Martin “Heidenger” dan Jurus Mabuk Membaca Jakarta

Anda perlu bersalaman dengan Tuhan, mengajaknya berdiskusi tentang Kota Jakarta dan pulang dengan kesadaran outsourching welas asih. Salam pocong!

–Martin Suryajaya, Kiat Sukses Hancur Lebur.

“Ada 20 persen warga Jakarta yang mengalami gangguan jiwa. Jadi di sini, di antara teman-teman kita, (misalnya) ada 10 orang, ada dua yang jiwanya terganggu, mungkin saya salah satunya,” kata Wakil Gubernur Jakarta, Sandiaga Uno.

Data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DKI Jakarta menyebutkan bahwa jumlah penduduk Jakarta adalah 10 juta. Itu artinya, ada sekitar 2 juta orang di Jakarta yang mengalami gangguan jiwa. Mari kita doakan semoga para pemegang kebijakan di sana bertindak tepat. Seperti yang kita tahu, kebijakan (jika memang jadi) melatih pembecak agar bisa lebih bagus mengayuh becaknya itu sangat aneh.

Sekarang mari kita coba membaca jawaban dari pertanyaan tersebut melalui sudut pandang Anton Labil S. Fil, tokoh rekaan Matin Suryajaya dalam “Kiat Sukses Hancur Lebur”.

Barangkali di Indonesia tidak ada yang mampu menulis novel di tengah gelombang mabuk seperti Anto Labil S.Fil, tokoh rekaan Martin Suryajaya. Aku pernah membaca informasi soal menulis sambil mabuk ini dan kebanyakan mengaku bahwa mabuk tidak akan membuatmu menghasilkan sesuatu yang bagus. Kecuali kalau kau adalah Anto Labil S.Fil tadi atau Arthur Harahap atau Seto atau Sukab atau Kambing Gunung yang menulis dalam bahasa Indonesia, di masa-masa para penulisnya suka membikin cerita yang begini dan begitu, dan selalu mengira setiap tulisan yang terlahir dari pikirannya yang narsis nan-suci telah membuat Indonesia ini jauh lebih layak huni tinimbang beberapa dekade yang lampau di saat sebutan “pribumi” masih relevan dalam perbincangan-perbincangan yang cerdas.

Kau pernah duduk dengan kombinasi orang yang (mengaku) suka membaca, kerap pamer gaya bicara, dan pertama kali mabuk baks? Percayalah tiga kombinasi itu jauh lebih buruk daripada mengikuti snapgrap mantanmu yang hari demi hari seperti tidak lelah-lelahnya berbahagia dengan orang yang bukan dirimu.

Tapi melihat Jakarta ini dan memperbincangkannya–oh ya, jika kali ini kau mulai percaya bahwa diam itu emas atau kau alumnus fakultas syariah dengan skripsi yang itu-itu saja maka tinggalkan tulisan ini sekarang. Aku sedang malas bicara dengan lampu teplok!

Oh ya, sampai mana kita tadi? Jika menurutmu Jakarta adalah salah satu dari sepuluh tema perbincangan menarik pada pertemuan pertama, maka kau hanya akan menemui berbagai jenis kebuntuan dan kerujitan atau minimal kalimat-kalimat panjang penuh kecerobohan, galat logika, dan hadits dhoif.

Sebagai contoh, bagaimana soal pemilu bisa bergeser jauh jadi urusan aqidah, iman-kufr, mayoritas-minoritas, pribumi-asing, dan lain-lain. Itu semua hal yang awalnya serius jadi ya ampun lucunya. JIka kamu mabuk, ada kemungkinan kamu akan tertawa untuk hal-hal yang biasa.

Tanpa mabuk kau akan kesulitan menentukan sikap dalam pembicaran yang maha pelik seperti itu. Jauh lebih sulit daripada memutuskan apa yang akan kau katakan waktu melihat pacarmu pagi-pagi buta keluar dari hotel melati dengan laki-laki mirip seekor penyu.

Dengan kepekaan sekaligus kecerdasan seorang filsuf, Martin mengulas semua teori soal definisi pecel lele, secara tradisonal maupun modern. Kemudian dia menyimpulkannya dengan sangat baik:

…baik definisi tradisional atau definisi modern soal pecel lele sama sekali tidak berguna untuk memahami fenomena pecel lele (yang aku alih-istilahkan dengan semaunya sebagai pecelleism). Keduanya, katanya lagi. Sama-sama mubazir.

Mubazir, saudara-saudaraku adalah melibatkan diri dalam pembicaraan persoalan Jakarta, mengingat kau tinggal delapan hari berkuda jauhnya dari Jakarta; kota dengan wakil bupati yang lincah memulas bibir dengan lipbalm. Atau gubernur yang seorang intelek dan dengan aduhay-nya memainkan term “pribumi” di masa kampanye.

Pada akhirnya, simpulku mengikuti yang Martin Heidanger Suryalaya bilang: “Mau lele atau ayam atau tempe  atau soto, semuanya sama saja: meledak di jamban.”

Dan persoalan memandang Kota Jakarta ini (atau kota-kota lainnya berikut Pilkadanya), terserah dari mana pun titik tolak ideologismu, hanya akan menguap di suatu momen, di suatu tempat, entah kapan dan di mana. Barangkali di dalam sembahyangmu, puisi-puisi sedih dan jelek yang kaubagi di fesbuk, artikel-artikel genitmu, dan lain-lain. Dan begitu semuanya menguap, ada baiknya kau mulai menyesali hal-hal bodoh seperti menghina pilihan politik, menyerang aliran agama, atau merendahkan pandangan terhadap isu-isu gender orang lain. Meski penyesalan akan hal-hal bodoh di masa lalu hanya dimiliki para tawwabin yang bersih hatinya, lagi waras jiwanya.

Intinya, tanpa mabuk, sepertinya melihat Jakarta (atau kota dan peristiwa-peristiwa ganjil lainnya) dengan nyawa sendiri adalah mustahil. Atau sebaliknya, melihat Jakarta dan tidak mabuk karenanya benar-benar mustahil.

Bagaimana dengan 80% warga Jakarta?

Wallahua’alam bisshowab. Hehe~

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad Farid
Muda dan tak berdaya. Pustakawan di @pustakaki dan aktif di @gusdurianpwk

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.