Melihat Cadar Dari Mata Anak Tak Bercadar

Ada yang aneh dengan cadar dan perempuan di baliknya saat aku memperhatikannya di waktu duha, kalau tidak di waktu zuhur, atau di waktu asar, pokoknya pada waktu-waktu di mana pecahnya bungkusan ketuban pertama di rahim ibuku sudah lewat lebih dari tahun ke-9nya. Setelah merasa aneh, tak banyak lagi aku pikirkan tentang itu karena aku mulai sibuk dengan boneka Dora dan Buts hingga ujian-ujian sekolah sampai aku lupa akan perasaan aneh itu. Namun ingatan itu kembali hadir ketika aku harus bermain ke rumah temannya temanku yang menggunakan cadar.

Aku bermain di dalam kamar mereka. Pas dibuka cadarnya, main di kamarnya, ngobrol bersama, memperhatikan apa yang digunakannya, bagaimana kegiatannya, bagaimana cara bicaranya, ternyata dia berwujud sama aja dengan perempuan seperti aku, seperti kamu, seperti yang lain. Dengan tawanya, obrolannya, ceritanya, tak banyak berbeda kecuali pengalaman dan hal-hal yang membuat seorang individu berbeda dari individu lainnya. Sama seperti kita. Begitu saja, sudah tidak seaneh dulu kala melihat cadar. Kemudian aku pulang dari menginap dan kembali ke kegiatan sehari-hariku.

Kegiatan scroll Timeline dan story Instagram. Wow! Betapa banyak orang bercadar sekarang di foto-foto Instagram. Bukan seperti yang waktu kecil aku lihat, sekarang yang bercadar lebih berwarna dan bergaya. Membuatku senang lihat foto-fotonya. “sudah familiar ya cadar sekarang” pikirku. Sampai pada kuliahku memulai semester barunya, di kampusku bertambah teman-teman yang mulai bercadar juga dari yang sebelumnya belum ada yang bercadar dan akhirnya aku benar-benar merasa familiar dengar cadar karena teman sekelasku sendiri yang mulai bercadar dan aku udah kenal dia sebelumnya.  Bedanya buatku, ya dia ganti style baju aja, udah gak aneh lagi. Akupun jadi ingat pertanyaan temanku tentang cadar saat kegiatan mentoring di Tutorial (re: mata kuliah keagamaan dengan sistem tutor dengan 2 semester di kampus),

“Teh, kan yang kita tau, yang wajibnya aurat perempuan itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan ya, terus kenapa ada orang yang bercadar?” tanyanya. Kemudian teteh mentor tutorialku menjawab, “cadar itu mungkin dimaksudkan untuk lebih menjaga dari hal-hal buruk yang bisa aja terjadi. Kadang beberapa orang yang berkerudung pun masih merasa belum aman, makanya mereka bercadar” jawabnya.

Jawaban itu menautkan ingatanku pada pertemuan dengan seorang teteh bhayangkari di Walahar Express, dan ia bercadar. Suatu hal berkesan karena menemukan istri seorang polisi yang bercadar di sisi istri polisi lain yang banyak memasukkan kerudungnya ke dalam baju agak ketat. Singkat cerita aku dan teteh itu banyak bercerita, dari kisah cintanya dengan suaminya yang alumni Gontor dan jadi polisi, cerita kehamilannya, cerita rumah tangganya yang membuatku baper sajajalaneun, ceritanya yang mualaf, hingga menyentuh pembahasan tentang cadar.

Jadi suaminya tugas di Purwakarta, teteh itu di Jakarta bekerja pada kementrian keuangan negara,dan teteh itu merasa akan lebih aman kalau dia menggunakan cadar selama jauh dari suaminya. Membuat teteh itu tidak diganggu dan menjaganya dari kejahatan. Motif itu kutangkap mirip seperti kisah yang dijadikan Asbabun Nuzul Al-Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 59 tentang hijab. Di mana dalam Ibrahim Zahier Blog, dalam ayat ini maksud Allah SWT memerintahkan Rasulullah SAW agar memerintahkan wanita mukmin mengulurkan jilbabnya bertujuan untuk membedakan antara para wanita jahiliyah dan para budak wanita.

Kemudian As Sudi Rahimahullah mengatakan, bahwa “dahulu orang-orang fasik di Madinah biasa keluar di waktu malam ketika malam begitu gelap di jalan-jalan Madinah. Mereka ingin menghadang para wanita. Dahulu orang-orang miskin dari penduduk Madinah mengalami kesusahan. Jika malam tiba para wanita (yang susah tadi) keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi hajat mereka. Para orang fasik sangat ingin menggoda para wanita tadi. Ketika mereka melihat para wanita yang mengenakan jilbab, mereka katakan ’Ini adalah wanita merdeka. Jangan sampai mengganggunya’ namun ketika mereka melihat para wanita tidak berjilbab, mereka katakan, ‘ini adalah budak wanita. Mari kita menghadangnya’ ”Agak mirip sih sama di daerah Negriku.

Gak dikit juga cowo di Negeri antah barantah, di jalan-jalannya banyak laki-laki enggak ada kerjaan yang nongkrong (istilahnya gabut) ngumpul sama temen-temen sering isengin perempuan yang lewat. Sekarang yang kerudung panjang pun diisengin. Paling kalo kerudung panjang dan becadar dicandainya ‘Assalamualaikum teh..’ haha lebih enak sih dengernya. Beda kalo yang lewat teteh-teteh tukang ‘lepeut’, biasanya disiul-siul.

Setelah ia mengungkapkan alasannya bercadar, ia balas bertanya padaku, ‘Mengapa aku tak bercadar’ kurang lebih waktu itu aku menjawab, “sempet sih pengen pakai cadar, aku punya kerudung yang ada cadarnya dan pernah aku pake. Tapi keluargaku kurang mendukung dan lagipula aku ngerasa masih aman-aman aja buatku meskipun engga pake cadar teh. Jadi aku coba menutup aurat yang wajib dulu aja” Padahal pertanyaan itu melayangkan juga pikiranku kepada ingatan tentang, pakaian itu teh kan tidak boleh mencolok di mata oranglain, nah kadang kalo pake cadar orang-orang malah makin liatin gitu. Jadi malah diperhatikan hehe. Terus kan udah ada cadar yang berwarna-warna. Mungkin ya niat baiknya menyesuaikan dengan keadaan sekitar tapi aku gak tau apa yang benar-benar sudah sesuai syariatnya atau belum. Hmm, akusih pikir begitu saat itu.

At last, nyatanya kita punya alasan masing-masing tentang pilihan menggunakan pakaian yang insyaalah tetap dalam syariatnya. Aku sudah mulai mengenali orang-orang yang memilih cadar lebih baik dari pandangan keanehan dulu, Tapi ada nih yang aku masih bingungin soal cadar adalah tentang bagaimana cadar membuat alis lebih tebal dari biasanya, eyeliner lebih hitam dari biasanya, bulu mata lebih panjang dan hitam dari biasanya. Padahal cadar itu disepakati ulama hukumnya tidak wajib. Sedang dalam Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 33, Allah mengatakan “hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu” jadi mana yang jelas dibolehkan dan jelas dilarang buatku malah menjadi semu ketika melihat orang-orang bercadar yang berhias berlebihan.

Lalu tentang cadar yang diharapkan sebagai bentuk merasa lebih aman malah jadi lebih sering diamankan karena alasan terorisme. Dianggap tidak aman lalu digeledah, membuatku melihat keadaan Negeri tempat tinggalku ini belum bisa percaya dan menerima keberadaan cadar, padahal dalam Wikipedia menurut hasil sensus tahun 2010, 87,18% dari 237.641.326 penduduk Negeriku adalah pemeluk Islam yang semestinya dukungan dan kepercayaan terhadap Islam, agamanya sendiri lebih besar porsinya dong daripada kecurigaannya.

Jadi apakah di sini cadar akan tetap tumbuh dengan subur di atas tanah yang berakar pada syariat-syariat agama Islam yang benar dan hukum di Negeri Ini, atau tumbuh di atas kebanyakan orang tanpa keimanan dan keamanan?

Profil Penulis

Sinta Gisthi Ardhiani
Sinta Gisthi Ardhiani
Aktif di Forun Taman Baca Masyarakat Purwakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.