Membayangkan Kembali Pembaca Indonesia

source google

Ada pendapat bahwa jika kita menulis karya sastra dalam bahasa Indonesia maka sebaiknya kita menulisnya untuk pembaca Indonesia. Pendapat ini masuk akal, tetapi kita mesti memperjelas dulu apa yang dimaksud di sana dengan “pembaca Indonesia”, apakah itu mereka yang menggunakan bahasa Indonesia di kehidupan sehari-harinya, ataukah mereka yang bisa berbahasa Indonesia meski tidak (selalu) menggunakannya di kehidupan sehari-harinya, ataukah mereka yang pernah atau masih tinggal di Indonesia dan karenanya mengenal secara dekat kehidupan di Indonesia meski mereka, katakanlah, bukan orang-orang yang berbahasa Indonesia. Faktor berbahasa Indonesia agaknya lebih kuat, sebab bagaimanapun fiksi itu ditawarkan pertama kali dalam bahasa Indonesia; mereka yang tak berbahasa Indonesia akan kesulitan menikmatinya kecuali fiksi tersebut, dalam waktu yang relatif bersamaan, juga diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris—atau bahasa lain yang mereka gunakan. Maka mungkin pengertian “pembaca Indonesia” yang ketiga bisa kita coret dulu, untuk sementara. Selanjutnya yang mesti kita pertanyakan adalah apa saja memangnya yang sebaiknya kita tulis untuk pembaca Indonesia.

 

Jawabannya barangkali adalah apa pun itu yang berkaitan dengan Indonesia; tentang Indonesia. Tetapi jawaban ini pun masih perlu diperjelas. Sudah barang tentu jika kita menghadirkan realitas yang ada di Indonesia ke dalam karya sastra kita maka di situ kita berbicara tentang Indonesia; begitu juga jika kita menghadirkan orang-orang Indonesia sebagai tokoh-tokoh krusial dalam karya sastra kita—kendatipun mungkin latar tempatnya bukan di Indonesia, dan tidak selalu sebagai si tokoh utama. Sederhananya, ada sesuatu Indonesia yang kasatmata di situ; pembaca bisa melihatnya dengan jelas tanpa perlu melakukan pembacaan mendalam terlebih dahulu atau semacamnya. Tetapi bagaimana jika karya sastra yang kita tawarkan itu tidak menghadirkan keduanya? Apakah itu lantas berarti karya sastra yang kita buat itu tidak berbicara tentang Indonesia, dan karenanya tidak ditujukan untuk pembaca Indonesia?

 

Sebut saja, misalnya, cerpen-cerpen Dias Novita Wuri. Dalam kumpulan cerpennya, Makramé, kita menemukan sejumlah cerpen yang tidak menghadirkan Indonesia sebagai latar (tempat, kultur, dll.), juga tidak memilih orang-orang Indonesia sebagai tokoh-tokoh penggeraknya—“Duiven”, “Com a Luz de Dia”, “Sana Dokunmak”, “Ein Brief Fur Dich”, “2.0”, “Julliet De Julie”, “Her”, “Talo”. Praktis, secara kasatmata, ia tidak berbicara tentang Indonesia; apa yang disajikannya bukanlah sesuatu Indonesia, melainkan sesuatu lain, sesuatu bukan-Indonesia. Tetapi jelas, cerpen-cerpen tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia, dan mereka yang pertama kali menikmatinya tentulah orang-orang yang berbahasa Indonesia—para pembaca Indonesia. Apakah benar Dias tidak menulis cerpen-cerpennya itu untuk pembaca Indonesia? Apakah tepat mengatakan bahwa cerpen-cerpennya itu, sedari awal, tidak ditujukan untuk pembaca Indonesia, sebab ia tidak menawarkan apa yang kita sebut sebagai sesuatu Indonesia itu? Di sini kita kembali dihadapkan pada masalah, terutama jika kita mempertimbangkan cerpen-cerpen lain Dias di kumcernya itu yang secara kasatmata menghadirkan sesuatu Indonesia. Masalah yang sama kita hadapi saat membaca sejumlah cerpen Rio Johan dalam kumpulan cerpennya yang dinobatkan sebagai prosa terbaik majalah Tempo untuk tahun 2014, Aksara Amananunna.

 

Masalah yang sedikit berbeda kita hadapi saat membaca kumcer Budi Darma, Orang-Orang Bloomington. Bukan saja cerpen-cerpen dalam buku ini tidak menghadirkan sesuatu Indonesia, mereka pun, secara intens, menghadirkan realitas di sebuah kota di Amerika Serikat (AS)—Bloomington—dengan orang-orang AS sebagai tokoh-tokoh penggerak cerita, sehingga apabila cerpen-cerpen itu ditulis dalam bahasa Inggris maka rentan sekali kumcer ini dimasukkan ke dalam kesusastraan Amerika. Namun seperti kita ketahui, cerpen-cerpen itu ditulis Budi Darma dalam bahasa Indonesia, dan kita pun memasukkannya ke dalam kesusastraan kita. Budi Darma seorang Indonesia, dan ia menawarkan cerpen-cerpen yang mengangkat hal-hal yang ada atau terjadi bukan di Indonesia, dan kita para pembaca Indonesia menikmatinya, kemudian menerimanya, sekali lagi sebagai bagian dari kesusastraan Indonesia. Menarik sekali. Di titik ini mestilah kita mulai curiga, jangan-jangan menghadirkan sesuatu Indonesia ke dalam karya sastra yang kita tulis ternyata bukan sebuah keharusan, bukan sesuatu yang mutlak harus dilakukan. Menulis karya sastra untuk pembaca Indonesia, bisa jadi, membutuhkan pemahaman yang lebih baik.

___

 

Katakanlah seseorang menulis cerpen-cerpen dalam bahasa Indonesia, dan membukukannya. Beberapa cerpen tersebut telah terbit di media massa seperti koran Minggu, dan sejumlah pembaca Indonesia telah menikmatinya—atau setidaknya mencoba menikmatinya. Akan tetapi cerpen-cerpen tersebut, alih-alih mengangkat persoalan-persoalan yang umumnya atau mungkin terjadi di Indonesia, justru mengangkat persoalan-persoalan yang umumnya atau mungkin terjadi di Jepang, terutama dalam realitas Jepang kontemporer. Jelas, kumpulan cerpennya itu tidak menawarkan sesuatu Indonesia; terlebih lagi di cerpen-cerpennya yang sama sekali tak memunculkan tokoh orang Indonesia atau latar tempat atau kehidupan di Indonesia. Di saat yang sama, kumpulan cerpen tersebut juga lebih cocok dilemparkan ke pembaca Jepang yang mestilah merasakan konektivitas yang lebih baik terhadap persoalan-persoalan yang diangkat itu. Setidaknya itulah yang bisa kita katakan. Namun kita tentu melupakan satu hal jika mengamininya. Fakta bahwa sejumlah pembaca Indonesia telah menikmatinya (dan berhasil menikmatinya) menunjukkan bahwa ada sesuatu dari cerpen-cerpen tersebut yang dengan sendirinya, secara alamiah, membangun konektivitas dengan diri para pembaca Indonesia itu, kendati ia bukan sesuatu Indonesia. Sesuatu itu sendiri pada praktiknya tidak harus tunggal; ia bisa juga jamak. Beberapa contohnya: kemanusiaan, penderitaan, iman, bayangan akan masa depan, kecemasan menjalani hidup.

 

Di titik ini kita mestilah memahami satu hal: untuk bisa membangun konektivitas yang kuat antara sebuah cerita berbahasa Indonesia dengan pembaca Indonesia, sesuatu Indonesia ternyata hanyalah satu dari sekian banyak hal yang mungkin perlu ada. Kata mungkin harus kita cermati baik-baik, untuk memperlawankannya dengan mutlak. Itu berarti, ada atau tidaknya sesuatu Indonesia dalam sebuah cerita berbahasa Indonesia tidaklah serta-merta menentukan ada-tidaknya, juga kuat-lemahnya, konektivitas antara cerita tersebut dengan pembaca Indonesia. Ia mungkin tidak ada, tetapi ada hal-hal lainnya seperti yang disebutkan tadi, dan itu pun boleh; bahkan sangat boleh, jika konektivitas itu masihlah sangat kuat, dan berdampak positif bagi relasi antara cerita dan pembaca. Di titik ini kita pun mestilah memahami satu hal lain: ketimbang sesuatu Indonesia yang sifatnya membatasi atau terbatasi, yang benar-benar dibutuhkan untuk ada dalam sebuah cerita berbahasa Indonesia bisa jadi adalah hal-hal yang tak membatasi dan tak terbatasi.

 

Poin kedua barusan mestinya tidak sulit untuk dipahami, dan diterima. Di luar batas-batas bangsa, negara, agama, institusi, ideologi, dan hal-hal lain yang sifatnya “kasatmata”, manusia pada dasarnya memiliki keterhubungan satu sama lain yang melampaui hal-hal tersebut, yakni sebuah keterhubungan yang “tak kasatmata”. Carl Jung akan menyebut hal ini sebagai bawah-sadar kolektif; pemeluk Hindhu mungkin akan menariknya ke konsepsi bahwa atman ada di dalam diri tiap-tiap manusia, sebagaimana halnya pemeluk Buddha mungkin akan menariknya ke konsepsi bahwa di dalam diri tiap-tiap orang ada benih Buddha; Richard Dawkins, dan biologis-biologis Darwinian lainnya, mungkin akan menariknya ke keyakinan mereka bahwa semua makhluk yang ada di dunia saat ini—termasuk manusia—pada awalnya dulu berasal dari satu gen yang sama yang terus hidup bergenerasi-generasi dan terdiversifikasi sebagai respons atas seleksi alam, dan karena itu wajar saja apabila saat ini pun keterhubungan itu masih ada—meski sangat samar dan terepresi; Jared Diamond, juga mereka yang percaya pada fakta-fakta sejarah dan temuan-temuan arkeologis, mungkin akan menariknya pada sebuah pemahaman bahwa asal-usul moyang yang sama serta kemiripan pengalaman dalam menjalani kehidupan cenderung membuat manusia-manusia di belahan dunia yang satu merasakan adanya keterhubungan—bahkan kedekatan—dengan manusia-manusia di belahan dunia yang lain.

 

Misalkan cerita-cerita berlatar Jepang tadi, seberapa yakin kita bahwa realitas dan persoalan yang diangkatnya itu tidak memiliki keterhubungan dengan orang-orang di negeri ini, sehingga kita menilainya tidak relevan untuk pembaca kita, pembaca Indonesia? Jika batasan bangsa dan negara tak memungkinkan keterhubungan itu ada, maka mungkinkah batasan sejarah masa silam memungkinkan keterhubungan itu ada? Jika yang satu itu pun masih tak memungkinkan keterhubungan itu ada, maka mungkinkah persoalan-persoalan eksistensial memungkinkan keterhubungan itu ada? Pencarian semacam ini bisa terus kita lakukan sampai keterhubungan itu kita temukan. Satu hal yang harus kita ingat: yang ditawarkan sebuah cerita pada dasarnya adalah upaya-upaya sesosok manusia—atau beberapa manusia—dalam menjalani kehidupan. Dan ketika kita bicara soal manusia dan kehidupan, kita tentulah akan selalu menemukan keterhubungan itu karena kita sendiri, yang membacanya, yang mencoba menikmatinya, adalah manusia-manusia yang tengah menjalani sebuah kehidupan.

___

 

Maka jelas sudah, sesuatu Indonesia yang mesti ada di sebuah karya sastra berbahasa Indonesia, yang kita bahas di bagian awal tadi, mestilah dipahami secara lebih baik. Salah satu alternatifnya adalah melihat Indonesia di sana sebagai “Indonesia”. Alih-alih sebagai sesuatu yang kaku dan final, kita mungkin bisa melihat Indonesia sebagai sesuatu yang lentur yang mungkin berubah-ubah, dan karenanya ia adalah sebuah proses. Melihat Indonesia sebagai sebuah proses adalah menerima Indonesia sebagai sebuah bentuk yang belum rampung, yang mungkin tak akan pernah rampung; sebuah komunitas terbayang, meminjam istilah Benedict Anderson. Itu berarti Indonesia yang kita lihat muncul ke permukaan, seperti yang tampak di media-media massa setiap harinya, sesungguhnya hanyalah satu bentuk dari Indonesia, dan di balik itu, yang tak muncul ke permukaan karena satu dan lain hal, adalah bentuk-bentuk lain dari Indonesia; dengan demikian yang kita lihat dengan “mata telanjang” itu adalah “Indonesia” dan bukannya Indonesia. Alternatif lainnya, yang berkaitan erat dengan alternatif pertama ini, adalah melihat Indonesia sebagai sesuatu yang jamak, bukan tunggal.

 

Melihat Indonesia sebagai sesuatu yang jamak membawa kita pada dua implikasi. Pertama, ia menuntut kita untuk membuka diri terhadap adanya sejumlah wujud/bentuk/wajah lain dari Indonesia yang tidak dominan dan bukan bagian dari arus-utama—seperti yang telah dibahas tadi. Kedua, ia juga menuntut kita untuk memahami bahwa Indonesia sebagai sebuah struktur mestilah terbentuk dari unsur-unsur yang satu sama lain bisa sangat berbeda, bahkan bertentangan, dengan beberapa dari unsur tersebut begitu termarjinalkan dan dengan sendirinya ia menjadi liyan. Poin kedua ini sangat penting, sebab dengan turut memberi perhatian kepada unsur-unsur liyan kita lebih berpeluang untuk melihat “Indonesia” sebagai Indonesia—mendekati itu.

 

Maksud saya begini. Katakanlah kita memiliki konsep yang sifatnya umum tentang apa itu Indonesia, tentang siapa itu bangsa Indonesia, tentang seperti apa itu orang-orang Indonesia dan realitas yang dijalaninya. Konsep umum ini, seberapa terdiversifikasi pun ia, akan selalu gagal menjangkau akar terdalam, dalam arti ada orang-orang yang, secara kuat merasakan dan meyakini, tidak termasuk ke dalam apa-apa yang terjelaskan oleh konsep tersebut. Misalnya, seseorang yang secara “fisik” jelas-jelas Indonesia namun secara “psikis” lebih dekat ke Jepang atau Arab atau atau Eropa atau Tiongkok atau lainnya. Atau, seseorang yang tak bisa memungkiri bahwa ia bagian dari Indonesia namun merasakan dorongan yang kuat untuk mengubah itu—membuatnya menjadi bukan lagi bagian dari Indonesia, bahkan bukan lagi bagian dari realitas ini. Mereka itulah unsur-unsur liyan tadi. Dan mereka ada, paling tidak secara fisik, di Indonesia. Menafikan mereka berarti melihat Indonesia hanya sebagai “Indonesia”.

 

Dengan demikian menyarankan—apalagi mengharuskan—sebuah karya sastra berbahasa Indonesia menawarkan sesuatu Indonesia sesungguhnya sangat problematis, sebab itu terdengar seperti sebuah seruan untuk melihat hanya yang tampak di permukaan dan mengabaikan yang liyan; seperti sebuah ajakan untuk melihat Indonesia hanya sebagai “Indonesia” saja—dan kelenturan itu hilang. Saya kira, sebagai seseorang yang melakukan kerja sastra, seseorang memahami betul bahwa yang diupayakan oleh sastra sebagai bagian dari seni salah satunya adalah menghadirkan hal-hal liyan, setidaknya untuk sekadar mengingatkan kita bahwa apa yang tertangkap oleh mata kita di realitas ini tak pernah utuh, bahwa kehidupan ini tidak pernah linear, bahwa di balik apa-apa yang telah bisa kita ketahui selalu ada apa-apa yang belum dan mungkin tidak bisa kita ketahui.

 

Adalah hal yang sangat penting bagi seseorang yang melakukan kerja sastra untuk senantiasa menjaga kehadiran yang liyan ini di antara terbentuk dan mengalirnya arus-utama yang hanya memberi ruang bagi mereka yang dominan. Di kesusastraan kita saat ini, misalnya, yang dominan itu, yang menjadi bagian dari arus-utama itu, justru adalah menawarkan sesuatu Indonesia di dalam karya-karya sastra berbahasa Indonesia, seperti konflik berdarah ’65, persoalan intoleransi agama, tegangan antara “tradisi” dan “modernisasi”, Timur dengan “eksotisme”-nya, atau persoalan-persoalan kolektif lainnya—persoalan sebagai bangsa (struktur), bukan sesosok individu dalam sebuah bangsa (unsur). Paradoks dan lucu, sejujurnya. Seolah-olah hanya itu wajah Indonesia yang “baik” untuk dimunculkan di hadapan para pembaca Indonesia. Seakan-akan hanya itu bentuk Indonesia yang dikehendaki oleh para pembaca Indonesia. Menariknya, para pekerja sastra yang cenderung berpikir seperti ini tidak sedikit.

___

 

Eka Kurniawan bisa jadi adalah salah satunya. Jika kita membaca kuliah umumnya di Kafe BasaBasi pada awal Maret lalu, “Membayangkan Kembali (Kesusastraan) Indonesia dan Dunia”[1], kita akan sampai pada pemahaman bahwa, menurut Eka, kesadaran yang mesti dimiliki oleh para pekerja sastra kita saat ini adalah kesadaran untuk mengangkat persoalan-persoalan kita sebagai bangsa ke dalam karya-karya sastra kita, ke dalam kerja-kerja sastra kita. Eka sedikit memberi penekanan pada politik identitas. Di mata Eka, sangatlah penting untuk menghadirkan persoalan kolektif yang tengah sama-sama kita alami seperti ini di dalam karya-karya sastra kita, karena dengan itu kita memperbesar peluang karya-karya sastra itu beroleh tempat di mata para pembaca Indonesia, dan bertolak dari sini mereka kemudian bisa juga beroleh tempat di mata para pembaca “dunia”, menjadi bagian dari kesusastraan “dunia”. Yang dibayangkan Eka, dalam kuliahnya itu, memang sebuah situasi di mana mereka yang bukan pembaca Indonesia secara sukarela membaca dan menikmati karya-karya sastra kita.

 

Namun saya kira, Eka melewatkan dua hal krusial.

 

Pertama, persoalan-persoalan yang kita hadapi sebagai individu di negeri ini tidak hanya sebatas persoalan-persoalan kolektif yang mencuat ke permukaan, melainkan juga persoalan-persoalan individual yang autentik, yang bisa sangat berbeda satu sama lain dan tidak kalah nyata dan mengganggunya. Sebagaimana telah dibahas tadi, Indonesia memiliki wajah-wajah lain yang bukan bagian dari arus-utama, dan memunculkannya di dalam karya-karya sastra kita saya kira sama bolehnya dan sama pentingnya; salah satunya untuk membantu kita melihat Indonesia sebagai “Indonesia” tadi. Memunculkan persoalan-persoalan kolektif sebagai bangsa secara intensif, secara terus-menerus, justru akan membuat para pekerja sastra kita terjebak dalam arus-utama, dan sebagai konsekuensinya sangat mungkin para pembaca kita mengalami kejenuhan—jika bukan kemuakan. Memang Eka bicara juga soal pencarian estetika bentuk, di mana untuk mencapainya bentangan sejarah kesusastraan kita saat ini menjadi sesuatu yang harus kita cermati dan hadapi, namun justru di situlah semestinya Eka menyadari kekeliruannya. Pencarian akan estetika bentuk selalu sebuah upaya untuk keluar dari arus-utama; sebuah upaya untuk merespons arus-utama secara ekstrem yang mengharuskan adanya semacam kebencian atau jarak terhadap arus-utama. Puisi-puisi Afrizal Malna, cerpen-cerpen Joni Ariadinata di awal-awal kemunculannya, bagaimana mungkin karya-karya sastra tersebut menawarkan estetika bentuk yang “baru” jika Afrizal dan Joni justru berusaha menjadi bagian dari arus-utama?

 

Kedua, wujud kerja sastra seseorang bisa lebih dari satu, misalkan ia menulis cerpen juga menulis esai, sehingga menjadi pertanyaan tersendiri seberapa sadar Eka melontarkan tawaran kritisnya itu. Katakanlah seseorang tidak mengangkat persoalan kolektif bangsa ke dalam cerpen-cerpen yang ditulisnya, tetapi ia mengangkatnya ke dalam esai-esainya, dan kedua wujud kerja sastranya ini tentulah ditawarkan kepada para pembaca Indonesia. Tidakkah itu berarti persoalan itu selesai? Tidakkah itu berarti, tidak mengangkat persoalan kolektif bangsa ke dalam cerpen bukanlah sesuatu yang mesti dipermasalahkan? Atau mungkin di mata Eka, dalam apa yang dibahasnya di kuliahnya itu, wujud kerja sastra ini terbatas hanya pada cerpen, novel, dan puisi; sebab agak sulit membayangkan mereka yang bukan pembaca Indonesia secara suka rela membaca esai-esai yang ditulis oleh para penulis kita. Tetapi justru di sinilah masalahnya. Bisa-bisanya seorang pekerja sastra seperti Eka menyarankan kita untuk mereduksi wujud kerja sastra kita semata-mata agar kesusastraan kita lebih berpeluang beroleh tempat di kesusastraan “dunia”, menjadi bagian dari arus-utama. Itu sama saja dengan kita merelakan autentisitas kita lenyap. Ada memang autentisitas kolektif (sebagai bangsa), tetapi itu tentu hanyalah “autentisitas”. Lagipula, benarkah kita sebaiknya menjadi bagian dari kesusastraan dunia? Seberapa berarti bagi kita menjadi bagian dari kesusastraan dunia?

___

 

Alih-alih mencoba menjawabnya, saya, di bagian penutup ini, justru ingin mengajukan satu pertanyaan lain: untuk apa kita melakukan kerja sastra? Jika pertanyaan ini dilontarkan kepada Eka, mengacu pada kuliahnya itu, mungkin jawabannya adalah untuk menjadikan kesusastraan Indonesia bagian dari kesusastraan dunia, yang dengan itu terwujud sebuah situasi di mana mereka yang bukan pembaca Indonesia secara sukarela membaca karya-karya sastra kita sehingga mereka memiliki gambaran yang lebih baik tentang apa itu Indonesia, dan setelah itu, perlahan-lahan, karya-karya sastra kita itu akan berkontribusi terhadap perubahan-perubahan dunia ke arah yang lebih baik. Bukan sebuah jawaban yang buruk, saya kira, tetapi sayangnya bukan juga sebuah jawaban yang baik. Salah satu yang dilakukan sastra sebagai bagian dari seni, sekali lagi, adalah menghadirkan hal-hal liyan, dan itu artinya seorang yang melakukan kerja sastra harus menjaga jarak dari arus-utama bahkan membencinya—untuk tidak mengatakan menolaknya. Melakukan kerja sastra dengan berlandaskan pada hal ini, setidaknya ada dua hal yang mungkin dicapai: (1) semakin terdorongnya kita untuk menerima bahwa di kehidupan ini selalu ada mereka yang bukan-kita; (2) lahir atau terbentuknya arus-arus baru yang, jika ia cukup kuat dan beruntung, mampu menandingi bahkan mengalahkan arus-utama—sebagaimana kita pahami dari mencermati sejarah seni rupa Eropa-Amerika Serikat.

 

Itu salah satunya. Tujuan-tujuan lain orang melakukan kerja sastra, jawaban-jawaban lain yang lebih baik dari jawaban yang mungkin diberikan Eka tadi, tentu ada, dan ini sangat tergantung pada seperti apa seseorang melihat realitas ini, memaknai kehidupan ini. Pada dasarnya, saya kira, cara seseorang menyikapi kerja sastra (juga karya sastra) adalah cerminan dari cara ia menyikapi realitas yang dijalaninya; setidaknya begitulah jika ia benar-benar seorang pekerja sastra, seorang seniman. Francis Bacon, misalnya, senantiasa menjalani hidup dengan mengambil risiko layaknya seorang penjudi, dan itu tampak jelas pada lukisan-lukisannya di mana spontanitas dan pengambilan risiko begitu dominan; juga, karena ia melihat kehidupan begitu penuh dengan kekerasan, kita pun bisa melihat dan merasakan kekerasan itu di lukisan-lukisannya, seperti di wajah-wajah yang terdistorsi dan hancur atau garis-garis vertikal yang tajam dan kasar yang ikut membentuk latar.

 

Melakukan kerja sastra adalah juga sebuah upaya untuk mencoba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita tentang kehidupan yang kita jalani. Bisa juga begitu. Dan di sini, kita bicara soal diri kita sebagai Dasein, sebagai individu dan juga bagian dari sebuah struktur—bangsa, sistem, masyarakat, dll. Itu berarti, persoalan-persoalan yang kita angkat ke dalam karya-karya sastra, lewat kerja-kerja sastra kita, adalah persoalan-persoalan yang “dekat” dengan kita—tentunya sebagai Dasein. Maka jika seseorang senantiasa bertarung dengan pikiran-pikiran bunuh diri, misalnya, ia sangatlah boleh mengangkatnya ke dalam karya-karya sastranya, lewat kerja-kerja sastranya; justru itu sesuatu yang natural baginya. Dalam hal ini, ia tidak perlu khawatir karya-karya sastranya itu tidak akan dinikmati oleh banyak orang atau semacamnya; tentu ia pun tak perlu khawatir kalaupun karya-karya sastranya itu, begitu juga dirinya, tidak dianggap sebagai bagian dari kesusastraan dunia. Sebab sejatinya, apa yang tengah berusaha ia cari itu (baca: makna menjalani kehidupan ini sebagai dirinya), sungguhlah jauh lebih besar daripada masyarakat pembaca (Indonesia) atau kesusastraan dunia sekalipun.(*)

 

—Duta Pakuan, 28 Maret 2018

 

 

[1] Kurniawan, Eka. (2018). Membayangkan Kembali (Kesusastraan) Indonesia dan Dunia. Diakses terakhir kali tanggal 28 Maret 2018. http://basabasi.co/membayangkan-kembali-kesusastraan-indonesia-dan-dunia/

Profil Penulis

Ardy Kresna Crenata
Ardy Kresna Crenata
Tinggal dan bekerja di Bogor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.