Mati Ketawa ala Chairil Anwar, Iwan Fals, Gus Dur, dan Lainnya

source google

Chairil Anwar adalah seorang penyair legendaris yang banyak dikenal melalui puisi-puisinya. Dia juga dikenal dengan sebutan “binatang jalang” yang tersirat dalam puisinya yang berjudul ‘Aku’.

Tapi Mas Chairil sebenarnya adalah seorang yang humoris. Berikut ulasan saya pada puisinya yang berjudul ‘Aku’. Di dalam ‘Aku’ dia sebenarnya sedang bercanda dengan maut. Dalam bait pertama yang bertuliskan: Kalau sampai waktuku / ‘Ku tak mau seorang, ‘kan merayu / Tidak juga kau, Chairil membicarakan perihal ajal dan kematian, namun dengan sedikit candaan dan guyonan dalam bentuk gombalan-gombalan.

Maut yang Chairil isyaratkan dengan “sampai waktuku” kemudian diidentikkan dengan semacam gangguan-gangguan dan cobaan. Dalam hal ini, Chairil memilih untuk menyebut godaan-godaan itu dengan hal-hal asmara yang diisyaratkan dengan dua bait setelahnya. Seolah Chairil seperti berpendapat bahwa godaan paling berat manusia adalah nafsu yang diisyaratkannya dengan topik asmara dan wanita.

Dalam kesan saya pribadi, keseriusan tema dalam puisi ‘Aku’ beralur sedikit alay. Namun karena si penulis adalah Chairil Anwar yang sudah mendapat profiling positif dan mendapat posisi tinggi dalam catatan sejarah, puisi itu kemudian melegenda dan banyak dikutip khalayak umum. Barangkali kalau bukan Chairil yang menulis puisi itu, maka akan banyak yang menertawakan dan mengolok-ngolok sebab kegombalan yang cenderung apa adanya.

Begitulah pembacaan saya terhadap selera humor Chairil melalui salah satu puisinya.

Tokoh ke dua, yaitu Iwan Fals. Sosok yang lebih dikenal dengan karya-karya lagunya yang monumental, banyak menyinggung kebijakan politik dan isu-isu sosial tertentu. Bang Iwan banyak digemari kawula muda. Dengan segenap gelora semangat perlawanannya, Bang Iwan juga kerap dijadikan sebagai icon kebebasan. Sampai-sampai perkumpulan fansnya dikenal dengan nama OI (orang Indonesia), nama yang luar biasa nasionalis.

Hampir sama dengan Mas Chairil, Bang Iwan juga masih saja menyempatkan diri untuk bercanda dalam topik “serius”. Beberapa lagu Bang Iwan sering kali menyinggung dan menyenggol kebijakan-kebijakan pemerintah, utamanya yang menimbulkan ketimpangan. Lagu berjudul ‘Pesawat Tempurku’ berceloteh tentang keberadaan tentara yang menurutnya menimbulkan peperangan dan perseteruan.

Dia menulis: Oh ya andai kata dunia tak punya tentara/ Tentu tak ada perang yang makan banyak biaya. Namun anehnya, keseriusan topik lagu yang dalam hal ini terindikasikan oleh kata tentara dan peperangan kemudian Iwan plesetkan dengan hal-hal yang lagi-lagi identik dengan asmara. Hampir mirip Mas Chairil pada ulasan di awal.

Sejenak, judul lagunya terkesan wah dan menyeramkan. Akan tetapi setelah mendengar beberapa bait awal, Bang Iwan malah berceloteh tentang gombalan dan godaannya terhadap sesosok wanita. Ditunjukkan dengan bait: Waktu kau lewat aku sedang mainkan gitar/ Sebuah lagu yang kunyanyikan tentang dirimu. Jika diinterpretasikan dan diterawang tentang sosok gadis pada lagu tersebut, kelihatannya sedikit seram dan super cuek. Bang Iwan dalam lagu itu menyebutkan “sebuah lagu tentang dirimu” yang kemudian diberi judul ‘Pesawat Tempur’. Seolah dia menggambarkan pribadi sosok perempuan itu seperti pesawat tempur. Kencang terbangnya dan tak kenal apa-apa. Ditambah lagi bait-bait yang menyinggung para angkatan bersenjata.

Bang Iwan seolah berkontemplasi kemudian menyimpulkaan bahwa sumber segala pergolakan di bumi adalah tentara. Entah itu tentara dalam makna asli atau majazi yang bisa ditafsirkan sebagai kekuatan dan emosi. Masing-masing manusia mempunyai kekuatan sehingga jika salah satu kekuatan manusia menyinggung atau mencolek kekuatan manusia lainnya, maka akan timbul percikan-percikan amarah yang akan berujung sebuah pertikaian bahkan dalam skala besar menjadi sebuah peperangan.

Kedua sosok tadi sama-sama memiliki sense of humor, bergombal dan juga mempunyai potensi untuk berfilsafat pula berkontemplasi.

Sekarang mari kita melanjutkan sowan pemikiran ini kepada tokoh berikutnya.

Tokoh ini memang tidak identik dengan gombalan layaknya Mas Chairil dan Bang Iwan. Namanya Abdurraman Wahid, kerap disapa dengan panggilan Gus Dur. Satu sisi kesamaan yang kemudian dapat diambil dari ke tiga tokoh ini, yaitu sense of humor.

Banyak ungkapan-ungkapan Gus Dur yang dijadikan plesetan banyak orang. Apalagi “gitu aja kok repot” yang kerap diulang-ulang. Tindakannya yang bisa dibilang agak nyeleneh dan di luar dugaan khalayak umum menjadikan Gus Dur dikenal dengan selera humornya. Bahkan banyak buku yang mendokumentassikannya.

Dalam beberapa hal memang pemikirannya menimbulkan kontroversial. Namun terlepas dari itu, dilihat dari kharismanya saja sebagai tokoh yang dipuja-puji orang, kita dapat mengambil pelajaran bahwa untuk dapat menyelesaikan sesuatu yang pelik terkadang juga membutuhkan guyonan dan gelak tawa. Bahkan pada satu peristiwa, Nabi pun turut bercanda ketika ditanya seorang perempuan tua perihal adakah orang yang mirip dirinya di Surga. Nabi pun menjawab tidak ada. Kemudian nenek tua itu terlihat bersedih. Lantas Nabi mengatakan maksud perkatannya bahwa kelak di Surga semua orang umurnya akan disamakan, bahkan yang dulunya di dunia sudah tua mereka juga akan dihidupkan dalam raga yang lebih muda kelak. Lebih segar dan bugar pastinya.

Dalam keseriusan macam dunia akhirat tadi, nabi masih saja bisa melontarkan guyonan dan candaan. Lantas akankah kita sebagai yang mengaku pengikutnya kemudian berlagak sok seirus terus? Dikit-dikit ngotot, dikit-dikit emosi. Sudahlah, hadapi dengan tenang jiwa kata Ahmad Dani.

Tapi ingat, jangan berlebihan. Hidup tidak sebercanda itu kata Mbah Tejo.

Profil Penulis

Ozik Ole-olang
Ozik Ole-olang
Lahir di Lamongan, 21 Desember 1998. Penulis adalah mahasiswa rantau asal Madura. Kerap menulis di sejumlah web. Sekarang sedang mukim di kota Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.