Esai

Manusia dan Kematian

source deviantart

Bahkan ketika ia masih sangat muda, Mieko Kawakami sudah merasa begitu dekat dengan kematian. Bukan berarti ia sering sakit-sakitan atau beberapa kali hampir mengalami kecelakaan atau beberapa orang terdekatnya meninggal dunia. Bukan. Bukan yang seperti itu yang dimaksud di sana. Kawakami merasa begitu dekat dengan kematian dalam arti ia kerap memikirkannya seakan-akan kematian itu adalah bayang-bayangnya sendiri—mengikutinya sepanjang waktu. Ia, misalnya, di sebuah perayaan ulang tahun seseorang, bertanya-tanya mengapa seseorang itu gembira padahal menurutnya seseorang itu tengah menjemput kematiannya sendiri.

 

Ketika itu Kawakami masih seorang anak SD; seorang anak perempuan yang suka bicara alias oshaberi. Saat sedang bermain di luar dengan teman-temannya, dan pada satu titik ia mengamati telapak tangannya sendiri, tiba-tiba ia membayangkan suatu saat nanti kedua tangannya itu akan dibakar, hangus, menjadi abu; dan itu membuatnya takut. Kala lain usai bermain boneka dan tengah memasukkannya kembali ke dalam kotak mainan, ia berpikir, ialah si boneka itu; ialah yang pada akhirnya dimasukkan kembali ke dalam sebuah kotak dan seseorang yang telah memainkannya itu menutup kotak tersebut dan meninggalkannya di sana, membiarkannya berada di dalam kegelapan dan kesunyian untuk sekian lama. Bayangan ini pun, lagi-lagi, membuatnya takut.

 

Kawakami pun kerap bertanya-tanya kenapa ia dilahirkan ke dunia ini padahal ia tidak pernah memintanya. Suatu ketika ia melontarkan pertanyaan ini kepada ibunya, dan ibunya, barangkali khawatir anak perempuannya terlampau kuat memikirkan yang gelap-gelap dan akhirnya terseret ke dalam kegelapan, menyuruhnya berlari. Ibunya konon selalu menyuruhnya berlari setiap kali ia mulai mengatakan sesuatu yang muram-gelap.

 

Dari sejumlah reaksi orang-orang di sekitarnya—terutama orang-orang dewasa—terhadap perkataan-pernyataannya yang gelap-muram itu, Kawakami memahami bahwa ia sebaiknya tidak mengemukakan kegelisahannya, apa-apa yang berkecamuk di dalam kepalanya itu, kepada orang lain. Namun suatu hari di kelas, pelajaran Bahasa Jepang, ia dan murid-murid lain diminta membuat karangan, menuliskan apa pun itu yang ingin mereka tuliskan, dan Kawakami pun menuangkan apa yang senantiasa hidup di dalam benaknya—pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan dan kematian itu. Ia sudah bersiap akan dinasihati seperti biasanya ketika karangannya dibaca guru dan si guru memanggilnya. Tetapi di luar dugaan, reaksi si guru sedikit berbeda. Si guru mengatakan bahwa ia pun, sebagai orang dewasa, tidak benar-benar tahu penjelasan atau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan dan kematian yang dituliskan Kawakami. Si guru lantas menambahkan bahwa berpikir atau mempertanyakan sesuatu adalah hal yang bagus; sesuatu yang tentunya membuat Kawakami senang.

 

Usai jam pelajaran berakhir Kawakami pergi ke toilet. Di sana ia menangis seorang diri. Ia menangis karena ia bahagia: ternyata ada juga seseorang yang mau mencoba memahaminya.

 

Pengalaman masa kecilnya ini kemudian memengaruhi Kawakami ketika ia menulis novel. Di dalam novelnya, selalu ada tokoh-tokoh yang memikirkan secara mendalam apa itu kehidupan dan apa itu kematian. Dan beberapa dari mereka adalah anak-anak; menjadikan hal tersebut semakin menarik. Makoto Shinkai, sutradara film animasi Kimi no Na wa, begitu tertarik akan hal ini dan sempat mengira Kawakami terinspirasi dari kisah hidup teman-temannya atau orang-orang di sekitarnya.

 

Di tangan Kawakami, pertanyaan tentang kehidupan dan kematian itu kadang muncul dalam wujud yang autentik—untuk tidak menyebutnya unik. Misalnya, di novel berjudul Chichi to Ran, seorang anak perempuan tengah mengamati neneknya yang terbaring sakit, dan ia membayangkan tak lama lagi neneknya itu akan mati. Dan di benaknya, begitu saja, muncul pertanyaan ini: “Nenek yang saat ini masih hidup dan Nenek setelah ia nanti mati, apakah keduanya adalah sosok yang sama?”

 

Contoh lainnya di novel Akogare. Seorang anak perempuan tinggal berdua saja dengan ayahnya. Di hadapan si ayah, ia selalu berusaha untuk tak menunjukkan rasa rindunya akan kehadiran ibunya yang telah meninggal. Ia tipe anak yang kuat dan tegar, dengan kata lain. Akan tetapi suatu hari, secara tidak sengaja, ia menemukan fakta mengejutkan tentang ayahnya, yang membuatnya tiba-tiba merasakan dorongan yang begitu kuat untuk melarikan diri, dan ia pada akhirnya melakukannya—hampir-hampir secara harfiah. Ia berlari dan berlari dan berlari. Ia berlari dan berlari dan ia berpikir ia tak lagi punya tempat untuk pulang. Di saat ia berlari itu, sesuatu di dalam dirinya menyebut-nyebut ibunya. Dan ia pun mulai berandai-andai ibunya itu masih ada bersamanya, menjalani hidup bersamanya; barangkali dengan begitu ia tetap memiliki tempat untuk pulang.

 

Anak perempuan itu masih berlari dan berlari dan perlahan-lahan cara pandang ia terhadap ketiadaan ibunya mengalami perubahan. Setelah ia menyadari bahwa di dalam keluarganya hanya ibunya yang meninggal dunia, ia jadi membayangkan di alam sana ibunya itu sendirian, benar-benar sendirian, dan rasa sedih akibat ditinggalkan yang tadi dirasakannya pun digantikan oleh rasa sedih yang lain: rasa sedih yang timbul dari mendapati ibunya itu di alam sana seorang diri, kesepian, mungkin mendambakan seseorang. Dan di benak si anak ini pun, muncul, dengan begitu terang, pikiran ini: “Tidakkah aku sebaiknya menemani Ibu di alam sana? Tidakkah aku pun sebaiknya mati saja—menyusulnya?”

 

Relasi dan interaksi antara tokoh-tokoh Kawakami dan kematian, bisa dibilang, bukanlah relasi dan interaksi yang sifatnya kolektif dan lumrah. Tentu saja, kita tetap harus memperhatikan konteksnya.

___

 

Di titik ini menarik untuk memikirkan seperti apa sebenarnya relasi dan interaksi antara kita dan kematian. Apa pula kematian itu? Apa arti kematian bagi kita? Sebagai apa dan dalam wujud apa kematian itu hadir di dalam kehidupan kita, di keseharian kita?

 

Haruki Murakami, di dalam Dunia Kafka, lewat salah satu tokohnya, mengatakan bahwa kematian adalah bagian dari kehidupan. Dari pernyataan Murakami ini ada setidaknya dua hal yang bisa diturunkan. Pertama, ketika seseorang mengalami kematian ia sesungguhnya sedang melanjutkan hidup; kehidupannya tidak berakhir di titik ia mati seperti yang mungkin dipahami banyak orang. Kedua, kematian adalah konsekuensi, adalah sesuatu yang harus ada dan dialami seseorang yang menjalani sebuah kehidupan; jika seseorang belum mengalami kematian, maka kita tidak bisa mengatakan bahwa ia telah sepenuhnya hidup.

 

Dua pemahaman tersebut tentu saja menimbulkan konsekuensi-konsekuensi lain. Misalnya, kita tak sepantasnya membenci kematian dan menolaknya mati-matian sebab itu sama saja dengan kita membenci dan menolak satu sisi dari kehidupan yang kita jalani. Perlu dicermati, kematian di sini tidak terbatas pada kematian yang menimpa kita secara langsung (baca: kita yang mati), namun bisa juga kematian yang menimpa orang-orang di sekitar kita, di kehidupan kita.

 

Natsuo Kirino menghadirkan kematian dalam wujudnya yang sedikit berbeda. Dalam Real World, misalnya, kematian adalah sebuah akhir dari kehidupan salah satu tokoh yang sekaligus sebuah awal dari kehidupan barunya, di mana ia menjalaninya sebagai sosok yang berbeda; seakan-akan ia telah terbebas dari sesuatu yang membelenggunya kuat-kuat, atau kematian itu telah membantunya bermetamorfosis menjadi sosok yang menurutnya lebih baik—memungkinkannya menjelajahi ruang-ruang yang sebelumnya tampak berada di luar jangkauannya. Kematian ini kemudian menghubungkan juga tokoh satu dengan tokoh lain, dan memantik terkuaknya sisi-sisi lain dari relasi antartokoh itu, dengan beberapa di antaranya begitu gelap begitu muram, membawa tokoh-tokoh tersebut terjerat-terperangkap dalam sebuah labirin yang lambat-laun mendekatkan mereka kepada kematian, kepada kematian-kematian lain. Wujud kematian seperti ini ditampilkan juga Kirino dalam Out dan Grotesque. Kematian adalah akhir dari sesuatu dan adalah awal dari sesuatu yang lain. Dan tentu saja, ia sesuatu yang terhubung erat ke kehidupan kita.

 

Di dalam fiksi-fiksi Kawakami sendiri, jika kita mencermati paparan di awal tadi, kematian hadir dalam wujudnya yang lain lagi. Alih-alih awal atau akhir dari sesuatu, ia lebih seperti sesuatu yang terbayang: sesuatu yang akan terjadi yang mungkin terjadi, atau sesuatu yang telah lama terjadi dan terasa seolah-olah itu tak pernah benar-benar terjadi. Kematian ini kemudian merangsang si tokoh untuk memikirkan secara mendalam apa itu kehidupan yang dijalaninya; sekaligus, ia pun membuat si tokoh lambat-laun merasakan sesuatu yang tak menyenangkan seperti kesedihan, ketakutan, kesunyian, sebagai dampak dari terus membayangnya kematian itu. Dan Kawakami sedikit nyeleneh dengan memunculkan wujud kematian yang seperti itu di diri anak-anak. Barangkali ini semacam pernyataan dari Kawakami bahwa kematian sesungguhnya telah senantiasa membayang-bayangi seseorang bahkan ketika ia masih sangat kecil; menjadi dewasa hanya memudahkannya untuk menyadari itu, untuk merasakan hadirnya kematian itu.

 

Satu hal lainnya yang bisa dicermati dari fiksi-fiksi Kawakami: kematian itu tampil sebagai arus deras yang terepresi oleh “pemandangan” yang lembut dan menyenangkan sehingga ia tidak tampak di permukaan, namun sungguhlah ia sedang aktif menunggu saat yang tepat untuk mencuat, untuk muncul, yakni saat sebuah “retakan” terjadi. Dalam hal ini kematian tak ubahnya peristiwa kelam yang terbenam dalam ingatan, yang tengah menunggu sebuah pancingan untuk lekas meluncur dan mengemuka. Dalam cerita berjudul “About Her and the Memories that Belong to Her”, misalnya. Si tokoh utama, seorang aktris yang telah tak lagi muda yang kembali ke kota tumbuh-kembangnya untuk mengikuti reuni SMA, merasa terasing dan terus bertanya-tanya kenapa ia ada di sana, kenapa ia terlibat dalam obrolan dengan orang-orang yang telah bukan lagi bagian dari hidupnya untuk sekian lama. Ia lantas bercakap-cakap dengan seseorang, perempuan juga, dan dari bercakap-cakap dengan seseorang ini tiba-tiba muncul di benaknya sebuah pertanyaan tentang kematian, bahwa jangan-jangan di antara teman-teman seangkatannya itu sudah ada yang mati dan ia tidak tahu.

 

Dan memang seorang teman seangkatannya ternyata telah mati. Dan ia, bukanlah seseorang yang tidak dikenalnya. Seseorang itu adalah teman baiknya semasa kecil, satu-satunya teman-baik-masa-kecilnya dalam ingatannya.

 

Kabar kematian teman baiknya ini lekas membuat si tokoh utama memikirkannya. Pasalnya, dari seseorang tadi ia beroleh info bahwa teman baiknya ini mati karena kelaparan. Ya, kelaparan. Ia mulai mengingat-ingat masa-masa ketika ia dan teman baiknya itu sering menghabiskan waktu bersama. Dan begitu saja, saat ia masih berada di dalam reuni itu, terjebak di antara orang-orang yang saling berinteraksi satu-sama lain dengan cara-caranya sendiri, ia mendapati sosok teman baiknya itu: seorang anak, tengah berdiri di dekat gorden, dalam keadaan telanjang. Perlahan, sebuah pemandangan mulai jelas. Dulu ketika mereka main bersama si tokoh utamalah yang meminta teman baiknya—si anak itu—untuk telanjang. Mereka berada di rumah si anak, berdua saja, dan begitulah si anak dimintanya menanggalkan segala yang ia pakai, dan si tokoh utama, barangkali didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat, mulai menyentuh-nyentuh si anak, dengan tangannya dengan bibirnya, mulai dari bakal payudara hingga alat kelamin si anak.

 

Apakah si tokoh utama kemudian merasa berdosa atau bersalah? Entahlah. Agaknya tidak. Ingatan kelam tentang teman baiknya itu, yang menetas dari kabar kematian yang didapatinya dari seseorang yang sejujurnya tak lagi ia ingat itu siapa, membuat si tokoh utama terus berpikir dan berpikir, merenung dan merenung, menggali dan terus menggali salah satu titik kusam di ingatannya—sesuatu yang telah terkubur dalam-dalam untuk waktu yang sangat lama, terlampau lama. Maka kematian, dengan demikian, adalah sebuah pintu masuk untuk mengenali kembali diri sendiri; sebuah pintu masuk yang membawamu berhadap-hadapan dengan dirimu di masa silam, yang dengan itu kau mungkin akan memahami apa-apa saja yang telah hilang dari dirimu selama ini. Dan itu berarti satu hal: selama ini, bisa jadi, kau tidak pernah benar-benar baik-baik saja.

___

 

Menarik sekali bahwa kematian rupanya bisa memiliki wujud yang berbeda-beda di tiap-tiap orang, seolah-olah ia adalah udara atau air, seolah-olah ia memang tidak memiliki wujud asal. Akan tetapi saya kira, dalam satu hal semuanya sama: kematian ada di dalam sebuah kehidupan dan ia pastilah memberikan dampak tertentu terhadap kehidupan itu.

 

Di sini mungkin ada baiknya kita kembali bertanya kepada diri kita sendiri: Apa arti kematian bagi kita? Dalam wujud apa ia hadir di kehidupan kita? Dan mungkin, ada baiknya juga kita mencoba sedikit meluaskan cara pandang kita terhadap kematian; misalnya, dengan tidak terlampau memfokuskan diri pada kematian-kematian fisik atau yang sifatnya kasatmata, namun menyertakan juga kematian-kematian lain yang sifatnya tak kasatmata. Kita bisa menyebut yang pertama sebagai kematian-di-luar-diri dan yang kedua sebagai kematian-di-dalam-diri.

 

Pada praktiknya, dua jenis kematian tersebut bisa hadir di satu ruang yang sama; barangkali beriringan, atau bersamaan. Dalam beberapa cerita Felix K. Nesi, misalnya. Di cerpen berjudul “Ponakan”, seorang anak mengalami kematian setelah ia digantung secara sengaja oleh pamannya, si tokoh utama. Tak ada keterangan yang menjelaskan bahwa si tokoh utama adalah seorang pembunuh, atau seseorang dengan tabiat buruk dan memiliki catatan buruk di kepolisian. Namun satu hal: ia kerap merasa terganggu oleh kehadiran keponakannya itu, oleh suara-suara dan tingkah-tingkahnya yang membuatnya kesulitan berkonsentrasi saat menulis. Alasan itu tentulah tidak cukup kuat untuk mendorong si tokoh utama melakukan sebuah pembunuhan. Alasan lain memang ada, yakni si tokoh utama begitu kesal mendapati keponakannya itu tak mau juga diajak pulang sementara ia sudah (sangat) lapar, namun ini pun lagi-lagi tak cukup kuat untuk mendorong si tokoh utama membunuh keponakannya itu. Maka penjelasannya kemudian hanya satu: sebuah kematian telah terjadi di dalam diri si tokoh utama sehingga ia pun tak lagi banyak berpikir dan menggantung keponakannya itu, si anak tak berdosa itu.

 

Di cerita berjudul “Sang Penulis” pun kurang lebih seperti itu. Tiga tahun yang lalu, ibu si tokoh utama mengalami kematian dengan cara yang tragis: perempuan itu diperkosa sebelum kemudian dibunuh dan saat ditemukan mayatnya dalam keadaan mengenaskan, di mana berbagai kotoran memenuhi kemaluannya dan puting buah dadanya yang kanan hampir putus dan di bagian belakang tubuhnya ada luka gores yang sangat parah. Kematian ini menyebabkan kematian lain di dalam diri si tokoh utama; sebuah kematian yang mendorongnya kuat untuk meninggalkan negeri itu di hari peringatan kematian ibunya, mengasingkan diri ke luar negeri dan minum-minum. Tak berhenti di situ, kematian ini bahkan ternyata cukup kuat untuk mendorong si tokoh utama melakukan dua pembunuhan, yang pertama terhadap istrinya dan yang kedua terhadap anjing peliharaannya. Kedua sosok tersebut, seperti halnya ibunya tadi, mengalami kematian dengan cara yang tragis.

 

Di situ terlihat ada semacam relasi antara kematian-di-dalam-diri dan kematian-di-luar-diri, antara kematian yang tak kasatmata dengan kematian yang kasat mata. Ketika kematian yang satu terjadi, kematian yang lain mengikutinya, meski untuk tiba di saat itu ada bentangan waktu yang mungkin panjang, relatif panjang. Dan ketika kematian tersebut akhirnya terjadi juga, kematian lain pun mungkin mengikutinya, lagi-lagi dengan jeda berupa bentangan waktu yang panjang. Dan dua cerita Felix itu pun menunjukkan: manusia tidak (akan) bisa melepaskan diri dari kematian(-kematian) yang pernah dialaminya—tidak dengan begitu mudahnya, setidaknya.

___

 

Saya sendiri kerap menghadirkan kematian dalam cerita-cerita yang saya tulis, namun tentu saya tidak akan membahasnya di sini, sebab aktivitas kurang kerjaan ini mestilah dilakukan oleh orang(-orang) lain—bukan saya. Akan tetapi, saya ingin sedikit menjabarkan persepsi saya tentang kematian, baik itu kematian-di-dalam-diri maupun kematian-di-luar-diri. Di mata saya, kita manusia sungguhlah begitu dekat dengan kematian, jauh lebih dekat dari yang kita duga selama ini. Setiap hari, selama kita hidup, kita berhadapan dengan kematian-kematian. Kita hanya tidak menyadarinya saja, sehingga kita tidak melihatnya sebagai kematian.

 

Contohnya saat kita makan. Katakanlah kita makan siang dengan ayam goreng. Jika pengamatan difokuskan pada kita yang sedang makan, yang sedang melahap ayam goreng tersebut, maka mungkin yang muncul adalah kehidupan, bahwa kita sedang mengisi tenaga untuk bisa bertahan hidup beberapa jam lagi. Namun bagaimana jika pengamatan difokuskan pada si potongan ayam? Masihkah yang terlihat seperti itu? Mestinya tidak. Sewajarnya, yang muncul bukanlah kehidupan melainkan kematian. Potongan ayam itu tentulah berasal dari seekor ayam yang semula hidup, yang kemudian disembelih (baca: dibunuh) dan setelah itu dicabuti bulu-bulunya (baca: ditelanjangi), lalu dipotong-potong (dimutilasi), lalu digoreng (baca: dicemplungkan ke dalam minyak panas). Ayam tersebut telah mengalami sebuah kematian dan serentetan kekejian. Dan apakah kematian tersebut kematian yang buruk? Entahlah. Bisa iya bisa juga tidak. Yang jelas, ayam itu mati, dan kita manusia yang membunuhnya. Dan untuk apa kita membunuhnya? Jelas sekali: supaya kita bisa memakannya.

 

Dengan demikian aktivitas makan siang kita itu adalah aktivitas yang begitu erat begitu lekat dengan kematian. Dan jika kita mau jujur, jujur sejujur-jujurnya, maka kita akan mengatakan bahwa dengan melahap ayam goreng tersebut sesungguhnya kita melahap potongan mayat yang telah diolah sedemikian rupa sehingga ia tidak tampak sebagai potongan mayat, dan segala kengerian yang semula menyertainya pun lenyap. Lenyap dan benar-benar lenyap. Dan apakah kita merasa berdosa atau bersalah, telah melahap potongan mayat tersebut, telah mencabik-cabiknya dengan jari-jemari kita, dengan taring-taring kita? Jawabannya adalah tidak. Pastilah tidak. Itu karena kita sudah terlampau terbiasa melakukannya. Dari sejak pertama kali melakukannya ketika kita masih kecil, tidak pernah ada seseorang yang memberitahu kita bahwa yang kita makan itu sesungguhnya adalah potongan mayat dan potongan mayat ini diperoleh dari kematian sesosok makhluk hidup yang tak berdosa—hanya agar kita bisa bertahan hidup beberapa jam lagi.

 

Kita pun sungguhlah begitu dekat dengan kematian-di-dalam-diri. Lebih tepatnya, kematian-di-dalam-diri begitu sering terjadi dan kita alami setiap hari sehingga tak mungkin lagi kita memisahkannya dari diri kita, dari hidup kita. Setiap kali kita mendapati suatu hal buruk terjadi pada seseorang dan kita menutup mata, setiap kali itu juga sebuah kematian-di-dalam-diri terjadi. Dan kematian-kematian ini tidak hilang dengan berlalunya waktu; justru mengendap, menumpuk, terus menumpuk, membangun sebuah struktur yang besar dengan sendirinya. Dan kehidupan ini sialnya menghadirkan kepada kita begitu banyak hal buruk dan begitu banyak orang yang menderita karenanya. Semakin sering kita menutup mata semakin banyak pula kematian-di-dalam-diri itu, semakin tebal pula endapan itu, dan semakin ia berpeluang membuat kita begitu dekat dengan kematian-di-luar-diri—entah itu yang menimpa orang lain atau kita sendiri. Pertanyaannya: apakah kita menginginkan itu?

 

Katakanlah jawabannya adalah tidak. Tidak, kita sama sekali tidak menginginkannya. Maka akan ada pertanyaan lain yang kita hadapi: bisakah kita mencegahnya? Untuk yang satu ini pun, sayangnya, jawabannya adalah tidak.

 

Di titik ini apa yang dikemukakan Haruki Murakami tadi menjadi lebih masuk akal lagi. Kematian adalah bagian dari kehidupan. Bukan saja itu berarti seseorang tengah melanjutkan dan menyempurnakan hidup dengan mengalami kematian, kematian itu sendiri memang terjadi dan kita hadapi di kehidupan kita sehari-hari, menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, hanya saja kita tak menyadarinya, hanya saja kita memilih untuk tak menyadarinya, untuk tak akan pernah menyadarinya.

 

Mengapa kita menyikapinya dengan cara seperti itu? Barangkali karena kita berpikir itu akan memudahkan kita dalam melanjutkan hidup. Menghindari berpikir, menghindari memikirkan sesuatu secara intens dan mendalam, telah kita lihat sebagai sebuah langkah cerdik untuk menjalani hidup yang “baik”, hidup yang “normal’, hidup yang “sehat”. Padahal sebagaimana dikatakan guru Bahasa Jepang Mieko Kawakami tadi, terus berpikir atau memikirkan sesuatu secara mendalam adalah hal yang baik. Dan Kawakami, juga penulis-penulis lain yang namanya telah disebut di sepanjang tulisan ini, telah menunjukkan kepada kita bahwa memikirkan sesuatu secara mendalam akan membantu seseorang memahami dengan lebih baik seperti apa itu dirinya dan seperti apa itu kehidupan yang dijalaninya, dan itu mestilah sesuatu yang baik—bahkan berharga.

 

Sebab seperti halnya kehidupan, kematian adalah sesuatu yang terhubung dengan kita, bisa jadi dengan relasi yang jauh lebih kuat dan jauh lebih pekat dari yang kita duga. Bukanlah sebuah kesalahan memikirkannya secara mendalam, sewaktu-waktu. Justru kita harus mengenalinya, supaya kita bisa memahaminya, supaya kita menjadi tahu dengan cara seperti apa kita sebaiknya menyikapinya. Menurut saya begitu.(*)

 

—Bogor, 11-12 Februari 2018

 

Profil Penulis

Ardy Kresna Crenata
Ardy Kresna Crenata
Tinggal dan bekerja di Bogor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *