Resensi

Memoar Jenaka Etgar Keret

source gogle

Kendati ayahnya telah melarang, Etgar Keret bersikeras datang pada acara Ubud Writers and Reader Festival, di Bali. Keret seolah tidak mengindahkan kekhawatiran ayahnya, seseorang yang lolos dari tragedi holocaust. “Indonesia adalah negara Muslim yang sangat anti-Israel, dan anti-Semit,” begitu kata ayahnya, takut Keret akan diculik atau dibunuh. Meskipun Keret bilang, menurut Wikipedia, mayoritas orang Bali beragama Hindu, ayahnya dengan sarkastis menyangkal, “Kita tak perlu suara mayoritas untuk menembakkan peluru ke kepalamu.”

Keret akhirnya tetap datang, dan bertemu orang-orang yang menurutnya melihat dengan tatapan aneh, tapi tersenyum ramah. Keret tidak bisa menafsirkan ekspresi mereka. Kecuali menyadari, barangkali dirinya adalah penulis Israel pertama yang pernah datang ke Bali. Dan dengan nada mengejek diri sendiri, “Apa yang mereka lihat ketika melihatku? Mungkin seekor kadal”.

Demikianlah cara Etgar Keret mengolok-olok dirinya yang mengaku sebagai Yahudi paranoid. Humor semacam itu kerap menjadi jurus Keret untuk mengusir ketakutannya ketika bertemu dengan orang-orang yang membenci Yahudi. Di dalam bukunya ini, kita akan mendapati humor yang melimpah. Esai-esai ringkasnya seperti mengungkap bagaimana Keret melihat sebuah penderitaan dengan cara pandang yang unik dan jenaka. Seperti membaca cerpen-cerpen Keret yang bertaburan ironi dan humor gelap, esai-esainya pedih sekaligus lucu. Tak pelak, dirinya pun secara ironis memberi judul bukunya ini, The Seven Good Years.

Etgar Keret, kelahiran Rahmat Gan, Israel, 1967. Ia dikenal sebagai seorang penulis cerita pendek, selain juga novel grafis dan skenario. Nama Keret kondang lewat dua buku kumpulan cerpennya Pipeliness (1992) dan Missing Kissinger (1994). Sementara bukunya ini adalah memoarnya yang mengisahkan kurun waktu tujuh tahun dalam hidupnya, dimulai dari kelahiran anak pertamanya hingga kewafatan ayahnya. Esai-esai pendeknya berisi fragmen kisah yang dialami Keret sebagai seorang Yahudi, warga Israel, seorang ayah, seorang anak, dan tentu saja seorang penulis.

Apabila pertaruhan sebuah buku dimulai sejak kalimat pembuka, maka Keret berhasil melakukannya lewat esai berjudul Tiba-tiba Hal yang Sama sebagai pembukaan yang cergas, memukul, tapi juga lucu. Sebuah kalimat, “Aku benci serangan teroris,” dibalas dengan pertanyaan tak terduga, “Mau permen karet?” (hlm.2).

Esai tersebut bercerita saat kelahiran anak Keret di rumah sakit, bersamaan terjadinya serangan teroris. Seorang wartawan yang mengenali Keret sebagai penulis merasa kecewa ketika Keret berkata bahwa ia bukanlah korban serangan. Si wartawan terlanjur berharap, apabila penulis menjadi korban, komentar penulis dapat menjadi artikel yang orisinal dan memiliki visi. Sejurus itu, dengan sangat menohok Keret bertanya, “Hal orisinal apa yang bisa anda katakan dari sebuah ledakan dan kematian yang sia-sia?”

Penuturan Keret mengenai terorisme lebih gamblang akan kita temukan dalam esai Mata Burung yang berkisah tentang keluarganya yang senang memainkan gim Angry Bird (hlm.95). Mengapa burung-burung Angry Bird rela bunuh diri demi menghancurkan bangunan? Dengan agak main-main, Keret menyebutnya secara politis sebagai alegori semangat para jihadis terorisme. Dan entah ada kesengajaan atau tidak, burung-burung pemarah itu mengincar babi; hewan yang dicap hina dalam beberapa agama tertentu.

Seperti itulah Keret mengkritik terorisme. Meskipun begitu, bagi Keret, orang yang hampir putus asa perlu mencari kebaikan di tempat yang paling tidak mungkin (hlm.51). Keret, dalam pikiran-pikiran sinisnya, tetap menaruh harapan pada perdamaian di kawasan konflik Timur Tengah. Yang tidak lain juga sebagai pengharapan agar anaknya tidak tumbuh dengan melihat rudal dan nyawa berjatuhan setiap hari.

Di dalam memoarnya ini Keret terlihat sekali menujukkan kecemasan seorang ayah pada anak. Sebagai seorang Yahudi seperti dirinya, ia tahu anaknya mau tidak mau mesti tumbuh besar dan bersiap menghadapi berbagai bentuk paranoid budaya, pobia identitas, rasisme, dan prasangka stereotip. Kecemasannya itu kerap mengajak kita pada perdebatan yang bukan sekadar sentimentil, melainkan juga politis dan ideologis. Umpamanya, saat dirinya berdebat sengit dengan istrinya tentang masa depan anaknya, Lev, apakah akan masuk tentara ketika dia dewasa.

Membaca esai-esai seperti Bayi Besar, Pembela Kaum, dan Misa Arwah untuk Sebuah Mimpi, kita akan mendapati benang merah yang sama. Sebenarnya kekhawatiran Keret pada anaknya adalah cerminan ketakutan alam bawah sadar yang mengendap dalam dirinya. Yakni sebagai anak dari Yahudi yang selamat dari holocaust, dipaksa meninggalkan rumah, dan kemudian tinggal di Timur Tengah yang penuh konflik. Dan seperti yang diungkapkan Keret, “Dari hari pertamamu dilahirkan di Israel, kau akan diajari bahwa apa yang terjadi di Eropa selama ratusan tahun adalah sebuah serial penganiayaan dan pembunuhan besar-besaran untuk membersihkan etnis Yahudi” (hlm.34).

Tak ayal, esai-esainya terkadang terasa sebagai monolog pergumulan batinnya. Keret sadar dirinya hanyalah pemanggul sejarah kelam yang telah ditulis oleh orang-orang Yahudi maupun para pembencinya di masa lalu. Kendati demikian, Keret bukan seorang Yahudi fanatik. Keret menolak terorisme, sebagaimana dirinya mengecam segala bentuk fasisme dan ekspresi fundamentalis. Seperti saat dirinya merasa kehilangan kakak perempuannya yang menjadi semakin religius dan menarik jarak dari dirinya.

Etgar Keret, seperti dikatakan Eka Kurniawan dalam esai pengantar, memiliki sifat rentan sama halnya siapapun. Kadang ia marah, kesal, dan membenci sesuatu. Tapi, pada akhirnya, ia bisa melihat bagian-bagian mana yang bisa ditertawakan. Misalnya dalam esai penutup, Keret mengajak Lev dan istrinya bermain pastrami –sebuah permainan konyol berpura-pura menjadi roti tangkup– untuk berlindung dari ledakan bom. Nah, lewat buku memoarnya ini Keret seperti hendak mengatakan, jika kau hidup di kawasan konflik, kau perlu memiliki selera humor yang bagus.

Profil Penulis

Muhammad Khambali
Muhammad Khambali
Menulis esai dan cerita. Pegiat di Pustaka Kaji, tinggal di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *