakan bahwa jika kita ingin karya (dan kerja) sastra kita mendapat tempat di kawasan-kawasan lain itu, di kesusastraan-kesusastraan lain itu, maka kita sebaiknya mengangkat hal-hal tadi, menghadirkan muatan politis itu, dalam karya (dan kerja) sastra kita.

Apa yang dikemukakan Kurniawan ini masuk akal belaka, namun di balik itu, entah disadarinya atau tidak, ada efek samping yang buruk. Yang saya maksud adalah upaya untuk mereduksi kesusastraan kita; membatasi wujud konkretnya hanya pada karya (dan kerja) sastra yang memiliki muatan politis saja, dan tidak yang selain itu—tidak yang muatan politisnya tak cukup eksplisit sehingga dianggap sangat kurang atau tak ada. Dan kita pun seperti didorong untuk berusaha memenuhi permintaan para pembaca luar itu, tanpa berusaha menarik mereka terlebih dahulu ke dalam sebuah ruang di mana di sana kita dan mereka bisa bernegosiasi, saling menawarkan permintaan—semacam itu. Ini, saya kira, bisa dilihat sebagai sebuah upaya-tidak-sadar untuk menguatkan posisi kita sebagai pihak subaltern; sesuatu yang mestilah terdengar konyol; konyol dan benar-benar konyol. Dan itu berarti, kita seperti digiring untuk membawa kesusastraan kita semakin jauh dari menjadi kesusastraan yang autentik.

Dan menjadi lebih parah lagi apabila kita benar-benar menilai muatan politis inilah satu-satunya faktor yang memungkinkan karya dan kerja sastra kita diterima dengan baik—ditempatkan pada posisi non-subaltern yang prestisius—di kesusastraan-kesusastraan lain, terutama kesusastraan-kesusastraan yang lebih dulu maju dan karenanya menjadi yang dominan—dan menekan. Jika kita sampai berpikir ke arah sana, akan ada satu dampak buruk lain: kita, jadi cenderung mengabaikan komposisi dari karya dan kerja sastra kita, sehingga, lambat-laun, kita tak lagi peduli apakah karya dan kerja sastra itu bisa berdiri sendiri sebagai sesuatu yang berkualitas atau tidak—selama muatan politisnya kuat dan kesusastraan-kesusastraan lain menerimanya dengan baik.

Jika itu sampai terjadi maka kiranya akan secara otomatis membenarkan pernyataan erosentris dari Franco Moretti, kritikus Italia itu, bahwa (semua) karya sastra yang ada saat ini, yang tersebar di seluruh dunia saat ini, adalah perpanjangan dari karya sastra Eropa, yakni karya sastra model Eropa dengan muatan lokal. Ingat, lokal di sini berarti juga situasi sosio-kultural lokal, berarti juga situasi geopolitik lokal, dan yang semacamnya.

Di era di mana modernisme telah dilampaui, tentu, pernyataan bernuansa orientalis dari Franco Moretti tersebut sudah tak relevan lagi. Bineritas, totalitas, telah kita lampaui; dan kita menggantinya dengan diversifikasi, multikulturalitas, pluralitas—meski kemudian timbul juga masalah-masalah lain yang tak akan dibahas di sini. Namun apabila kita hanya menitikberatkan kekuatan karya dan kerja sastra kita pada muatan politisnya saja, dan mengabaikan atau setidaknya tak benar-benar menggarap komposisinya, kita, tak pelak lagi, tengah menunjukkan bahwa benarlah kita hanya bisa meminjam model karya sastra Eropa, dan sebab kita tak bisa(?) membuat model yang lebih baik maka kita menyiasati kelemahan kita itu dengan memasukkan hal-hal lokal, mengisi karya sastra kita tersebut dengan muatan lokal, sekadar untuk membuatnya berbeda dari karya sastra Eropa itu. Kita dengan kata lain hanya bisa meniru model karya sastra Eropa itu, tetapi tidak melampauinya; yang artinya kita seperti kembali ke masa di mana modernisme itu belum kita lampaui. Tentu, kata Eropa di sana mesti diperluas menjadi “Eropa”, yakni mencakup juga kawasan-kawasan non-Eropa yang kesusastraannya telah lebih dulu maju ketimbang kita seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, Jepang, dan Tiongkok; kesusastraan-kesusastraan yang dalam relasinya dengan kesusastraan kita masih menempati—atau kita tempatkan pada—posisi dominan.

___

 

Melampaui untuk Menjadi Khas dan Autentik

Fenomena el boom di kesusastraan Amerika Latin semestinya menyadarkan kita bahwa komposisi dari karya dan kerja sastra kita, dalam upaya membuat kesusastraan kita menempati posisi non-subaltern yang prestisius dalam relasinya dengan kesusastraan-kesusastraan lain, bukanlah sesuatu yang boleh diabaikan; justru, ia harus digarap dengan sungguh-sungguh sehingga ia, dalam arti tertentu, melampaui apa yang coba ditirunya—model atau komposisi yang dirujuknya. Apakah kekuatan fiksi-fiksi Gabriel Garcia Marquez, misalnya, terletak pada muatan politisnya saja, atau komposisinya saja? Jawabannya tentu keduanya. Keduanya sama-sama kuat, dan saling melebur-sabur menjadi sebuah kesatuan yang lebih kuat lagi. Kalaupun di sini kita mau kembali bicara soal Pramoedya Ananta Toer, tentu, kita mendapati bahwa fiksi-fiksi Toer tidak hanya kuat di muatan politis namun juga kuat di komposisi, tentu dengan tipe komposisi yang berbeda dengan komposisi fiksi-fiksi Marquez tadi.

Pola atau langkah semacam ini tidak hanya berlaku di kesusastraan, namun berlaku juga di ruang-ruang lain seperti perekonomian. Jepang, misalnya, sebagai salah satu negara maju dengan kekuatan perekonomian terkuat di dunia saat ini, pernah harus berjuang habis-habisan membangun-ulang perekonomian mereka pasca kekalahan telak di Perang Dunia II. Dan apa yang dilakukan Jepang? Pada awalnya mereka meniru perekonomian negara-negara yang telah maju, memproduksi dan memasarkan produk-produk yang telah dikenal oleh pasar. Setelah itu, seiring berlalunya waktu, mereka meningkatkan kualitas produk-produk mereka itu, hingga akhirnya sampai ke tahap melampaui produk-produk rujukannya. Dan kekhasan pun muncul, dengan sendirinya[3]. Dan kekhasan ini membuat produk-produk mereka menjadi lebih kuat nilai tawarnya di pasar, dan dalam arti tertentu tidak lagi dikait-hubungkan dengan rujukannya; konsumen telah melihat produk-produk tersebut sebagai produk-produk tanpa preseden, dan karenanya unggul. Produk-produk Jepang, demikian juga perekonomian Jepang, telah berhasil menjadi dirinya yang autentik.

Kiranya seperti itu jugalah yang terjadi pada kesusastraan Amerika Latin dengan el boom-nya. Dan saya kira, kita pun semestinya bisa menempuh jalur tersebut, dan memperoleh keberhasilan seperti halnya mereka memperolehnya. Memang ada faktor-faktor lain yang ikut mendorong tercapainya keberhasilan tersebut; faktor-faktor yang tak kalah krusialnya seperti akrab dan terbiasanya para pekerja sastra di Amerika Latin dengan bahasa Spanyol, yang memudahkan mereka mengakses karya-karya sastra berbahasa Spanyol di Eropa, langsung dari bahasa aslinya, bahasa-pertama. Kita tidak memiliki faktor itu. Dan itu, barangkali, merugikan kita. Namun sebagaimana halnya mereka memiliki sesuatu krusial yang tidak kita miliki, kita pun mestilah memiliki sesuatu krusial yang tidak mereka miliki. Salah satunya adalah hibriditas; sesuatu yang terlahir dari “watak” masyarakat kita yang beragam dan akulturatif, sejak dulu. Masyarakat kita, kebudayaan kita, adalah masyarakat hibrid, kebudayaan hibrid. Dan begitu pulalah kesusastraan kita.

Anggradinata, dalam esainya yang sempat disinggung tadi, sedikit memaparkan ulang apa yang pernah dipaparkan Melani Budianta tentang hibriditas kesusastraan kita, yakni tentang aliran-aliran sastra yang tumbuh dan berkembang di kesusastraan kita. Pada periode 1970-an, di kesusastraan kita hidup beberapa aliran sastra sekaligus seperti imajisme, simbolisme, dan romantisisme; berbeda sekali dengan di Eropa di mana masing-masing aliran tersebut lahir dan tumbuh pada kurun waktu yang berbeda. Menurut Budianta, inilah salah satu kekhasan kesusastraan kita, dan ia benar. Watak masyarakat kita yang gemar mengakulturasikan apa yang baru datang dengan apa yang telah ada, mencampur-adukkan apa-apa yang tersaji di hadapan, telah membentuk kesusastraan dengan lebih dari satu aliran seperti itu; sesuatu yang barangkali sulit dibayangkan terbentuk di kesusastraan Amerika Latin, misalnya. Maka jelas ini sebuah kelebihan. Bahan baku, lebih tepatnya. Untuk benar-benar membuat kesusastraan kita begitu khas dan di saat yang sama autentik, dan itu berarti menempati posisi non-subaltern yang prestisius dalam relasinya dengan kesusastraan-kesusastraan lain, kita perlu meramu bahan baku tersebut, mengolahnya sedemikian rupa sehingga tercipta sebuah komposisi yang sangat kuat, yang terlampau kuat untuk diabaikan bahkan oleh para pekerja sastra yang masih berpikir erosentris—atau para orientalis. Sebab itu pulalah yang terjadi pada kesusastraan Amerika Latin. Akses “istimewa” ke kesusastraan Eropa berbahasa Spanyol hanyalah bahan baku; belum berarti apa-apa sebelum diolah dengan intens dan cerdas menjadi sebuah komposisi yang kuat.

Di antara para pekerja sastra kita, Eka Kurniawan barangkali salah satu yang terlihat berusaha mengolah bahan baku tadi itu. Dalam dua novel pertamanya, misalnya, Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau, dengan mudah kita dapati model-model karya sastra luar yang coba dipadu-leburkan oleh Kurniawan, di mana “jarak” antara satu model dengan model lain bisa sangat jauh—baik secara geografis maupun historis. Di dalam dua novelnya itu sendiri, Kurniawan terlihat mencoba mengakulturasikan beberapa “aliran” sekaligus; sebentuk upaya lainnya mengolah hibriditas tadi. Dan kita patut curiga jangan-jangan hal inilah yang membuat dua novel pertama Kurniawan itu, saat ini, relatif banyak diminati di kesusastraan-kesusastraan lain.

Sayangnya, dan ini penting untuk dikemukakan berulang kali, upaya pengolahan yang dilakukan Kurniawan tersebut belum sampai pada tahap berhasil. Mengapa begitu? Karena kita sebagai pembaca masih bisa dengan mudah menemukan batas-batas antara aliran satu dengan aliran lain, antara model satu dengan model lain. Sederhananya, pengolahan itu belum sampai membuat setiap hal yang dipadu-leburkan melebur-sabur; masih terlihat ada celah-celah yang nyata, yang dengan sendirinya membuat komposisi yang ditawarkan Kurniawan ini tidak melampaui apa-apa yang dirujuknya, apa-apa yang coba ditirunya. Jika, misalnya, kita memperbandingkan Cantik Itu Luka dengan Seratus Tahun Kesunyian, kita jelas sepakat bahwa novel fenomenalnya Marquez posisinya berada jauh di atas. Atau, jika kita memperbandingkan eksplorasi psiko-sosiologis tokoh-tokoh dalam kedua novel Kurniawan itu dengan eksplorasi psiko-sosiologis tokoh-tokoh dalam novel-novelnya Fyodor Dostoevsky, kita, jelas, mendapati versi Kurniawan masih jauh di bawah versi Dostoevksy.

___

 

Menyiasati Faktisitas

Di titik ini mari kita kembali ke faktisitas. Mestinya, kita sudah memperoleh gambaran yang lebih konkret, bahwa faktisitas tidak selalu—atau tidak semuanya—sesuatu yang benar-benar harus kita ubah atau kalahkan; ia bisa saja tetap dirinya yang sama namun fungsi dan posisinya kita ubah sedemikian rupa sehingga ia justru memberi kontribusi yang positif terhadap perkembangan kita, terhadap upaya-upaya kita menjadi diri yang autentik. Hibriditas tadi, misalnya. Atau Nobel Sastra. Atau perspektif pasar yang (masih) cenderung orientalis—kalau erosentris mestinya tidak lagi. Apa yang disarankan—secara halus—oleh Eka Kurniawan tentang muatan politis tadi bisa saja kita tanggapi seperti pada kasus Jepang dengan perekonomiannya; bahwa, tidak masalah memenuhi “permintaan” pasar selama itu diniatkan sebagai langkah awal, semata langkah awal, di mana langkah-langkah selanjutnya diarahkan untuk membawa kita, karya dan kerja sastra kita, melampaui “permintaan” pasar tersebut; sebab setelah berhasil melampaui itulah kesusastraan kita baru benar-benar dekat dari menjadi kesusastraan yang autentik. Terkait hal ini diperlukan perencanaan jangka panjang yang matang. Perencanaan semacam inilah yang membuat Jepang berhasil menjadi salah satu negara dengan perekonomian terkuat di dunia hingga saat ini.

Dan perencanaan jangka panjang ini mestilah tidak melupakan hibriditas sebagai bagian dari eksistensi kita, masyarakat kita, kesusastraan kita. Tidak melupakannya berarti menyadari, dan menerima, bahwa komposisi yang mungkin ditawarkan oleh para pekerja sastra kita akan sangat beragam, dan memang sudah semestinya beragam—sebab hibdiritas itu sendiri adalah konsekuensi dari keberagaman. Di antara mereka mungkin ada yang menggarap muatan lokal untuk membenturkannya dengan orientalisme atau pascakolonialisme, atau pascamodernisme; mungkin ada juga yang memilih tema-tema atau nuansa-nuansa kosmopolit; mungkin ada juga yang memilih fokus pada isu-isu feminisme atau intoleransi; mungkin ada juga yang malah memilih bercerita tentang sesuatu yang tidak terjadi di negeri ini, di kawasan ini, di masyarakat ini; dan mungkin ada juga yang memilih untuk tidak berbicara tentang apa pun selain dirinya sendiri—sebuah komposisi abstrak dalam pengertian yang sesungguhnya. Seperti itulah semestinya hibriditas kita, saya kira. Dan masing-masing semestinya memiliki ruang, atau diberi ruang, selama pada apa yang ditawarkannya itu ada kualitas, juga potensi.

Upaya mereduksi hibriditas kesusastraan kita pada muatan-muatan yang tengah trend atau “menjual” harus diwaspadai, sebab berpotensi menjauhkan kesusastraan kita dari menjadi kesusastraan yang autentik. Sekali lagi kesusastraan kita adalah dasein, dan itu berarti dalam relasinya dengan pasar di mana trend itu terbentuk, seyogianya ada tawar-menawar yang intens di antara keduanya; sebuah interaksi dan relasi dua arah yang sifatnya bukan hierarkis melainkan dialogis. Terhadap Nobel Sastra sebagai salah satu faktisitas dominan itu sendiri, misalnya, sebaiknya kita tidak begitu saja menempatkannya sebagai sesuatu yang secara hierarki berada di atas kesusastraan kita; justru, kita melihat keduanya berada pada garis hierarki yang sama—kalaupun hierarki itu ada—di mana komunikasi di antara keduanya bisa berlangsung secara lebih adil, sesuai dengan semangat pascamodernisme.

Sebagaimana pernah dikemukakan Nirwan Dewanto dalam “Di Manakah Sastra Dunia?”[4], sebenarnya kita tidak pernah benar-benar mengenal sastra dunia atau kesusastraan dunia; yang kita kenal paling-paling hanyalah “kesusastraan dunia”, yakni kesusastraan dunia yang telah sangat tereduksi dan terbatasi. Oleh siapa? Oleh faktisitas. Di sini kita mendapati hal menarik bahwa sesuatu yang dibentuk oleh faktisitas kemudian menjadi faktisitas lain, dan selanjutnya ia pun membentuk faktisitas lain, dan terus seperti itu. Nobel Sastra, misalnya, juga upaya-upaya kanonisasi (bertaraf internasional) lainnya, adalah faktisitas yang dibentuk oleh faktisitas; dan ia membuat kesusastraan dunia itu menjadi lebih tereduksi lagi—sebab yang ia reduksi adalah “kesusastraan dunia”; dan kesusastraan dunia yang telah sangat tereduksi inilah yang kemudian dijadikan H.B. Jassin—juga sebagian (banyak) dari pekerja sastra kita—sebagai raihan utama kerja sastra kita; dan dalam melakukannya—barangkali tanpa kita sadar betul apa yang sesungguhnya kita lakukan—kita mendengar seruan-seruan untuk menguatkan “muatan politis” dalam karya dan kerja sastra kita, bukannya melampaui model atau komposisi yang kita tiru.

Sungguh ini bukan sesuatu yang sehat bagi kesusastraan kita. Nirwan Dewanto, dalam esainya tadi itu, mengatakan bahwa mendunia adalah efek samping belaka dari beresnya kita menata kehidupan di rumah sendiri—efek cetak miring dari saya. Dan saya sependapat dengan Dewanto. Dan itu berarti saya akan mengatakan bahwa menempatkan kesusastraan kita pada posisi non-subaltern yang prestisius dalam relasinya dengan “kesusastraan dunia” mestilah dibarengi oleh upaya-upaya serius-nan-intens dalam melampaui komposisi yang kita tiru—entah itu dari Eropa, Amerika Latin, Jepang, Tiongkok, atau mana pun itu; tidak bisa kita hanya fokus menyesuaikan diri dengan “selera” pasar, yang justru rentan membuat kita tidak beranjak sedikit pun dari posisi subaltern. Seperti itulah, kiranya, cara sehat dalam memosisikan kesusastran kita.(*)

 

—Bogor, 3 Agustus 2018

[1] Terbit di jurnal Ruang pada 30 Juli 2018. Diakses di https://jurnalruang.com/read/1532599415-sastra-indonesia-sebagai-warga-sastra-dunia# pada 31 Juli 2018.

[2] Wawancara dilakukan pada 2016, sebelum novel terakhir Eka Kurniawan, O, terbit. Durasi program: 48 menit 30 detik. Durasi wawancara: 41 menit. Ditonton di https://www.youtube.com/watch?v=e-Z-QiNry8M&list=WL&index=88&t=0s pada 2 Agustus 2018.

[3] Untuk selengkapnya baca artikel Devi Fitria berjudul “Jepang dari Isolasi Hingga Industri”; terbit di Historia.id pada 28 Mei 2010. Diakses di https://historia.id/mondial/articles/jepang-dari-isolasi-hingga-industri-vq4yD pada 25 Juli 2018.

[4] Terbit di, salah satunya, http://islandsofimagination.id/web/id/articles/dimanakah-sastra-dunia, tanpa tanggal. Diakses pada 3 Agustus 2018.