Melihat Insiden Haringga Sirla Lewat Kacamata Sepakbola Hari Ini

Salah satu agama baru yang sudah—bisa dikatakan—sangat diterima adalah sepak bola. Dengan klaim-deklarasi yang lebih halus dari agama-agama baru lain yang sampai saat ini masih mendapat perlakuan alienisasi, sub-olahraga terpopuler tersebut berhasil sukses memaksa kita untuk ‘beriman’ kepadanya.

Perlu dan sangat perlu diakui bahwasanya, sepak bola sudah seperti agama. Pegiatnya banyak, simpatisannya pun penuh apabila ada pengajian dari pendakwah yang bentuknya khas layar tancep.

Padahal, tidak ada klaim lantang soal siapa Tuhan yang dirujuk, nabi yang diutus, ataupun kitab ideal yang harus disakralkan. Kadar keimanan dalam agama baru ini tidak sekompleks yang lain, bahkan bila dibandingkan dengan agama-agama langit sekalipun.

Mejadi penganutnya pun kita tidak perlu mengikuti prosesi-birokrasi keagamaan. Tak perlu banyak ini-itu, penganutnya hanya perlu memenuhi syarat awal: SUKA BOLA. Ya, menjadi fans sepakbola seyogyanya mudah, semudah teriak-teriak “goal!” di depan tipi buat nandingin suara azan subuh. Asyik…

Sebelum menjadi instrumen yang mengalihkan kita dari keimanan religious sebenarnya, sepak bola hanyalah permainan. Awalnya. Kemudian, segalanya bertransformasi setelah kesederhanaannya berhasil dipermak sedemikian rupa oleh mekanisme industri yang mengkapitalisasi semua sisi—humanis-sosialisnya—sampai detik ini.

Tidak heran, tragedi yang belum lama ini menimpa Haringga, salah seorang yang diketahui sebagai supporter “fanatik” Persija tewas. Beliau—sebagai penghormatan—tewas di tangan sekelompok oknum yang notabene adalah saudara-saudara seimannya yang lain. Hanya karena persoalan SEKTE, nyawa Haringga terenggut.

Melihat sepak bola hari ini memang sangatlah tidak sesederhana peraturannya. Bisa dikatakan, sepak bola berubah menjadi sebuah pengetahuan umum yang menjelma sebagai ‘agama terbesar’ di muka bumi. Dibandingkan dengan bidang olahraga lain nih, sepak bola kelasnya sudah jauh di atas.

Fanbase-fanatisme paling bombastis sepak bola adalah kebanggaan, sekaligus masalah. Memang, apapun yang berlebihan cenderung menampilkan sesuatu yang melebihi batas dan melupakan proporsi. Sepak bola yang dulunya ‘cuma’ permainan bahagia, berubah wujud setelah ramai-ramai dilombakan di berbagai belahan tempat.

Banyak efek revolusioner yang sedikit demi sedikit telah berhasil mengundang dan memperpanjang baris iring-iringan. Identitas sepak bola yang dahulunya identik dengan kaum laki-laki, kini bisa berubah.

Sepak bola yang tidak lagi patriarkis; merupakan contoh kongkret. Kini, dua jenis gender yang punya pengakuan global—perempuan dan laki-laki—berhak ikut dalam apapun yang berkorelasi dengan sepak bola.

Tapi, kalaupun sepak bola di pandang dari basis atau sebagai agama besar pun dibayang-bayangi persoalan baru. Persoalan sampai saat ini masih menjadi bayang-bayang agama. Para penganut agama.

Penganut agama cenderung melihat agama yang mereka anut, yang mereka percaya adalah kebenaran yang paling fundamental. Perdebatan soal varietas kepercayaan ideologi versi mereka. Bahkan, konflik di seputaran pola tersebut seringkali terjadi di masa lalu pun sampai saat ini.

Dari situ, pola tersebut dipraktikan juga dalam koridor kepentingan sepak bola. Walapun tidak secara perbedaan agama, sepak bola lebih memperlihatkan sebuah perdebatan antar sekte sepak bola yang tiada henti. Penggemar sepak bola memiliki premis-premis mereka sendiri.

Tanpa kita sadari, sepak bola yang semakin menggeliat dengan popularitasnya di seantero semesta telah menampilkan sebuah paradoks apabila disama-samakan ke arah  orientasi penganut agama. Saya sendiri merasa bahwa saya memiliki dualisme keimanan: antara penggemar sepak bola dan penganut agama.

Kepopuleran sepak bola seakan berubah wujud menjadi anomali dari masa awal eksistensinya sepak bola itu sendiri. Alih-alih merasa hebat, kita sepatutnya khawatir. Jangan sampai dicap ‘menyekutukan’ hanya karena kepentingan fanatisme industri sepak bola.

Insiden yang menimpa Haringga Sirla bisa saja kita katakan—meski agak spekulatif—merupakan suatu bentuk teror baru. Teror di ranah sepak bola. Masa iya, sepak bola jadi kelewat batas berekspansi sampai-sampai mengoleksi –isme baru? Apa iya, masih belum cukup?

Padahal, kita sudah lumayan dibikin pusing sama definisi dari terorisme itu sendiri yang masih terkotak-kotak, macam-macam, dan simpang siur. Belum lagi soal sentimen tentang adanya standar ganda dan teori konspirasi yang bikin mumet. Aduh, mak…

Jangan sampai deh, insiden seperti itu sering terjadi, apalagi sampai menganggap tindak pengeroyokan diklaim sebagai langkah jihad. Bukannya sepak bola punya diksi agung yang disebut: “sportif”, hmm? Oh, kemon, men!

 

 

Profil Penulis

Harry Azhari
Harry Azhari
Seorang Mahasiswa bergolongan darah AB yang garis tangannya berpola ABSTRAK
minimalis kontemporer.