Even & People

Membangun Alasan Untuk Mendukung Festival Perempuan Purwakarta

©2013 Souvik Chatterjee, Courtesy of Photoshare.

 

Beberapa waktu lalu ibuku cerita, sepasang tetangga kami yang baru saja sewa indekos bertengkar hebat. Si pria menampar dan menjambak, sedang si perempuan meraung-raung terpojok di depan pintu indekosnya sendiri. Warga berhasil melerai pertengkaran tidak imbang tersebut. Malam-malam selanjutnya tidak jarang kami mendengar si perempuan berteriak kesakitan. Tapi tidak ada yang bisa kami lakukan. Itu, sebagaimana yang kita sama tahu urusan rumah tangga orang lain.

Sejak November lampau Komunitas Pena dan Lensa Purwakarta (KOPEL) menggodok even penting, namanya Festival Perempuan Purwakarta. Beberapa acaranya adalah dialog intreraktif, gelaran kesenian, dan yang paling ‘berat’ demonstrasi atau long march.

Sejak awal digodok Festival Perempuan Purwakarta seperti kabut di dalam kepala. Bagi isi kepalaku yang aduhay dangkalnya, tidak terlihat apakah acara seperti ini perlu atau tidak. Kini sudah H-1 kabut dalam kepala belum pergi juga. Pendeknya aku belum menemukan alasan kenapa besok pagi musti turun jalan, mengacungkan poster dengan slogan-slogan khas Hari Perempuan Internasional di berbagai belahan dunia.

Jadi aku tanya sama Yayu Nurhasanah, koordinator Festival Perempuan Purwakarta, apa maksud dan tujuan long march tanggal 11 Maret nanti. Jawabnya, mempersatukan semua perempuan dari semua elemen untuk menyuarakan aspirasi mereka. Kabut di kepala masih terasa pekat.

Oke, ini bakal jadi semacam aksi turun jalan. Hal terbaik yang kuingat dari aksi-aksi seperti ini adalah: tidak ada jaminan aspirasi akan didengar, ada yang bakar-bakar ban, dan polisi huru-hara yang menembakkan gas air mata membabi buta. Setelah kuceritakan kabut ini, aku malah ditertawakan. Sebagai gantinya Yayu memberikan data-data dari Komnas Perempuan yang kukutip di bawah ini:

Berdasarkan Catatan Tahunan (CATAHU) 2017, Komnas Perempuan menemukan ada 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang terjadi. 10.205 kasus di antaranya adalah kekerasan dalam rumah tangga/relasi personal. Pola dan ranah ini konsisten tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

 

Lebih dari sepuluh ribu kasus dalam setahun!

 

Dari 10.205 kasus KDRT/RP tersebut, kekerasan terhadap istri sebanyak 57 persen. Kekerasan dalam pacaran 21 persen. Terakhir, kekerasan terhadap anak perempuan, 18 persen.

 

Itu baru yang melapor, menurutmu ada berapa jumlah korban-korban yang belum melapor?

Teringat kembali malam-malam di mana dapat kudengar jelas si teteh tadi menjerit-jerit. Itu bukan jenis jeritan yang membuatmu sebal atau tersipu malu saat mendengarnya. Itu jeritan meminta tolong. Tapi tak ada yang sanggup menolongnya, atau paling tidak mengetuk pintu memastikan semuanya baik-baik saja. Ada tembok besar yang bernama “urusan rumah tangga orang lain”. Kita tahu setinggi apa tembok itu.

Sekarang aku mendapati dua persoalan. Persoalan pertama, betapa menyebalkannya mendapati diri tidak berdaya, sedang kezaliman terjadi depan hidungku. Persoalan kedua, persoalan menyatakan sikap di depan ketimpangan-ketimpangan relasi sosial berbasis gender seperti itu.

Kabut dalam kepala mulai menyusut dan alasan-alasan mulai terbangun.

Tembok “urusan rumah tangga orang lain” itu harus diruntuhkan. Setiap jerit-jerit minta tolong harus ditanggapi serius. Tapi ada syarat untuk itu semua, yakni membangun kesadaran pada seluruh lapisan masyarakat. Bahwa setiap jerit minta tolong tidak boleh diabaikan. Apapun alasannya. Serta negara ini (betapapun bebal dan cueknya) harus menoleh dan menanggapi secara serius angka-angka di atas, kecemasan-kecemasan tadi.

Festival Perempuan Purwakarta pada akhirnya adalah salah satu medium untuk menyuarakan sikap dan keberpihakan kita terhadap ketimpangan-ketimpangan yang ada. Jauh lebih baik daripada cuma bikin caption “stop kekerasan terhadap perempuan” di Instagram atau Facebook.

Well, Minggu 11 Maret ini mari kita semua (apapun jenis kelamin dan kesibukanmu) turun jalan, bersenang-senang, bertemu teman-teman baru sambil menyuarakan bersama kegelisahan-kegelisahan kita terkait isu-isu perempuan. Suarakan bahwa para perempuan punya hak yang harus dibela bersama.

Dan jangan bikin pertanyaan yang mempermalukan dirimu sendiri seperti “untuk apa perempuan dibela”?

 

 

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *