Media Sosial dan Netizen Kita yang Sakit

Dunia berjalan, seakan telah melampaui perkiraannya sendiri. Hari ini hampir semua aktivitas manusia tidak lepas dari teknologi. Orang-orang semakin tanggap dan kritis terhadap isu-isu terbaru. Dan tidak dipungkiri media sosial mengambil posisi dan peran itu. Orang-orang dengan mudah dapat mengekspresikan segala bentuk pemikiran, ide, gagasan, termasuk keisengan serta hal-hal yang bersifat eksistensialis dengan mudah. Bahkan sangat mudah. Manusia menjadi semakin aktual dan semesta agaknya menyepakati.

 

Kalau dahulu sewaktu sekolah menengah kita diajari tentang tingkatan kebutuhan manusia yang meliputi kebutuhan primer, sekuder, lalu tersier. Mungkin kita bisa katakan saat ini media sosial menempati posisi supra-primer. Di atas segala yang primer. Wow.

 

Diakui, memang harus diakui. Demi membiayai jatah bermedia sosial kadang kita rela mengalihfungsikan biaya sehari-hari, mengutil jatah makan, menilap anggaran bayar kos, atau yang lebih ekstrem menggelapkan dana servis motor sekaligus ganti oli. Ya, gusti.

 

Padahal data pengguna media sosial mayoritas adalah kalangan muda, yang sebagian besar tentu dalam fase pengembaraan menemukan jati diri –sebagai pengungkapan versi halus golongan nir-penghasilan, alias pengangguran, alias kere. Gusti pindo.

 

Cukup mengesankan dengan adanya kenyataan bahwa dorongan untuk menyertakan diri sebagai bagain dari arus informasi publik itu berbanding terbalik dengan kemampuan menebus harga yang mesti dipenuhi. Apalagi belum termasuk untuk biaya properti pendamping. Apa iya enak, main Twitter, buka Facebook, nonton Youtube tanpa dibarengi ngopi dan rokokan. Rasanya agak ganjil.

 

Setelah pengorbanan di atas lalu imbas apa yang diperoleh dari maraton bermedia sosial? Tentu saya tidak serta merta menyebutkan bahwa semua pengguna media sosial sesuai dengan uraian di atas, tidak sama sekali. Saya tidak berusaha mengeneralisasi apalagi mendiskreditkan orang-orang tertentu. Urain di atas hanya satu dari sekian alasan pengguna media sosial. Sebab saya percaya masih banyak alasan seseorang menggunakan media sosial yang pastinya pula memiliki maksud baik dan bernilai kebermanfaatan.

 

Mari kita menyebut satu kata yang akhir-akhir ini sedang naik daun, yakni netizen. Setiap kelompok penggiat hal tertentu pastinya memiliki sebutan-sebutan sebagai penanda atas keberadaan mereka. Kelompok pendukung Persebaya akan menyebut diri mereka Bonek, fans militan Atta Halilintar dengar-dengar mengenalkan diri mereka dengan nama Ateam.

 

Begitu pula dengan istilah netizen, sebutan bagi pengguna media sosial. Khususnya mereka pengguna media sosial yang aktif dan progresif. Lebih khusus adalah mereka yang paling aktual dan cenderung reaksioner terhadap isu-isu terbaru, meski tidak sedikit yang impulsif. Dan paling khusus lagi mereka yang dikaruniai kemampuan, kemauan, dan tentunya waktu yang memungkinkan mereka mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mempertahankan diri di kancah dunia maya.

 

Satu hal yang menarik yaitu keberadaan netizen kemudian menciptakan sebuah kesadaran baru bahwa mereka sesungguhnya memiliki alasan kuat yang semestinya membawa mereka pada keadaan setara. Memosisikan diri sebagai oposisi akan sikap, pikiran, dan kebijakan yang berpotensi bertolak belakang dengan nilai-nilai normatif masyarakat mainsteam. Pada satu poin perlu disepakati bahwa ada kesamaan semangat di sana. Yang semestinya dapat menyatukan mereka kemudian menjadi semacam kekuatan untuk berdaulat.

 

Benar. Kesadaran itu secara natural telah tumbuh dan terbentuk, bahkan sebelum pemikiran soal itu muncul. Namun sayangnya dengan bermacam fenomena dan isu yang muncul ke permukaan ditambah lagi dengan maraknya berita-berita hoaks secara tidak langsung mendorong istilah netizen mengalami degradasi makna. Diksursus-diskursus publik saat ini seakan menyudutkan posisi netizen sebagai biang kerok, kumpulan orang kurang kerjaaan, tukang nyinyir, dan tentunya mayoritas dari mereka adalah kere. Oh.

 

Saya bisa melihat sendiri, bagaimana golongan netizen tertentu yang turut membantu penyebaran berita bohong. Informasi yang dipotong-potong, lalu dambil bagian paling sensitif, belum lagi kalau digabung dengan konten-konten provokatif. Mereka-mereka adalah individu yang sakit, yang telah merasa benar dengan nilai-nilai yang mereka pegang. Sayangnya sikap ini cenderung bersifat kaku, konservatisme terhadap paham telah membuat orang-orang ini menutup mata dan telinga. Argumen apa pun selama bagi mereka tidak sesuai dan berseberangan adalah salah.

 

Ini yang ingin saya sebut sebagai penyakit. Dan tidak menutup kemungkinan, ia adalah jenis penyakit yang menular. Kasus kegagalan memahami sebuah informasi cenderung menghampiri orang-orang yang datang dengan keimanan terhadap nilai secara radikal. Keadaan ini secara tidak langsung menuntut jawaban yang mereka temui mesti sesuai dengan apa yang diharapkan. Sejak awal, orang-orang ini menemui fenomena sudah dengan membawa kesimpulannya masing-masing.

 

Maka dengan kenyataan demografi netizen hari ini, kita bisa memilih antara menyembuhkan mereka yang sakit atau memperbanyak orang-orang yang sehat.

 

 

 

 

 

 

 

Profil Penulis

Yulianto Adi Nugroho
Yulianto Adi Nugroho
Lahir di Blora, Jawa Tengah pada 1997. Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Bergiat aktif di komunitas sastra KRS (Komunitas Rabo Sore) Surabaya dan jurnalis di pers mahasiswa Gema, Unesa. Karya puisi dan cerpen dimuat di Suara Merdeka, Solopos, Denpost Bali, Koran Merapi, Radar Surabaya, Radar Mojokerto, Magelang Ekspres, Radar Bojonegoro, Simabala.com, Kibul.in, Apajake.id.